Salah satu corak kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah dibukanya pintu tobat selama tetap hidup di dunia. Tidak ada manusia yang terbebas dari dosa dan kesalahan. Setiap anak Adam pasti pernah tergelincir dalam dosa dan maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Oleh lantaran itu, Islam mengajarkan agar seorang mukmin senantiasa kembali kepada Allah dengan memperbanyak istigfar dan tobat.
Namun, di antara perangkap terbesar setan adalah menanamkan angan-angan panjang dalam hati manusia. Setan membikin seseorang merasa tetap mempunyai waktu yang panjang sehingga dia menunda tobat dari hari ke hari. Bisikan seperti, “Nanti saja tobatnya ketika sudah tua”, “Masih ada waktu untuk memperbaiki diri”, alias “Aku bakal bertobat setelah urusanku selesai”, merupakan tipu daya yang telah menyesatkan banyak manusia.
Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal bakal menjemputnya. Berapa banyak orang yang merencanakan masa depan, tetapi kematian datang lebih dulu sebelum dia sempat memperbaiki hubungannya dengan Allah. Karena itulah, para ustadz salaf sangat menekankan pentingnya segera bertobat dan tidak menunda-nundanya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31).
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
فليس لأحدٍ أن يظنَّ استغناءَه عن التوبةِ إلى اللهِ والاستغفارِ من الذنوبِ، بل كلُّ أحدٍ محتاجٌ إلى ذلك دائمًا
“Tidak ada seorang pun yang dapat merasa cukup tanpa tobat kepada Allah dan istigfar dari dosa-dosanya. Sebab, setiap hamba senantiasa memerlukan tobat kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya setiap waktu.” (Majmu‘ Al-Fatawa, 11: 255)
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beragama untuk bertobat kepada-Nya lantaran tidak ada seorang pun yang terbebas dari kekurangan dan kesalahan. Bahkan orang yang banyak beragama sekalipun tetap memerlukan tobat untuk menutupi kekurangan dalam amalnya.
Setiap manusia pasti pernah terjatuh dalam dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499; dinilai hasan oleh Syekh Al-Albani)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah lantaran dia tidak pernah melakukan salah sama sekali, melainkan lantaran dia segera kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla setelah melakukan kesalahan tersebut. Sebaliknya, orang yang terus-menerus menunda tobat berada dalam ancaman besar. Dosa yang dibiarkan bakal semakin mengakar dalam hati hingga menjadi kebiasaan yang susah ditinggalkan.
Manusia terbaik dan paling mulia saja selalu beristigfar kepada-Nya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia paling mulia dan telah mendapatkan pembebasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas dosa-dosanya yang telah lampau maupun yang bakal datang. Namun demikian, beliau tetap memperbanyak istigfar dan tobat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, sungguh saya beristigfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Al-Bukhari no. 6307)
Dalam riwayat yang lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّى أَتُوبُ فِى الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia. Beristigfarlah kepada Allah lantaran saya selalu beristigfar (bertobat) kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702)
Para ustadz menjelaskan bahwa istigfar yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan lantaran beliau melakukan dosa sebagaimana manusia biasa, melainkan sebagai corak kesempurnaan penghambaan, rasa syukur, dan ketundukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim berkata,
وَاسْتِغْفَارُهُ صلى الله عليه وسلم لإِظْهَار الْعُبُودِيَّةِ وَالِافْتِقَارِ وَمُلَازَمَةِ الْخُشُوعِ وَشُكْرًا لِمَا أَوْلَاهُ
“Istigfarnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dilakukan untuk menampakkan penghambaan diri, menunjukkan kebutuhannya kepada Allah, senantiasa menjaga kekhusyukan, dan sebagai corak syukur atas beragam nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.”
Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang maksum saja selalu memperbanyak tobat dan istigfar setiap hari, maka manusia biasa yang penuh kekurangan tentu lebih memerlukan tobat dan istigfar.
Bahaya menunda tobat
Pertama, kematian yang datang tanpa peringatan
Yang menjadi karena utama seseorang tidak boleh menunda tobat adalah lantaran Allah rahasiakan waktu kematiannya. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana dia bakal mati.” (QS. Luqman: 34)
Banyak orang mau bertobat pada masa tuanya. Namun, siapa yang menjamin bahwa seseorang bakal mencapai usia tersebut? Kuburan dipenuhi oleh orang tua, orang dewasa, apalagi anak-anak yang tetap mini tidak pernah menyangka bahwa hidup mereka bakal berhujung secepat itu.
Hal ini menjadi peringatan yang sangat nyata bagi para pendosa dan pelaku maksiat untuk segera bertobat sebelum ajal menjemput.
Kedua, hati yang menjadi keras lantaran dosa
Maksiat dan dosa yang dilakukan terus-menerus bakal mengeraskan hati. Setiap dosa bakal meninggalkan noda hitam pada hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ
“Ketika seorang hamba melakukan dosa, bakal dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Ketika dia meninggalkannya, memohon ampun, dan bertobat darinya, hatinya bakal dibersihkan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3334; dihasankan Al-Albani)
Apabila dosa terus dilakukan tanpa bertobat, titik-titik tersebut bakal menutupi hati sehingga seseorang menjadi keras hatinya, semakin susah menerima nasihat dan pertunjuk.
Ketiga, hilangnya kepekaan terhadap dosa
Salah satu balasan yang Allah Ta’ala timpakan bagi pelaku dosa dan maksiat adalah hilangnya rasa bersalah. Awalnya, seseorang merasa berdosa ketika bermaksiat; namun setelah berulang kali melakukannya, dia menjadi terbiasa dan menganggap dosa sebagai perihal biasa. Ini sangat rawan lantaran menunjukkan semakin jauhnya dia dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Keempat, tidak selalu ada kesempatan bertobat
Memang pintu tobat terbuka lebar bagi para pelaku dosa dan maksiat, tetapi tidak bakal terbuka selamanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537; hasan)
Luasnya rahmat Allah bagi orang yang bertobat
Meskipun dosa seorang hamba sangatlah banyak, namun rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala jauh lebih luas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang melakukan dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang melakukan dosa di malam hari bertobat.” (HR. Muslim no. 2759)
Hadis ini menunjukkan besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para hamba-Nya serta dorongan agar mereka tidak berputus asa dari rahmat-Nya.
Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala berbahagia dengan tobat seorang hamba melampaui kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang lenyap di tengah padang pasir. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا، ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ، أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ
“Sungguh Allah lebih berbahagia dengan tobat hamba-Nya ketika dia bertobat kepada-Nya daripada salah seorang di antara kalian yang berada di padang pasir berbareng untanya yang membawa makanan dan minumannya, lampau unta itu lepas darinya. Ia pun putus asa mendapatkannya. Kemudian dia berebahan di bawah naungan pohon dalam keadaan putus asa. Tiba-tiba, untanya berdiri di dekatnya. Maka dia memegang tali kekangnya dan berbicara lantaran sangat gembira, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan saya adalah Rabb-Mu.’ Ia keliru lantaran sangat gembira.” (HR. Muslim no. 2747)
[Bersambung]
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·