Mayoritas Penduduk Surga Adalah Orang Miskin

Jan 16, 2026 02:23 PM - 4 bulan yang lalu 127595

Kincai Media , JAKARTA -- Nabi Muhammad SAW bersabda. Kala itu, beliau belum lama telah melakukan Isra Mi'raj. "Aku telah meninjau surga dan saya dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum miskin," demikian sabda beliau.

Beranjak dari sabda sahih di atas, barangkali bakal muncul pertanyaan. Benarkah Islam memandang kemiskinan sebagai suatu kelebihan? Kekayaan adalah penghalang seseorang masuk surga?

Untuk menelaahnya, pertama-tama kita kaji dulu arti kekayaan dan kemiskinan menurut Islam. Menurut kepercayaan ini, kekayaan adalah rahmat Allah. Oleh lantaran itu, memohon rezeki pun diajarkan oleh Rasulullah SAW. Bahkan, angan beliau itu dibaca acapkali setiap kita duduk di antara dua sujud dalam shalat. Hanya saja, kekayaan menjadi keistimewaan ketika diamalkan di jalan Allah.

Adapun kemiskinan, menurut Islam, adalah ujian terhadap ketabahan dan kesabaran seorang Mukmin. Kemiskinan bukanlah keistimewaan yang secara otomatis menjadikan dia masuk surga. Kesabaran, ketabahan, dan ketakwaannya--itulah yang mesti diperhatikan. Begitu pula dengan beragam kebaikan saleh lainnya.

Karena itu, "kaum miskin" penunggu surga dalam sabda tersebut kudu dimaknai sebagai orang-orang miskin yang saleh dan bertakwa. Bukan kemiskinan semata.

Sebab, kemiskinan saja kadang malah merupakan bala yang bisa membawa seseorang kepada kekufuran. Inilah maksud sabda Nabi SAW, "Kemiskinan hampir-hampir membawa seseorang kepada kekufuran."

Syekh Manshur Ali Nasar, dalam kitabnya, Al-Taaj, menyatakan, keistimewaan orang-orang miskin (yang banyak masuk surga) itu bukan lantaran kemiskinan, tapi lantaran kesabaran, takwa, dan kebaikan saleh mereka yang (biasanya) menyebabkan mereka miskin.

Mereka miskin bukan lantaran kurang usaha, tetapi lantaran sentiasa mengorbankan banyak harta-benda di jalan Allah, lantaran mereka lebih mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan sendiri.

Jadi, tidak betul bahwa Islam mengajarkan umatnya agar kudu miskin. Bahkan, jika ditelisik lebih dalam, kepercayaan ini menghendaki kaum Muslimin dapat semaksimal mungkin memanfaatkan potensi dan kesempatan yang ada untuk kemaslahatan, termasuk dalam perihal ekonomi.

Perhatikanlah Rukun Islam. Dari kelima ketentuan di dalamnya, hanya mengucapkan dua kalimat syahadat yang tidak memerlukan support finansial. Adapun empat perihal lainnya, memerlukan adanya biaya alias harta.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda. “Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.” Maknanya, Islam menganjurkan umatnya agar mengejar kemapanan finansial, agar lebih bisa memberikan support kepada mereka yang membutuhkan.

Selengkapnya