Nasihat Ibnu ‘athaillah Untuk Hidup Lebih Tenteram

Jan 29, 2026 06:59 PM - 3 bulan yang lalu 94450

Kincai Media , JAKARTA -- Syekh Ahmad bin Muhammad bin Atha’illah as-Sakandari merupakan seorang ustadz master tasawuf dari abad ke-13. Gelar as-Sakandari merujuk pada kota kelahirannya, Iskandariah di Mesir.

Ibnu ‘Athaillah tergolong berilmu yang produktif menulis. Tak kurang dari 20 kitab sudah dihasilkannya. Pembahasannya tidak hanya meliputi bagian tasawuf, melainkan juga akidah, ushul fikih, nahwu, tafsir Alquran, dan hadis. Dari beberapa karyanya, Al-Hikam merupakan yang paling masyhur. Di dalamnya, ada beragam nasihat dan perenungan.

Berpasrah diri

Dalam Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah menerangkan, kepasrahan bukanlah suatu corak kemalasan. Dengan bersikap pasrah, seorang Muslim tidak lantas berakhir bekerja dan bermohon dengan dalih semua telah diserahkan kepada Allah SWT. Sebab, setiap insan wajib berikhtiar.

Yang membikin seorang Mukmin istimewa, dia tak sekadar berusaha, tetapi juga meyakini Allah Mahamengatur segalanya. Sambil giat bekerja dan berdoa, orang beragama bakal menyandarkan angan hanya kepada Allah Ta’ala. Sebab, hanya Dia yang layak menjadi tumpuan harapan. Hanya Dia yang bisa memberikan agunan keselamatan. Melepaskan rasa ketergantungan pada selain-Nya, itulah prinsip pasrah.

Tak ikut mengatur

Ibnu ‘Athaillah menasihati kita agar ridha terhadap pengaturan yang telah digariskan Allah SWT. Untuk menjelaskan makna ridha, dia mengisahkan seorang syekh yang berkata, “Seandainya masyarakat surga telah dimasukkan ke surga dan masyarakat neraka telah digiring ke neraka, kemudian hanya diriku yang tersisa, saya tak bisa menduga, ke mana saya bakal dibawa.”

Menurut Ibnu ‘Athaillah, begitulah keadaan hamba yang tidak punya pilihan dan kemauan selain bersandar hanya kepada-Nya. “Keinginan adalah apa yang Dia (Allah) inginkan. Seorang ustadz mengatakan perihal yang serupa, ‘Pagi ini keinginanku berada dalam ketentuan Allah,’” tutur sang salik.

Ia pun berpesan, jangan ikut mengatur berbareng Allah. “Kau mengetahui bahwa dirimu adalah milik Allah. Dengan demikian, kau tidak berkuasa mengatur apa yang bukan milikmu,” katanya.

Ingat Allah

Menurut Ibnu ‘Athaillah, insan yang arif berbeda dari orang yang lalai. “Saat pagi,” kata sang sufi, “orang yang lalai berpikir tentang bumi dan berupaya mencarinya, dia menghitung-hitung apakah dunianya bertambah alias berkurang. Sedangkan orang yang zuhud dan mahir ibadah, memasuki waktu pagi, bakal mengevaluasi gimana kondisinya berbareng Allah.”

Seorang Mukmin seyogianya selalu mengingat Allah. Janganlah hatinya terlalu silau bakal kekayaan duniawi sehingga lalai dari dzikrullah. “Mereka (ahli makrifat) menyadari, Allah yang sebenarnya berkuasa atas diri dan kekayaan mereka. Apa pun yang mereka lakukan bertolak dari Allah, dengan Allah, dan untuk Allah,” ujar dia.

Selengkapnya