Manusia diciptakan dalam keadaan penuh kesulitan. Allah ﷻ berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam keadaan susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dinukilkan keterangan Al-Hasan rahimahullah pada ayat ini,
قَالَ: يُكَابِدُ مضايق الدنيا وشدائد الآخرة
“Maksudnya: Dia (manusia) menanggung kesempitan bumi dan kesulitan akhirat.”
Urusan manusia meliputi dua kampung, ialah kampung bumi dan juga kampung akhirat. Keduanya mengandung kesulitan-kesulitan. Dari proses tumbuh kembangnya, insan manusia kudu melewati proses unsur cair, menjadi padatan, hingga menjadi manusia sempurna. Ketika dilahirkan oleh ibu, kita pun dengan penuh kesulitan. Bertumbuh menjadi manusia dewasa pun dengan beragam kesulitan. Tidak hanya dalam mengusahakan keberhasilan di dunia, upaya itu pun bakal diaudit dan dipertanggungjawabkan untuk status kita di akhirat.
Masuk surga itu kudu dengan kesulitan
Allah ﷻ berfirman,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ
“Apakah Anda mengira bahwa Anda bakal masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu?” (QS. Al-Baqarah: 214)
Allah ﷻ berjanji bakal menguji siapapun yang berkuasa menjadi mahir surga. Artinya, kesulitan dalam meraih surga itu adalah keniscayaan. Maha betul Allah ﷻ dengan segala firman-Nya, dan Dia tidak mungkin mengingkari sumpah-Nya. Allah ﷻ berfirman,
الٓمٓ (1) أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ (3)ء
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang betul dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut: 1-3)
Penciptaan takdir kesulitan bagi manusia adalah langkah Allah ﷻ untuk menjadi jalan menuju surga Allah ﷻ. Sehingga surga dapat diraih tidak hanya dengan merasakan nikmat iman, tetapi juga kudu melalui kesulitan mempertahankan iman.
Baca juga: Bersabarlah Sebentar Saja
Apa corak ujian menuju surga?
Allah ﷻ menginformasikan bahwa keniscayaan ini sudah bertindak pada orang sebelum kita, sehingga kita bisa mengetahui apa saja corak ujian tersebut.
Dalam lanjutan firman Allah ﷻ,
مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan beragam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beragama bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu banget dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Kesulitan itu meliputi: penyakit, rasa sakitnya, kesengsaraan, dan bencana. Tidak hanya itu, dia termasuk kemiskinan (الْبَأْسَاءُ). Ujian itu juga berupa rasa takut yang luar biasa (زُلْزِلُوا) terhadap musuh. Sebagaimana yang telah berlalu bahwa para pendahulu mengalami siksaan yang banget berat ketika mempertahankan imannya. Ada yang sampai digergaji kepalanya, disisir dagingnya hingga terlepas dari tulangnya, termasuk ketakutan yang muncul ketika bertempur menghadapi musuh yang luar biasa dalam rangka menegakkan kalimat tauhid–sebagaimana yang terjadi di Perang Ahzab.
Dalam ayat ini, diisyaratkan pula bahwa ujian itu terus berjalan hingga pada puncak kebuntuan upaya manusia. Sehingga pilihan yang ada hanya di antara lanjut berjuang alias pasrah putus asa. Allah ﷻ berfirman,
حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ
“Sampai Rasul dan orang-orang beragama yang bersamanya berkata, ‘kapan datangnya pertolongan Allah?’”
Ini menunjukkan bahwa rentang ujian itu sangatlah panjang. Demikianlah sifat kesulitan dan ujian kehidupan yang dapat mengantarkan ke surga. Maka, sebagai seorang pejuang, jangan kalah dengan beratnya ujian dan panjangnya waktu. Justru pertolongan Allah ﷻ datang ketika puncak keputusasaan atas ikhtiar kita terjadi. Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan keterangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam tafsirnya,
وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ، أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ
“Demi Allah, Allah bakal menyempurnakan urusan ini (agama ini) hingga seorang pengendara dapat melakukan perjalanan dari Shan’a ke Hadramaut tanpa takut selain kepada Allah, alias serigala yang menakut-nakuti dombanya. Akan tetapi, kalian terburu-buru (ingin segera memandang kemenangan).” (HR. Bukhari no. 3612)
Apakah tujuan kesulitan itu?
