Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)

Jul 09, 2026 11:00 AM - 3 minggu yang lalu 24080

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak golongan yang menyimpang, dan pemikiran yang saling menyatakan berada di atas kebenaran, seorang muslim memerlukan pegangan yang jelas agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Oleh lantaran itu, sungguh pentingnya mengetahui jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut, yang dikenal dengan julukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berupaya mengikuti aliran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Al-Jama’ah adalah mereka yang berasosiasi di atas kebenaran dan tidak terpecah belah dan saling berselisih.

Oleh lantaran itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di akhir sepuluh wasiat-Nya yang terdapat pada surah Al-An’am,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), lantaran jalan-jalan itu bakal mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Yang dimaksud “jalan lurus” adalah jalan yang setiap hari seorang muslim minta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditunjukkan dan diteguhkan di atasnya. Bahkan, permohonan itu dia ulangi acapkali dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)

Pada kedua ayat tersebut, terdapat perintah untuk menempuh dan berpegang teguh pada jalan yang lurus serta meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang. Jalan yang lurus itu adalah jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla jelaskan para pengikutnya dalam firman-Nya,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan peralatan siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu bakal berbareng orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, ialah para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)

Jalan tersebut juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka dia bakal memandang banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah dia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, lantaran setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)

Dalam sabda ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya bakal munculnya banyak perselisihan setelah wafatnya beliau. Oleh lantaran itu, beliau memerintahkan agar kaum muslimin tetap teguh di atas kebenaran ketika perselisihan terjadi di antara kaum muslimin.

Kebenaran yang dimaksud adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah jalan hidup dan petunjuk yang beliau amalkan, kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin, serta oleh generasi setelah mereka yang meneladani dan mengikuti jejak mereka dengan baik.

Sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Oleh lantaran itu, mereka dinamakan Ahlus Sunnah, lantaran mereka melangkah di atas sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga disebut al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), lantaran berpegang pada jalan yang menjadi karena keselamatannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“‘Umatku bakal terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka selain satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang saya dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)

Mereka dinamakan golongan yang selamat, lantaran mereka selamat dari ancaman tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.(QS. At-Taubah: 100)

Mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak cukup hanya dengan klaim alias pengakuan semata. Hal itu kudu diwujudkan dengan mengikuti mereka dengan benar, sempurna, dan konsisten, setelah mengetahui apa yang mereka amalkan dengan mempelajari pengetahuan yang bermanfaat.

Hal itu tidak mungkin terwujud selain setelah mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi pegangan generasi terdahulu dalam masalah iktikad dan amal, sehingga seseorang dapat mengikuti mereka dengan baik. Adapun orang yang tidak mengetahui apa yang mereka amalkan, maka dia tidak dapat mengikuti mereka dengan baik, meskipun dia antusias dalam mengikuti mereka.

Oleh lantaran itu, mempelajari metode alias manhaj generasi salaf merupakan suatu keharusan agar seseorang dapat mengikuti jejak mereka dengan betul dan sempurna. Mengikuti mereka kudu dilakukan tanpa sikap berlebihan (ghuluw), tanpa sikap meremehkan (tafrith), dan tanpa sikap lalai. Sebab manhaj para sahabat adalah jalan yang lurus dan pertengahan (wasathiyyah), yang tidak mengandung sikap meremehkan (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).

Tidak meremehkan, ialah tidak menyimpang dari jalan yang lurus, tetapi menyatakan berada di atas kebenaran. Tidak berlebihan, ialah tidak bersikap ekstrem dan melampaui batas, tetapi menempuh jalan yang setara dan pertengahan. Hal ini sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang berlebihan dan melampaui pemisah dalam beragama, serta berbeda pula dengan sikap orang-orang yang bermudah-mudahan dan mengabaikan aliran agama.

Inilah jalan yang ditempuh oleh para Muhajirin dan Anshar. Seseorang belum dikatakan mengikuti mereka dengan baik selain andaikan dia betul-betul memahami jalan mereka dengan baik, terhindar dari sikap ekstrem dalam beragama, serta terhindar dari sikap meremehkan dan bermudah-mudahan terhadapnya. Dengan demikian, dia betul-betul telah melangkah di atas manhaj mereka dan mengikuti jalan mereka dengan baik.

Dan inilah manhaj yang lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan manhaj yang dipegang kaum sufi maupun pelaku bid’ah lainya, dan beragam golongan menyimpang yang menjadikan ideologi dan pemikiran para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai landasan utama dalam beragama. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang kesesatan mereka,

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Mereka memecah-belah urusan kepercayaan mereka menjadi beragam golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)

Ayat ini mengingatkan agar seorang muslim menjadikan Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap pemikiran golongan maupun tokoh tertentu.

[Bersambung]

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.

Selengkapnya