Dalam banyak ayat, Allah ﷻ mengabarkan bahwa seorang hamba dapat diampuni dosa-dosanya dengan karena tobat dan istigfar. Setelah menjelaskan ancaman bagi pelaku dosa dan maksiat, lantas ancaman itu dikecualikan bagi orang yang bertobat dan beristigfar.
Allah ﷻ berfirman,
إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحًا فَأُو۟لَٰٓئِكَ يَدْخُلُونَ ٱلْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْـًٔا
“Kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu bakal masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun.” (QS. Maryam: 60)
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak bakal mengazab mereka, sedang Anda berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah bakal mengazab mereka, sedang mereka beristigfar.” (QS. Al-Anfal: 33)
Kita pun sebagai seorang muslim umumnya sangat mengenal istilah tobat dan istigfar. Namun, apakah yang dimaksud dengan istigfar dan tobat? Adakah keduanya istilah yang berarti sama ataukah ada perbedaannya?
Jika tobat dan istigfar disebutkan bersendirian (disebutkan secara terpisah)
Imam Ibnu Abil Izz Al-Hanafi rahimahullah, penulis Syarah Aqidah Thahawiyah yang paling masyhur, menjelaskan perihal tersebut. Setelah menukilkan ayat-ayat tentang tobat dan istigfar, beliau rahimahullah menjelaskan, “Terkadang istigfar disebutkan sendiri, tetapi adakalanya disebutkan pula berbareng kata tobat.
فَإِنْ ذُكِرَ وَحْدَهُ دَخَلَ مَعَهُ التَّوْبَةُ، كَمَا إِذَا ذُكِرَتِ التَّوْبَةُ وَحْدَهَا شَمَلَتْ الِاسْتِغْفَارَ
Jika kata istigfar disebutkan secara terpisah, maka tobat termasuk di dalam makna istigfar. Sama seperti jika kata tobat disebutkan sendirian, maka itu mengandung makna istigfar.” (Syarah Aqidah Thahawiyah, 2: 452; cet. Muasasah Risalah)
Kata tobat mencakup makna istigfar, dan kata istigfar mencakup makna tobat, dan masing-masing termasuk dalam makna yang lain ketika digunakan secara mutlak.
Makna tobat dan istigfar jika disebutkan bersamaan
Kata tobat dan istigfar disebutkan berbarengan sebagaimana dalam ayat,
وَأَنْ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
“Dan hendaklah Anda meminta maaf kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya.” (QS. Hud: 3)
Imam Ibnu Abil Izz rahimahullah menjelaskan,
أَمَّا عِنْدُ اقْتِرَانِ إِحْدَى اللَّفْظَتَيْنِ بِالْأُخْرَى، فَالِاسْتِغْفَارُ: طَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا مَضَى، وَالتَّوْبَةُ: الرُّجُوعُ وَطَلَبُ وِقَايَةِ شَرِّ مَا يَخَافُهُ فِي الْمُسْتَقْبَلِ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِهِ
“Adapun jika masing-masing kata disandingkan dalam satu pembahasan, maka masing-masing mempunyai makna sendiri. Istigfar artinya adalah memohon perlindungan dari keburukan yang telah lalu. Sedangkan tobat artinya adalah kembali dan memohon perlindungan dari keburukan di masa depan atas karena perbuatan keburukan yang dilakukannya.”
Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd menjelaskan makna lain,
يكون الاستغفار عبارةً عن طلب المغفرة باللسان، والتوبة عبارة عن الإقلاع عن الذنوب بالقلب، والجوارح
“Istigfar bisa dimaknai sebagai memohon pembebasan dengan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dosa maksiat dengan hati dan personil badan.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)
Hal ini sebagaimana kaidah,
إِذَا اجْتَمَعَا افْتَرَقَا، وَإِذَا افْتَرَقَا اجْتَمَعَا
“Apabila berkumpul (disebutkan bersamaan), maka maknanya berbeda. Jika berpisah, maka maknanya sama.”
Contoh semisal adalah istilah-istilah seperti: islam dan iman; fakir dan miskin; itsm dan udwan; birr dan takwa; alias fusuq dan ‘ishyan.
Baca juga: Cara Tobat Nasuha
Asal makna tobat dan istigfar
Menurut Ibnu Faris dan Mu’jam Maqayis Lughah (1: 357), setiap kata yang tersusun dari huruf ت – و – ب, seperti tobat, maknanya selalu seputar rujuk alias kembali (الرجوع). Kata yang semisal adalah:
- العودة (pulang)
- الإنابة (kembali)
- الندم (menyesal)
Semuanya kembali kepada makna rujuk alias kembali.
