Kincai Media , JAKARTA -- Gagasan Said Hawwa tentang keteguhan jiwa (nafs) dapat dikatakan lebih dikenal luas. Karyanya, Tarbiyatuna ar-Ruhiyah, mengeksplorasi lebih jauh pemikiran Imam Ghazali tentang jiwa.
Menurutnya, jiwa manusia dapat dibagi dalam tiga keadaan, ialah an-nafs al-muthma`innah, an-nafs al-lawwamah, dan an-nafs la`ammarat bis su`.
Penjelasan keadaan pertama merujuk pada Alquran surah al-Fajr ayat 27-30. Jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma`innah) bermaksud pada ridha Allah SWT. Caranya melalui keikutsertaan pada golongan kebaikan. Bila menjauh dari golongan ini, (jiwa) seseorang bakal merasa resah.
Sementara itu, jiwa yang banget menyesali diri sendiri (an-nafs al-lawwamah)—seperti diilustrasikan dalam surah al-Qiyamah ayat 2. Munculnya keadaan ini ialah ketika seseorang rentan terhadap hawa nafsu, sehingga lalai dari perintah Tuhannya.
Jiwa yang lalai bakal terperosok kepada keadaan ketiga, ialah nafsu yang selalu menyuruh pada kejahatan (an-nafs la`ammarat bis su`), seperti disinggung dalam surah Yusuf ayat 53.
Surah ini menuturkan keadaan Nabi Yusuf AS ketika terbebas dari tuduhan di lingkungan istana Mesir. Putra Nabi Ya’qub AS itu terbukti tidak bersalah. Yang terjadi, justru istri penguasa Mesir yang menggoda Nabi Yusuf AS. Bagaiamanapun, seperti dijelaskan dalam tafsir ayat tersebut, Nabi Yusuf AS tidak menyatakan diri suci.
Sebab, secara hatikecil jiwa manusia selalu condong kepada kesenangan, ialah menganggap bagus keburukan dan kejahatan. Dia berterima kasih Allah SWT menjaganya dari terpedaya nafsu. Hanya jiwa yang dijaga alias diberi rahmat oleh Allah SWT (“maa rahima rabbii”) yang bakal dihindarkan dari kejelekan.
Penyucian jiwa
Dengan menyadari tiga kondisi jiwa (nafs), maka dirasakan perlu adanya penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menurut Said Hawwa, tazkiyatun nafs pada hakikatnya menjauhkan diri dari kemusyrikan, ialah mengakui dengan setulus hati dan sebenar-benarnya tentang keesaan Allah SWT.
Tidak hanya itu, seseorang hendaknya meneladani adab Rasulullah SAW. Ada tiga fase yang mesti dilalui, ialah tathahhur, tahaqquq, dan takhalluq.
Tahap pertama berfaedah memfokuskan hati dan pikiran hanya kepada Allah SWT. Kuncinya adalah zikir, baik secara lisan, batin, maupun perbuatan. Kepaduan zikir ini digambarkan dalam surah Ali Imran ayat 191. Di dalamnya, Allah menyinggung orang-orang yang mengingat-Nya baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Mereka itu menyadari tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan bumi.
Tahap kedua dapat diartikan sebagai perwujudan sifat-sifat Allah yang mulia dalam kegiatan seorang Muslim. Semboyannya adalah "Berakhlak sebagaimana adab Tuhan." Misalnya, salah satu sifat Allah adalah ar-Rahmaan dan ar-Rahiim. Maka dari itu, seseorang hendaknya condong berkarakter pengasih dan penyayang terhadap sesama.
Tahap ketiga adalah membiasakan akhlak-akhlak baik ke dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah puncak perwujudan disiplin diri, sehingga jiwa condong pada kondisi ideal, an-nafs al-muthma`innah. Demikianlah gagasan-gagasan sang salik, Said Hawwa.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·