Semua kesulitan yang disebutkan itu adalah ujian iman, yang memisahkan manusia beragama dan tidak beriman. Tujuannya agar menjadi jalan bagi orang beragama untuk mendapatkan karunia surga-Nya. Selain itu, juga menjadi jalan bagi orang yang beralih untuk bisa kembali kepada-Nya. Allah ﷻ berfirman,
وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَٰلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan Kami pecahkan mereka di bumi ini menjadi beberapa golongan, di antaranya ada orang-orang yang saleh dan ada yang tidak demikian. Dan Kami uji mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raaf: 168)
Dalam pembuatan takdir keburukan bagi manusia, Allah ﷻ sejatinya sedang mewujudkan rahmat-Nya kepada manusia. Mereka yang lalai dari Allah ﷻ, tetap diingatkan oleh-Nya. Meskipun kudu dengan langkah yang keras, lantaran mungkin langkah yang lembut sejatinya sudah diberikan, tetapi tidak dihiraukan. Maka perhatikanlah kasih sayang Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Kepada mereka yang beralih dari-Nya, Dia tetap memanggil hamba tersebut untuk kembali.
Pertolongan Allah menuju surga-Nya amatlah dekat
Keindahan firman Allah ﷻ tidak hanya sekadar susunan kalimatnya, tetapi pada dampaknya yang secara psikologis pun bisa menenangkan. Ketika Allah ﷻ mengabarkan bahwa siapapun yang menginginkan surga, pasti bakal diberikan ujian, Allah ﷻ tidak membiarkan hamba-Nya dalam keadaan putus asa. Allah ﷻ berikan info bahwasanya pertolongan Allah ﷻ sangatlah dekat. Di ujung ayat QS. Al-Baqarah: 214, Allah ﷻ berfirman,
إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Sesungguhnya pertolongan Allah ﷻ sangatlah dekat.”
Firman Allah ﷻ ini bisa kita pahami lebih komprehensif dengan ayat lainnya,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya berbareng kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya berbareng kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5-6)
Allah ﷻ pada ayat ini menggunakan kata berbareng (مع) yang menunjukkan momentum kemudahan itu terjadi lekat dengan kesulitan yang ada. Bahkan jika lebih dalam lagi, kata kesulitan (العسر) menggunakan corak ma’rifah yang berarti spesifik satu. Sedangkan pada kata kemudahan (يسرا), digunakan corak nakirah yang berarti general. Ketika kata ma’rifah diulang, maka dia menunjukkan pada makna unsur yang sama. Adapun ketika kata nakirah diulang, maka dia menunjukkan pada makna unsur yang berbeda. Kesimpulannya, minimal satu kesulitan itu dibersamai dengan dua solusi.
Inilah berita ceria bagi siapapun yang nyaris putus asa dalam menjaga diri dari maksiat dan berjuang dalam ketaatan. Kesulitan bumi yang membikin seseorang mau memberontak dari tujuan penciptaannya, dapat mengingat kembali bahwa urusan bumi ini asalnya bisa menjadi mudah.
Sejatinya, ujian kehidupan itu sedikit
Allah ﷻ berfirman,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh bakal Kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah buletin ceria kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan tentang kata bi syaiin (بِشَيْءٍ),
أَيْ: بِقَلِيلٍ مِنْ ذَلِكَ
“Maksudnya: dengan kadar sedikit dari perihal itu.”
Apa yang menjadi ujian dalam rupa ketakutan, kelaparan, serta kurangnya harta, sejatinya itu hanyalah perkara mini dan sedikit.
