Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi: Biografi Lengkap (Bag. 1)

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 6 menit 22671x dilihat
Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi: Biografi Lengkap (Bag. 1)

Bagikan Postingan

Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi: Nama dan Nasab

Beliau berjulukan Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir bin Muhammad bin Ahmad Nuh bin Muhammad bin Sayyidi Ahmad bin al-Mukhtar.

Beliau termasuk keturunan Ath-Thalib Aubak, yang berasal dari keturunan Karir bin Al-Muwafi bin Ya‘qub bin Jakin Al-Abar. Jakin Al-Abar adalah leluhur kabilah yang dikenal dengan nama Al-Jakniyyin (kabilah) Jakni. Kabilah tersebut nasabnya bersambung hingga kepada Himyar.

Kelahiran dan masa pertumbuhannya

Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) lahir pada tahun 1325 H di sebuah tempat bernama Tanbah, yang termasuk kawasan Kifa di Mauritania.

Sejak kecil beliau hidup sebagai anak yatim karena ayahnya wafat ketika beliau masih kecil; pada waktu itu ia baru belajar membaca Juz ‘Amma dari Al-Qur’an. Setelah wafatnya ayah, beliau diasuh oleh keluarga ibu (para paman dan kerabat dekat), karena ibunya adalah sepupu ayahnya.

Lingkungan tempat tumbuhnya sarat dengan suasana ilmiah. Daerah Syinqith (Mauritania) pada masa itu memang dikenal sebagai pusat ulama, kebudayaan bahasa, dan keberanian para ksatria.

Ayahnya meninggalkan warisan yang cukup berupa harta dan ternak, dan beliau adalah satu-satunya anak yang ditinggalkan.

Syekh (rahimahullah) pernah menuturkan kisah masa kecilnya,

كنتُ أَمِيلُ إلى اللَّعِبِ أكثرَ من الدراسةِ، حتى حفظتُ الحروفَ الهجائيةَ، وبدؤوا يُقْرِئُونَنِي إياها بالحركائِ (ب فتحة بَا، ب كسرة بِي، ب ضمة بُو) وهكذا.. فقلتُ لهم: أَوَكُلُّ الحروفِ هكذا؟ قالوا: نَعَمْ، فقلتُ: كفى، إني أستطيعُ قِرَاءَتَهَا كُلَّهَا على هذه الطريقةِ؛ كي يتركوني، فقالوا: اقْرَأْهَا. فقرأتُ بثلاثةِ حروفٍ أو أربعةٍ، وتنقَّلْتُ إلى آخِرِهَا بهذه الطريقةِ، فعرفوا أني فهمتُ قَاعِدَتَها، واكتفوا مني بذلك، وتركوني، ومن ثم حُبِّبَتْ إِلَيَّ القراءةُ

“Aku dulu lebih suka bermain daripada belajar. Sampai akhirnya saya hafal huruf-huruf hijaiyah. Lalu mereka mulai mengajariku huruf dengan harakat (ba fathah: ba, ba kasrah: bi, ba dhammah: bu), dan seterusnya.

Aku lampau bertanya kepada mereka, ‘Apakah semua huruf seperti ini?’

Mereka menjawab, ‘Ya.’

Aku berkata, ‘Kalau begitu cukup, saya bisa membacanya semua dengan langkah ini,’ agar mereka membiarkanku.

Mereka berkata, ‘Coba baca.’

Lalu saya membaca tiga alias empat huruf, kemudian meneruskannya sampai akhir dengan langkah yang sama. Mereka pun tahu bahwa saya sudah memahami kaidahnya. Maka mereka merasa cukup dengan itu dan membiarkanku. Sejak saat itu, membaca menjadi sesuatu yang saya sukai.”

Ketika beliau berumur sepuluh tahun, beliau telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di bawah bimbingan pamannya, Abdullah bin Muhammad al-Mukhtar bin Ibrahim bin Ahmad Nuh.

