Kincai Media , JAKARTA -- Rasulullah SAW mempunyai hati yang sangat lembut dan sangat dicintai oleh orang-orang di sekitarnya. Segala sifatnya yang jarang dimiliki oleh manusia biasa menjadi pembeda dengan makhluk lain di muka bumi.
Nabi yang dijuluki pemberi pencerahan dan simbol perdamaian.
“Betapapun pandai dan luasnya uraian menyangkut Rasul SAW tetap saja, meski sepanjang usia kita gunakan untuk membicarakannya tetap saja ada yang tidak dapat terjangkau pengetahuan kita tentang Rasul hanya sampai untuk berbicara bahwa dia adalah manusia yang teragung di permukaan bumi ini di alam raya ini,” kata Prof Quraish Shihab dikutip dari akun Youtube Pribadinya.
Prof Quraish Shihab menjelaskan contoh yang sangat simple tetapi sangat berbobot tentang pencerahan diberikan oleh Nabi Muhammad SAW ketika putranya wafat mentari eklips lantaran kematian putranya dalam keadaan sedih, dalam keadaan berceceran air mata, Nabi Muhammad SAW berkata,
“Matahari dan bulan adalah ayat – ayat Tuhan, tanda – tanda kuasa Tuhan, dia tidak eklips lantaran kematian alias kehidupan seseorang jika kalian menemukan itu, maka bersegeralah mengingat Allah SWT, bersegeralah Shalat”
Seperti yang dijelaskan pada Q.S Al-Ahzab ayat 45
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا
Artinya: Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa berita gemgira dan pemberi peringatan.
Prof Quraish Shihab juga menjelaskan contoh sikap Nabi Muhammad SAW tentang perdamaian. Ketika Nabi Muhammad SAW bersedia menghapus 7 kata bismi,Allahi,ar-rahman,ar-rahim, dan Muhammad,Rasul,Allahi pada perjanjian Hudaibiyyah.
Menurut satu riwayat, sahabat Ali bin Abi Thalib enggan menghapusnya.
“Kenapa kita kudu menerima sesuatu yang melecehkan (agama) kita?” ujar Umar bin Khattab. Nabi Muhammad SAW menjawab: “Saya Rasulullah”
Setelah itu, tujuh kata tersebut dihapus sampai membatalkan kunjungan umrah yang berkarakter sunnah itu demi mencapai dan menandatangin perjanjian itu.
“Karena itu tidak ada argumen untuk berbicara bahwa agama Islam tidak menghendaki perdamaian tenteram ada dua macam, perdamaian seseorang dengan dirinya sendiri dan perdamaian seseorang dengan orang lain,” kata Prof Quraish Shihab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·