Justru dengan segala ujian, maka bakal semakin besar kesempatan kita untuk meraih surga Allah ﷻ.
Oleh lantaran itu, kesempatan ini kudu dimanfaatkan dengan baik. Jangan disia-siakan apalagi justru membikin kita semakin terjerembab. Yakni ketika kita menyikapi ujian kehidupan dengan langkah yang salah, menentang takdir Allah ﷻ apalagi menjauhi ibadah kepada-Nya. Justru ini menjadi perwujudan takdir bahwa kita, na’udzubillah, memang layak masuk neraka.
Inilah arena menuju surga Allah ﷻ
Ingatlah bahwa panjangnya ujian dan kesulitan di dunia, semuanya menjadi arena penghapusan dosa dan memanen pahala!
Ketika Anda dicaci-maki saat memperjuangkan nilai agama, umpamakanlah Anda sedang dibayar satu kilo emas per jam Anda dihina, serta seluruh utang-utang Anda dilunasi. Masihkah Anda kecewa dan marah dengan keadaan itu? Tentu ganjaran Allah ﷻ lebih dari sekadar satu kilo emas per jamnya.
Ketika Anda capek dan mengantuk saat hendak salat malam, ingatlah perihal ini. Terus demikian dapat kita analogikan kepada beragam keadaan dan kesulitan kehidupan di dunia.
Namun, jika kita kandas dalam menyikapi ujian ini dengan baik, justru kita bakal terjerembab ke dalam neraka Allah ﷻ. Wana’udzubillah. Oleh lantaran itu, krusial bagi kita untuk memohon angan perlindungan dari musibah yang lebih besar dari musibah itu, ialah musibah dalam kepercayaan kita sendiri.
اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُولُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مُصِيبَاتِ الدُّنْيَا،
“ALLAAHUMMAQSIM LANAA MIN KHASYYATIKA MAA YAHUULU BAINANAA WA BAINA MA’AASHIIKA; WA MIN THAA’ATIKA MAA TUBALLIGHUNAA BIHI JANNATAKA; WA MINAL YAQIINI MAA TUHAWWINU BIHI ‘ALAINAA MUSHIIBAATID DUNYAA;
Ya Allah, curahkanlah kepada kepada kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bermaksiat kepada-Mu, dan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami kepada surga-Mu, dan curahkanlah kepercayaan yang meringankan musibah kami di dunia.
وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا
WA MATTI’NAA BIASMAAINAA WA ABSHAARINAA WA QUWWATINAA MAA AHYAITANAA; WAJ’ALHUL WAARITSA MINNAA WAJ’Al TSA`RANAA ‘ALAA MAN ZHALAMANAA WANSHURNAA ‘ALAA MAN ‘AADAANAA;
Jadikanlah kami bisa menikmati pendengaran kami, penglihatan kami, serta kekuatan kami selama kami hidup, dan jadikan itu sebagai warisan (sampai akhir hayat) kami. Dan jadikan pembalasan atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami melawan orang-orang yang memusuhi kami.
وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا
WALAA TAJ’Al MUSHIIBATANAA FII DIININAA WA LAA TAJ’ALID DUNYAA AKBARA HAMMINAA WA LAA MABLAGHA ‘ILMINAA; WA LAA TUSALLITH ‘ALAINAA MAN LAA YARHAMUNAA.”
Dan janganlah Engkau jadikan musibah kami pada kepercayaan kami, dan jangan Engkau jadikan bumi sebagai angan (ambisi) kami yang terbesar, serta pengetahuan kami yang tertinggi. Dan jangan Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.” (HR. Tirmidzi no. 3502. Dinilai sahih oleh Al-Albani)
Baca juga: Berbagai Jalan Menuju Surga
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
Referensi:
Tafsir Al-Quran Al-Azhim, karya Imam Ibnu Katsir.
Taisir Karimir Rahman, karya Imam As-Sa’di.
Tafsir Al-Qurthubi.