Adapun Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarij (1: 198) menjelaskan,
فحقيقة التوبة هي الندم على ما سلف منه في الماضي، والإقلاع عنه في الحال، والعزم على ألا يعاوده في المستقبل
“Hakikat tobat adalah penyesalan atas dosa-dosa masa lalu, penghentian segera dosa-dosa tersebut, dan tekad yang teguh untuk tidak mengulanginya di masa depan.”
Artinya, tobat lebih luas dari sekadar menyesal atas dosa masa lalu, tetapi juga ada upaya menghentikannya langsung sekarang, dan berkeinginan untuk tidak mengulanginya di masa yang bakal datang.
Sedangkan makna istigfar ialah,
طلب المغفرة وهي وقاية شر الذنوب مع سترها
“Upaya untuk mencari ampunan, ialah perlindungan dari keburukan dosa serta berambisi agar dosanya ditutupi.” (Musthalahat fi Kutubil Aqaid, hal. 187)
Perbedaan tobat dan istigfar
Terdapat beberapa perbedaan tobat dan istigfar yang kami nukil dari kitab Musthalahat fi Kutubil Aqaid karya Syekh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd sebagai berikut:
1) Asal katanya berbeda, yakni: kata tobat berasal dari kata طوب (kembali) dan istigfar berasal dari kata غفر (ampunan).
2) Tobat berarti upaya meliputi penyesalan atas masa lalu, menghentikannya sekarang, dan upaya tidak mengulanginya di masa depan. Sedangkan istigfar berarti memohon pembebasan dan penutupan dosa.
3) Istigfar bisa dilakukan meski dosanya terus berlangsung. Sedangkan tobat menuntut orangnya untuk berakhir dari perbuatannya.
4) Tobat yang memenuhi syarat pasti diterima, dan dengan itu bakal menghapuskan dosa dan menambahkan kebaikan jika tobatnya baik dan tulus (tobat nasuha). Sedangkan istigfar, sebagaimana angan lainnya, bisa diterima maupun ditolak.
5) Istigfar bisa dimohonkan untuk diri sendiri, maupun untuk orang lain. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,
وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Dan memohon ampunlah untuk dosa kalian dan bagi orang beragama laki-laki maupun perempuan.” (QS. Muhammad: 19)
Seseorang mendapatkan pahala dengan memohonkan istigfar bagi orang lain. Sedangkan pertobatan hanya bisa dilakukan oleh diri sendiri dan apalagi dilarang untuk dilakukannya atas nama orang lain.
6) Malaikat bisa beristigfar untuk orang beriman; sedangkan untuk bertobat atas nama orang beriman, tidak bisa.
7) Tobat bertindak sampai sebelum nafas mencapai kerongkongan (ghargarah) ketika sekarat alias sebelum mentari terbit dari barat. Sedangkan istigfar bisa berlaku, baik tetap hidup, saat sekarat, maupun setelah meninggal.
7) Istigfar boleh dilakukan kapan saja, dan dianjurkan pada waktu tertentu, seperti saat duduk di antara dua sujud, setelah salam salat, setelah melakukan ifadhah saat haji, dan di waktu sahur. Adapun tobat disyariatkan sesegera mungkin.
8) Istigfar adalah dengan ucapan lisan, sedangkan tobat adalah meninggalkan dengan hati dan personil badan.
9) Tobat diwajibkan bagi muslim maupun kafir, sedangkan istigfar hanya kaum muslimin saja.
10) Tobat mesti disebabkan kembali dari dosa dan maksiat maupun kemakruhan, serta meninggalkan tanggungjawab maupun kesunahan. Adapun istigfar bisa oleh karena tersebut, ataupun hanya sekadar corak mengingat saja dan berbobot pahala.
Semoga dengan membaca keterangan ini, kita bisa menjadi semakin antusias dalam bertobat dan beristigfar kepada Allah ﷻ. Karena banyaknya dosa dan ketidaksempurnaan dalam ibadah kita, sangat layak bagi kita untuk menjadi hamba yang istikamah dalam tobat dan permohonan ampunan.
Baca juga: Doa “Sayyidul Istigfar”
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
Referensi:
Musthalahat fi Kutubil Aqaid: https://shamela.ws/book/12070/191
Madarijus Salikin: https://www.islamweb.net
Syarah Aqidah Thahawiyah li Ibni Abil Izz Al-Hanafi, cet. Muasasah Ar-Risalah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·