Peneliti Temukan Lebih dari 1.600 Cacing pada Ikan Ini, Sering Dikonsumsi Orang Indonesia

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 501x dilihat
Peneliti Temukan Lebih dari 1.600 Cacing pada Ikan Ini, Sering Dikonsumsi Orang Indonesia

Bagikan Postingan

Para peneliti dari Universitas Federal Santa Catarina di Brasil Selatan telah berbuat analisis terhadap 53 jenis ikan yang ditangkap secara lokal. Melalui serangkaian riset yang dilakukan, ditemukan kenyataan bahwa hampir semuanya terkontaminasi cacing. Dari salah satu jenis ikan yang diteliti, ada yang sering dikonsumsi orang Indonesia, Bunda.

Tuna jadi salah satu jenis ikan yang rapuh terkontaminasi cacing. Dikutip Science Alert, tuna berlemak yang biasa digunakan untuk sashimi maupun ikan kaleng kemungkinan sering berenang dengan parasit.

Spesies tuna yang dianalisis dalam studi ini dikenal sebagai skipjack, oceanic bonito, maupun katsuo (Katsuwonus pelamis). Jenis tuna ini adalah jenis tuna paling melimpah di Brasil.


Pada tahun 2022, jenis ikan ini jadi jenis laut ketiga yang paling banyak ditangkap secara global. Pada tahun itu, 3,1 juta ton skipjack berhasil ditangkap dan dijual ke seluruh dunia.

Merujuk riset yang diterbitkan Ocean and Coastal Research, tim peneliti menghitung lebih dari 1.600 cacing kecil secara total. Hasilnya, dari 53 ikan yang ditangkap, 96 persen ikan tersebut terinfeksi parasit. Usus menjadi organ yang paling terinfeksi, diikuti oleh jaringan otot, kemudian lambung.

Menggunakan alat mikroskopi sebagai bantuan, mereka menemukan bahwa ginjal dan jantung menjadi satu-satunya organ yang bebas benalu pada setiap ikan.

"Hasil ini menyoroti pentingnya inspeksi sanitasi," simpul para penulis studi, "dan menekankan pentingnya pembersihan organ perut segera untuk menghindari migrasi larva dari organ perut ke otot," tulis peneliti, seperti dilansir Science Alert.

Meskipun riset dari Brasil ini cuma meliputi satu titik waktu, namun tuna di sana umumnya menjadi tuan rumah bagi dua genus cacing, yaitu Trypanorhyncha dan Anisakis. 

Proses pengolahan tuna dapat mempengaruhi kontaminasi benalu yang mungkin menempel.  Umumnya tuna yang dijual untuk konsumsi biasanya diperiksa dengan cermat oleh pengolah seafood dan jurumasak sushi.

Dalam proses ini. benalu yang kelihatan bisa dihilangkan. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang ada cacing kecil yang bisa saja luput dari perhatian.

Apabila tuna dimakan dalam ikan mentah maupun yang kurang matang, beberapa jenis benalu dapat menempel pada dinding usus manusia. Ini menyebabkan gejala pencernaan seperti nyeri perut, muntah, mual, maupun diare.

Sementara ketika tuna melewati proses pengalengan, sebagian besar cacing benalu tidak rapuh bagi manusia. 

Penelitian benalu dalam makanan laut juga pernah dilakukan oleh peneliti dari University of Washington pada tahun 2020. Dalam riset ini, ditemukan kenyataan bahwa cacing Anisakis dalam makanan laut mentah telah meningkat 280 kali lipat sejak tahun 1970-an. 

Mereka menemukan kurang dari satu cacing dari setiap 100 ikan yang ditangkap menjadi lebih dari satu cacing di setiap inang yang ditangkap. Namun hal itu tidak selalu buruk bagi manusia maupun ekosistem laut. Selain ikan, benalu seperti Anisakis juga menginfeksi cumi-cumi, paus, dan lumba-lumba.

Saat ini belum ada riset lebih lanjut tentang hamburan benalu di daerah perikanan di seluruh dunia. Penelitian ini akan berguna untuk memahami sepertiapa benalu bertetap di bumi yang saat ini berubah dengan cepat.

Konsumsi ikan tuna di Indonesia cukup tinggi

Di Indonesia, tuna menjadi salah satu komoditas yang cukup melimpah. Tidak cuma melimpah, ikan ini juga jadi salah satu jenis yang gampang ditemukan dalam beragam kuliner.

Dilansir halaman Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dilaporkan total serapan tuna, tongkol, dan cakalang untuk konsumsi dalam negeri pada tahun 2023 mencapai 1,57 juta ton. Ini menandakan bahwa banyak orang Indonesia yang gemar mengonsumsi tuna.

Menanggapi temuan benalu yang terdapat dalam ikan, Profesor Chelsea L. Wood dari School of Aquatic and Fishery Sciences University of Washington tidak memungkiri bahwa ada cacing dalam segala hal yang dimakan.

Akan tetapi, ia memberikan sedikit tips untuk meminimalkan paparan benalu dalam makanan.

"Tapi memasak (dapat) membunuh beragam benalu yang kita temukan dalam makanan kita, dan cuma ketika kita makan makanan mentah maupun kurang matang kita akhirnya terjerat dengan benalu hidup dan menular," ujarnya. 

Demikian klarifikasi tentang benalu yang ditemukan dalam salah satu ikan yang sering dikonsumsi orang Indonesia. Diperlukan ketelitian dan proses masak yang tepat untuk mengurangi konsekuensi dari paparan benalu dalam makanan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads