Kincai Media ,JAKARTA -- Setelah berakhirnya bulan Muharram, umat Islam memasuki bulan Safar, bulan kedua dalam almanak Hijriah. Meski kerap dikaitkan dengan beragam mitos dan dugaan sebagai bulan penuh kesialan, Islam justru mengajarkan bahwa Safar adalah bulan yang sama mulianya dengan bulan-bulan lain dalam penanggalan Hijriah.
Pada 2026, bulan Safar 1448 Hijriah dimulai pada pertengahan Juli. Menurut pemerintah dan NU, Bulan Safar 1448 H jatuh pada 16 Juli 2026. Sedangkan Muhammadiyah menetapkan 15 Juli.
Selama bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak kebaikan saleh sebagaimana pada bulan-bulan lainnya, tanpa meyakini adanya kesialan alias keberuntungan unik yang melekat pada Safar.
Asal-usul Nama Safar
Secara bahasa, kata Safar berasal dari bahasa Arab ṣafar (صفر) yang mempunyai beberapa makna. Salah satu pendapat menyebut bahwa nama ini berasal dari kondisi rumah-rumah masyarakat Arab yang menjadi kosong (ṣifr) lantaran para laki-laki keluar untuk berbisnis alias bertempur setelah berakhirnya bulan Muharram yang termasuk bulan haram.
Pendapat lain menyebut bahwa Safar diambil dari kata yang berfaedah "kuning" alias "kosong", menggambarkan kondisi padang pasir yang gersang maupun persediaan makanan yang mulai menipis.
Jauh sebelum Islam datang, masyarakat Arab telah mengenal nama bulan ini sebagai bagian dari sistem almanak mereka.
Dalam Islam, Safar adalah bulan biasa yang tidak mempunyai keistimewaan unik sebagaimana Ramadhan alias empat bulan haram, ialah Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·