Perjalanan menuntut ilmu

Usai menamatkan hafalan Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun, Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi mempelajari tata penulisan Mushaf Utsmani dari sepupunya, Sidi Muhammad bin Ahmad bin Muhammad al-Mukhtar. Di samping itu beliau menggali ilmu tajwid dan qira’ah Imam Nafi’ melalui riwayat Warsh (jalur Abu Ya‘qub al-Azraq) dan riwayat Qalun (jalur Abu Nasyith). Pada sekitar usia enam belas tahun beliau sudah memiliki sanad bacaan yang bersambung sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain qira’ah, beliau mempelajari kitab-kitab ringkas fikih Madzhab Maliki, antara lain nazham karya Ibnu ‘Asyir. Di rumah keluarga ibu, beliau juga mendapatkan pengajaran sastra dan dasar-dasar nahwu dari istri pamannya, termasuk pembelajaran Al-Ajurumiyah dan latihan-latihannya. Dari situ pula beliau mempelajari garis keturunan bangsa Arab, sejarah mereka, sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta berbagai nazham tentang peperangan dan nasab Arab beserta syarahnya.

Selanjutnya beliau memperdalam pelbagai disiplin dengan guru-guru lain: fikih melalui Mukhtashar Khalil, nahwu lewat Alfiyah Ibnu Malik, serta mempelajari sharaf, ushul fikih, balaghah, hadis, dan tafsir. Untuk manthiq dan etika berdebat ilmiah beliau banyak belajar secara mandiri melalui bacaan dan latihan.

Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) mengisahkan awal pengembaraan ilmunya:

وَلَمَّا حَفِظْتُ القرآنَ، وأخذتُ الرسمَ العثمانيَّ، وتفوَّقْتُ فيه على الأقرانِ، عُنِيَتْ بي والدآ وأخوالي أَشَدَّ عنايةٍ، وعزموا على توجيهي للدراسةِ في بقيةِ الفنونِ، فجهَّزَتْنِي والدآ بِجَمَلَيْ، أحدهما عليه مَرْكَبِي وَكُتُبِي، والآخَرُ عليه نَفَقَتِي وَزَادِي، وصحبني خادمٌ ومعه عدةُ بقراتٍ، وقد هَيَّأَتْ لي مركبي كأحسنِ ما يكونُ من مركبٍ، وملابسَ كأحسنِ ما تكونُ، فَرَحًا بي، وَتَرْغِيبًا لي فَي طلبِ العلمِ، وهكذا سَلَكْتُ سبيلَ الطلبِ والتحصيلِ

“Ketika saya sudah hafal Al-Qur’an, mempelajari tulisan Utsmani, dan lebih unggul dari teman-teman sebayaku, ibuku dan para pamanku sangat memperhatikanku. Mereka berkeinginan untuk mengarahkanku agar melanjutkan belajar dalam beragam bagian pengetahuan lainnya.

Ibuku menyiapkanku dengan dua ekor unta. Satu unta membawa tungganganku dan kitab-kitabku, dan satu lagi membawa bekal dan perbekalanku. Seorang pembantu ikut bersamaku, dengan beberapa ekor sapi. Ibuku juga menyiapkan tungganganku sebaik mungkin, dan memberiku busana yang bagus, lantaran dia senang kepadaku dan mau mendorongku agar semangat menuntut ilmu. Demikianlah saya mulai menempuh jalan menuntut dan mencari ilmu.”

Semangat beliau dalam menuntut ilmu

Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) dikenal memiliki kegigihan tinggi dalam belajar. Beliau tidak pernah membiarkan satu persoalan ilmiah berlalu tanpa dipahami hingga tuntas, meskipun memerlukan tenaga dan waktu yang panjang.

Beliau menceritakan pengalaman berikut,

جِئْتُ للشيخِ في قراءتِي عليه، فَشَرَحَ لي كما كان يشرحُ، ولكنه لم يَشْفِ ما في نفسي على ما تَعَوَّدْتُ، ولم يَرْوِ لي ظَمَئِي، وقمتُ من عنده وأنا أَجِدُنِي فَي حاجةٍ إلى إزالةِ بعضِ اللبسِ، وإيضاحِ بعضِ المُشْكِلِ، وكان الوقتُ ظُهْرًا، فأخذتُ الكتبَ والمراجعَ، فَطَالَعْتُ حتى العرِ، فلم أَفْرَغْ من حاجتِي، فعاودتُ حتى المغربِ، فلم أَنْئَهِ أيضًا، فَأَوْقَدَ لِي خَادِمي أعوادًا من الحطبِ أقرأُ على ضَوْئِهَا، كعادةِ الطلابِ، وواصلتُ المطالعةَ، وأتناولُ الشاي الأخضرَ كُلَّمَا مَلِلْتُ أو كَسِلْتُ، والخادمُ بجواري يوقدُ الضوءَ، حتى انبثقَ الفجرُ وأنا فَ A;نلسَ لم أَقُمْ إلا لصلاةِ فرضٍ أو تناولِ طعامٍ، وإلى أن ارتفعَ النهارُ وقد فَرَغْتُ من درسي وزالَ عني لَبْسِي، ووجدتُ هذا المحلَّ من الدرسِ كغيره في الوضوحِ والفَهْمِ

