Mulanya Shalat Lima Waktu (bagian Ii - Habis)

Jan 16, 2026 10:53 AM - 4 bulan yang lalu 124552

Kincai Media , JAKARTA -- Saat melakukan Mi'raj ke langit ketujuh, Rasul SAW tiba di Baitul Ma’mur. Itu adalah tempat yang selalu dimasuki oleh tujuh ribu malaikat setiap harinya.

Di sana pula, Rasulullah Muhammad SAW untuk pertama kalinya menerima perintah shalat sebagai ibadah wajib umat Islam. Saat itu, perintah shalat wajib dilaksanakan 50 kali setiap hari.

Rasulullah SAW kemudian turun dan berjumpa dengan Nabi Musa AS dan menceritakan perihal shalat ini.

Nabi Musa menyarankan: "Sesungguhnya umatmu bakal merasa berat mengerjakan shalat 50 waktu setiap hari. Kembalilah kepada Tuhanmu (Allah) dan mintalah keringanan untuk umatmu."

Rasul pun kembali untuk meminta keringanan, dan didapatlah keringanan sehingga perintah shalat menjadi 40 waktu setiap harinya.

Kemudian, Rasul menghadap Nabi Musa dan menceritakan perihal ini. Namun, Nabi Musa kembali menyarankan seperti saran sebelumnya: "Sesungguhnya umatmu bakal merasa berat mengerjakan shalat 40 waktu setiap hari. Kembalilah kepada Tuhanmu (Allah) dan mintalah keringanan untuk umatmu."

Setelah acapkali Nabi Musa menyarankan agar minta keringanan, akhirnya Allah SWT menetapkan, shalat dikerjakan lima kali dalam sehari semalam.

Dengan jumlah itu pun, Nabi Musa tetap menyarankan agar Rasul SAW kembali menghadap Allah dan meminta keringanan.

Dalam sebuah riwayat Musa berkata: "Sesungguhnya umat yang (berbadan) besar-besar saja tidak bisa melaksanakan tanggungjawab shalat dua waktu dalam sehari semalam. Apalagi umatmu yang (berbadan) kecil-kecil. Mintalah keringanan kepada Allah."

Kemudian, Rasulullah SAW menjawab: "Aku telah sering meminta keringanan untuk umatku sampai saya merasa malu sendiri. Biarlah umatku melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari semalam."

Mental disiplin

Di antara hikmah shalat wajib lima waktu dalam sehari adalah melatih mental Muslim agar lebih disiplin. Banyak pengaruh positif shalat yang berfaedah untuk pengembangan kepribadian, salah satunya adalah kedisiplinan alias keteraturan.

Hikmah kedisiplinan dalam konsep shalat telah banyak dikemukakan oleh para ahli filsafat dan ustadz Islam. Shalat fardhu yang wajib dilaksanakan oleh seorang Muslim dalam sehari semalam ada lima kali. Waktunya pun sudah teragendakan dengan rapi.

''Sesungguhnya shalat bagi orang-orang Mukmin adalah tanggungjawab yang waktunya ditentukan (terjadwal).'' (QS An-Nisaa': 103). Penentuan waktu shalat ini jelas menunjukkan aliran kedisiplinan yang berkedudukan krusial dalam kesuksesan seseorang.

Kita bisa memandang dan membaca kisah kesuksesan orang lantaran kegiatan yang mereka lakukan setiap harinya teragendakan dengan baik. Orang yang jarang membikin agenda kegiatan condong melalaikan suatu kegiatan yang semestinya dikerjakan pada waktu itu.

Ternyata konsep shalat sejak jauh hari telah mengenalkan konsep penjadwalan sebelum kemunculan konsep-konsep manajeman dan self development modern. Kita juga bisa mengambil pelajaran disiplin dari tata langkah shalat. Mulai dari bersuci sampai penyelenggaraan shalat, dan apalagi setelah shalat.

Selengkapnya