Sempat Mau Mengebom Masjid, Richard Akhirnya Berislam

Jan 25, 2026 11:15 AM - 5 bulan yang lalu 157350

Kincai Media , JAKARTA -- Pada suatu hari Jumat di tahun 2009, Richard “Mike” McKinney tidak lagi bisa menahan diri. Mantan marinir Amerika Serikat (AS) itu memboyong beberapa bahan peledak (improvised explosive device/IED) dari rumahnya.

Dengan mengendarai mobil, laki-laki bertubuh tegap itu langsung menuju Masjid Islamic Center of Muncie di Indiana, AS. Tujuannya adalah mengebom masjid tersebut dan sekaligus “menghabisi” seluruh Muslim di sana.

Murka sebesar itu rupanya dipicu persoalan sepele. Satu hari sebelumnya, Mike memandang putri kesayangannya, Emily, pulang dari sekolah. Segalanya tampak biasa-biasa saja, hingga ketika anak perempuannya itu menuturkan pengalamannya.

Emily bercerita, dirinya suatu hari diajak untuk datang ke rumah seorang kawannya. Sesampainya di sana, tampaklah ibu temannya itu mengenakan niqab.

“Jadi mereka adalah orang Muslim!?” tanya Mike dengan nada tinggi.

“Entahlah, tapi mereka ramah dan baik padaku,” jawab Emily singkat.

Berkali-kali, Mike menyuruh anak perempuannya itu agar jangan lagi dekat-dekat dengan kawannya tersebut. Tentu saja, Emily heran.

Bagaimana menghakimi baik alias buruknya orang dari busana yang mereka pakai? Kalaupun mereka berakidah Islam, lantas apa masalahnya?

Hingga malam hari, Mike tidak bisa tidur. Ia merasa resah jika putrinya bakal dipengaruhi orang-orang “asing” itu. Mimpi jelek terbesarnya adalah, Emily bakal menjadi Muslim.

Itulah yang mendorongnya untuk mempersiapkan “bom rumahan”, untuk kemudian diledakkan di tengah jamaah Masjid Islamic Center Muncie. Persiapan dilakukannya dengan rapi. Mantan marinir ini seolah-olah hendak berangkat ke medan pertempuran.

Tibalah dia di masjid tersebut. Siang itu, tempat ibadah Muslimin ini tampak cukup ramai. Beberapa jamaah tetap berada di sana, sesudah menunaikan shalat Jumat. Beberapa orang memandang Mike turun dari mobil dengan memakai jas tebal dan ikat kepala.

Untuk sesaat, di pikiran Mike terlintas kata-kata putrinya: “Setiap orang tidak dilahirkan dengan prasangka, rasisme, alias kebencian.” Karena itu, dia sempat mengurungkan niatnya untuk langsung melempari masjid ini dengan “bom” buatan.

Tidak mau kedatangannya sia-sia, Mike memilih untuk memasuki gedung Islamic center ini. Mulanya, dia merasa aneh. Pemandangan setempat tampak biasa saja. Tidak ada di sana, umpamanya, spanduk-spanduk semboyan “anti-Amerika” alias “dukungan pada al-Qaeda”—seperti yang selama ini dibayangkannya.

Di dalam masjid itu, dia berdiri saja. Dirinya sedikit gugup lantaran merasa sebagai satu-satunya non-Muslim di sana. Beberapa lama kemudian, seorang jamaah menghampirinya dan berkata, “Apakah ada yang bisa saya bantu?”

Selengkapnya