Nasihat Yang Ubah Jalan Hidup Imam Hanafi

Jan 21, 2026 06:22 PM - 4 bulan yang lalu 121420

Kincai Media , JAKARTA -- Memasuki abad kedua Hijriah, Kufah di Irak menjadi tempat berkumpulnya kaum Muslimin terpelajar.

Dari beragam daerah di Mesopotamia, mereka berdatangan ke kota tersebut untuk menuntut ilmu-ilmu agama. Ada cukup banyak ustadz setempat yang mempunyai reputasi besar. Seorang di antaranya adalah Abu Hanifah.

Ia berjulukan komplit Nu'man bin Tsabit bin Zauti bin Marzuban. Menurut adz-Dzahabi, seperti dinukil Prof Abul Yazid Abu Zaid al-'Ajami dalam Akidah Islam Menurut Empat Madzhab, Abu Hanifah berasal dari bangsa Persia.

Mengikuti jejak ayahnya, dia sempat berprofesi sebagai saudagar kain. Abu Hanifah menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di Kufah. Sejak kecil, dirinya sudah dibekali pengetahuan tentang pengetahuan berbisnis oleh orang tuanya. Akan tetapi, hatinya selalu terpaut pada masjid dan majelis ilmu. Kecerdasannya kemudian menarik perhatian seorang ustadz tabiin, Amir bin Syurahbil Asy Sya'bi.

Suatu hari, Asy Sya'bi berhadapan dengan Abu Hanifah muda. Kepada pemuda itu, ustadz tersebut bertanya, “Kau mau ke mana?”

“Aku mau ke pasar seperti biasa,” jawab Abu Hanifah. “Bukan itu maksudku, kata Asy Sya'bi menimpali, saya mau tahu, ustadz mana lagi yang bakal kau datangi?”

“Aku jarang menemui ustadz beberapa hari terakhir. Mungkin lantaran kesibukanku di pasar. Sebaiknya jangan lalai. Kau kudu terus belajar ilmu-ilmu kepercayaan dan dekat dengan berilmu ulama. Sebab, saya memandang bahwa kau pemuda yang pandai dan aktif,” ujar Asy Sya'bi.

Nasihat ustadz tersebut sangat membekas dalam benaknya. Abu Hanifah pun tidak lagi menghabiskan hari-harinya di pasar. Ia memilih kesibukan baru yang lebih disukainya, ialah menuntut ilmu-ilmu agama.

Keputusan itu memang tidak sampai membuatnya berakhir total dari bumi usaha. Namun, sejak saat itu perdagangan yang dijalankannya hanya menyita sebagian mini dari waktunya.

Berbekal semangat belajar yang tinggi, Abu Hanifah remaja menerima pendidikan keislaman dengan sangat baik. Sebelum berumur akil baligh, dia telah menghafalkan seluruh Alquran. Ilmu membaca Alquran dipelajarinya dari Imam Ashim, salah satu dari tujuh ustadz peletak dasar qirah sab’ah. Di samping itu, dia pun mempunyai banyak pembimbing lainnya.

Mereka antara lain adalah Atho' bin Abi Rabbah, Asy Sya'bi, Adi bin Tsabit, Abdurrahman bin Hurmuj Al A'raj, Amru bin Dinar, dan Thalhah bin Nafi'. Selanjutnya, ada Nafi' Maula bin Umar, Qatadah bin Di'amah, Qois bin Muslim, Abdullah bin Dinar, Abu Ja'far Al Baqir, Ibnu Syihab Az Zuhri, dan Muhammad bin Munkandar.

Dalam menjalani rihlah intelektual, Abu Hanifah disebut-sebut belajar pada 4.000 orang guru. Jumlah sebanyak itu wajar kiranya. Sebab, sejak usia belasan tahun dirinya sudah giat berkelana dari satu kota ke kota lain untuk menimba ilmu-ilmu agama, khususnya setelah putra daerah Kufah ini meninggalkan kesibukan berdagang.

Selengkapnya