“Aku datang kepada guruku untuk belajar seperti biasa. Beliau menjelaskan pelajaran sebagaimana biasanya, tetapi kali ini penjelasannya belum betul-betul membikin hatiku puas seperti yang saya harapkan. Aku merasa tetap ada bagian yang belum jelas dan belum sepenuhnya kupahami.

Aku pulang pada waktu zuhur dalam keadaan tetap merasa perlu meluruskan beberapa perihal yang belum jelas. Lalu saya mengambil kitab-kitab dan kitab rujukan, kemudian membaca dan meneliti sampai waktu asar, tetapi belum juga selesai. Aku lanjutkan lagi sampai magrib, namun tetap belum tuntas.

Kemudian pembantuku menyalakan kayu bakar agar saya bisa membaca dengan cahayanya, sebagaimana kebiasaan para pelajar saat itu. Aku terus belajar, dan setiap kali merasa capek alias mengantuk, saya minum teh hijau. Pembantuku tetap di sampingku menyalakan api sebagai penerangan.

Aku terus belajar hingga fajar menyingsing. Aku tidak bangkit dari tempat dudukku selain untuk salat wajib alias makan. Hingga pagi hari betul-betul terang, akhirnya saya selesai mempelajari bagian tersebut. Semua kebingungan hilang, dan bagian pelajaran itu menjadi jelas bagiku sebagaimana pelajaran lainnya.”

Keluasan pengetahuan dan wawasannya

Allah menganugerahkan kepada Syekh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi (rahimahullah) kecerdasan luar biasa, daya ingat tajam, serta semangat tinggi yang beliau manfaatkan untuk memperdalam banyak cabang ilmu: akidah, tafsir, hadis, ushul fikih, dan bahasa Arab.

Saat beliau membahas satu bidang ilmu, paparan beliau begitu mendalam sehingga pendengar seringkali mengira ia menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk fokus pada topik itu saja—padahal beliau menguasai banyak bidang lainnya secara luas.

Bukti keluasan ilmunya dapat dilihat pada karya dan rekaman pelajaran beliau, termasuk kitab Ar-Rihlah serta ceramah dan debate ilmiah yang direkam saat beliau mengajar di Madinah maupun ketika memimpin delegasi universitas ke sejumlah negara Afrika.

Beliau pernah menyatakan dengan tegas,

لاَ توجدُ آيةٌ فيا القرآنِ إلا دَرَسْتُهَا عَلَى حِدَةٍ

“Tidak ada satu ayat pun dalam Al-Qur’an selain saya telah mempelajarinya secara unik (mendalam).”

Beliau juga menegaskan,

كُلُّ آيَةٍ قال فيها الأَقْدَمُونَ شيئًا فهو عِنْدِي

“Setiap ayat yang para ustadz terdahulu telah berbincang tentangnya, maka pembahasan itu ada padaku (aku mengetahuinya).”

Suatu ketika seseorang menyebut bahwa Sulaiman al-Jamal (penulis Hasyiyah al-Jamal atas Tafsir al-Jalalain) tidak mengemukakan suatu pembahasan. Beliau menjawab dengan pasti bahwa dirinya telah menelaah mushaf dari awal sampai akhir dan menelusuri pendapat para ulama terkait; oleh karena itu beliau merasa lebih mengetahui tentang Kitabullah pada aspek tersebut.

Di samping itu, beliau menghafal ribuan bait syair Arab, banyak contoh bahasa Arab, dan sebagian besar hadis dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Beliau juga menghafal karya-karya ilmiah utama seperti Alfiyah Ibnu Malik (nahwu), Maraqi as-Su‘ud (ushul fikih), Alfiyah al-‘Iraqi (ilmu hadis), serta berbagai nazham sirah, perang, nasab, dan matan fikih dalam bentuk prosa maupun syair.

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads