Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (bag. 32): Rahasia Fi‘il Setelah أَنْ Kadang Marfu’, Kadang Manshub

Jun 03, 2026 11:00 AM - 1 minggu yang lalu 7438

Huruf أَنْ dalam pengetahuan nahwu mempunyai beberapa keadaan dan norma yang berbeda. Terkadang fi‘il mudhari’ setelahnya dibaca marfu’, dan terkadang dibaca manshub. Pembahasan ini menjelaskan perbedaan tersebut beserta contoh-contohnya dalam Al-Qur’an dan penjelasan para ustadz nahwu.

Keadaan pertama

Keadaan pertama terjadi ketika huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna percaya dan kepastian terjadinya sesuatu. Contohnya seperti kata عَلِمَ dan أَيْقَنَ serta kata-kata lain yang mempunyai makna serupa.

Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ disebut sebagai an al-mukhaffafah min ats-tsaqilah, ialah corak ringan dari huruf أَنَّ. Maksud dari takhfif adalah meringankan bacaan, sehingga huruf أَنَّ berubah menjadi أَنْ. Walaupun mengalami peringanan, huruf tersebut tetap mempunyai kegunaan sebagaimana أَنَّ lantaran termasuk akhawatu inna alias saudara-saudara إِنَّ. Oleh karena itu, huruf tersebut tetap beramal me-nashab-kan isim dan me-rafa’-kan khabar.

Para ustadz nahwu menjelaskan bahwa an al-mukhaffafah mempunyai tiga norma penting.

Hukum pertama, isim dari أَنْ yang merupakan corak takhfif dari أَنَّ adalah dhamir sya’n mahzuf, ialah dhamir yang dihapus dan tidak dimunculkan dalam kalimat. Dhamir sya’n merupakan dhamir yang terletak di awal kalimat dan berfaedah menjelaskan kandungan alias persoalan yang terdapat dalam kalimat tersebut. Disebut dhamir sya’n lantaran dhamir tersebut melambangkan suatu keadaan alias kandungan makna kalimat.

Pada umumnya, dhamir kembali kepada kata sebelumnya. Akan tetapi, dhamir sya’n justru kembali kepada kalimat setelahnya. Oleh lantaran itu, dhamir ini berdomisili sebagai mubtada alias sebagai isim-nya, seperti إِنَّ dan saudara-saudaranya maupun كَانَ dan saudara-saudaranya. Bentuk dhamir sya’n hanya berupa هُوَ dan هِيَ saja, sehingga tidak mempunyai corak mutsanna ataupun jama’ .

Hukum kedua, huruf أَنْ tersebut me-rafa’-kan fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.

Hukum ketiga, antara huruf أَنْ dan fi‘il mudhari setelahnya terdapat pemisah. Para ustadz menyebut bahwa pemisah tersebut ada empat macam, ialah huruf قَدْ, huruf س alias سَوْفَ, huruf penafian seperti لَا, لَنْ, dan لَمْ, serta huruf لَوْ.

Contohnya adalah kalimat:

أَيْقَنْتُ أَنْ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ

“Aku percaya bahwa orang kejam bakal menyesal.”

Pada contoh di atas, kata أَنْ merupakan an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Adapun isim dari أَنَّ tersebut adalah dhamir sya’n yang dihapus. Taqdir lengkapnya ialah:

أَيْقَنْتُ أَنَّهُ سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ

Kata أَنَّهُ tidak dituliskan dalam kalimat lantaran telah dihapus secara taqdir. Yang dimaksud dengan dhamir tersebut adalah keadaan alias persoalan bahwa orang kejam itu bakal menyesal.

Adapun jumlah:

سَيَنْدَمُ الظَّالِمُ

berkedudukan sebagai khabar dari isim yang dihapus tersebut.

Contoh lain terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,

عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ

“Allah mengetahui bahwa di antara kalian ada yang sakit.” (QS. Al-Muzzammil: 20)

Pada ayat tersebut, kata أَنْ termasuk an al-mukhaffafah. Isim-nya berupa dhamir sya’n yang dihapuskan. Bentuk lengkapnya adalah:

عَلِمَ أَنَّهُ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ

Huruf س pada kata سَيَكُونُ disebut huruf tanfis istiqbal, ialah huruf yang menunjukkan makna “akan”.

Adapun kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari‘ naqish dari kana. Fungsinya adalah me-rafa‘-kan isim dan me-nashab-kan khabar.

Penjelasan i‘rab pada kalimat tersebut adalah bahwa kata يَكُونُ merupakan fi‘il mudhari naqish dari kana yang berfaedah merafakkan isim dan me-nashab-kan khabar. Isim dari fi‘il tersebut berupa dhamir mustatir yang kembali kepada kata مَرْضَىٰ. Adapun kata مِنْكُمْ berdomisili sebagai khabar muqaddam, sedangkan kata مَرْضَىٰ merupakan isim mu’akhkhar yang diakhirkan penyebutannya dalam susunan kalimat.

Jumlah:

سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ

menjadi khabar bagi isim أَنْ yang dihapus adapun أَنْ سَيَكُونُ ditakwil menjadi maṣdar mu’awwal yang berdomisili sebagai maf‘ul bih dari kata عَلِمَ.

Keadaan kedua

Keadaan kedua أَنْ al-mukhaffafah adalah ketika didahului kata yang mengandung makna prasangka alias dugaan kuat, seperti: ظَنَّ ,خَالَ ,حَسِبَ. Ketiga kata tersebut mempunyai makna “menyangka” alias “mengira”.

Dalam kondisi ini, para ustadz nahwu berbeda pendapat mengenai kedudukan أَنْ.

Pendapat pertama

Sebagian ustadz beranggapan bahwa أَنْ tersebut adalah an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Oleh lantaran itu, fi‘il mudhari‘ setelahnya dibaca marfu’.

Contohnya terdapat pada firman Allah Ta‘ala,

وَحَسِبُوا أَلَّا تَكُونَ فِتْنَةٌ

“Dan mereka mengira bahwa tidak bakal terjadi musibah apa pun (bagi mereka).” (QS. Al-Ma’idah: 71)

Menurut pemimpin qira’at Abu Amr al-Hamzah dan Al-Kisa’i, kata تَكُونَ dibaca marfu’ lantaran أَنْ dianggap sebagai corak takhfif dari أَنَّ.

Taqdir lengkapnya ialah:

أَنَّهُ لَا تَكُونُ فِتْنَةٌ

Dengan demikian, kata حَسِبُوا tidak lagi berarti “menyangka”, tetapi berarti “meyakini” أَيْقَنُوا. Hal ini lantaran huruf أَنَّ menunjukkan makna ta’kid (penegasan), sedangkan penegasan lebih sesuai dengan makna percaya daripada prasangka.

Pendapat kedua

Adapun empat pemimpin qira’at lainnya membaca تَكُونَ dengan referensi manshub.

Dalam pendapat ini, أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang berfaedah me-nashab-kan fi‘il mudhari‘. Oleh karena itu, fi‘il setelahnya dibaca manshub. Berdasarkan pendapat ini, kata حَسِبُوا tetap pada makna asalnya, ialah “berprasangka” alias “ragu-ragu”. Sebab أَنْ di sini tidak berfaedah sebagai huruf penegas ta’kid, melainkan hanya sebagai huruf mashdariyyah.

Pernyataan Ibnu Hisyam,

فَإِنْ سُبِقَتْ بِالظَّنِّ فَوَجْهَانِ

“Apabila huruf أَنْ didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna prasangka, maka terdapat dua langkah pembacaan terhadap fi‘il mudhari yang terletak setelahnya.”

Cara pertama, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca marfu’. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mukhaffafah dari أَنَّ. Karena berasal dari أَنَّ, maka huruf tersebut tidak berfaedah me-nashab-kan fi‘il mudhari. Dengan demikian, fi‘il mudhari setelahnya tetap dibaca marfu’.

Cara kedua, fi‘il mudhari setelah huruf أَنْ dibaca manshub. Dalam keadaan ini, huruf أَنْ dianggap sebagai an al-mashdariyyah yang memang berfaedah me-nashab-kan fi‘il mudhari.

Keadaan ketiga

Keadaan ketiga huruf أَنْ tidak didahului oleh kata-kata yang menunjukkan makna percaya ataupun prasangka. Akan tetapi, konteks kalimat menunjukkan makna ragu-ragu, harapan, alias kemauan kuat. Dalam keadaan seperti ini, huruf أَنْ wajib menjadi an al-mashdariyyah yang me-nashab-kan fi‘il mudhari setelahnya.

Contoh kalimatnya ialah:

أَرْجُو أَنْ يَنْتَصِرَ الْحَقُّ

“Saya berambisi kebenaran itu menang.”

Pada contoh tersebut, huruf أَنْ adalah an al-mashdariyyah. Oleh lantaran itu, fi‘il mudhari setelahnya, ialah يَنْتَصِرَ, dibaca manshub.

Contoh lainnya terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,

وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ

“Dan Yang sangat saya harapkan bakal mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syu‘ara: 82)

Pada ayat tersebut, huruf أَنْ juga termasuk an al-mashdariyyah lantaran menunjukkan makna angan dan keinginan. Oleh karena itu, fi‘il mudhari يَغْفِرَ dibaca manshub.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 31

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel Kincai Media

Selengkapnya