Sesuatu Terdekat Dan Terjauh Bagi Manusia

Jan 13, 2026 08:19 PM - 4 bulan yang lalu 124113

Kincai Media , JAKARTA -- Pada suatu ketika, Imam al-Ghazali (1058-1111) mengusulkan sebuah pertanyaan unik kepada murid-muridnya. "Apakah perkara-perkara yang paling dekat dengan diri manusia? Kemudian, apa saja yang paling jauh dari mereka?" demikian tanya sang Hujjatul Islam.

Para muridnya berupaya untuk menjawab pertanyaan ini. Ada yang mengatakan, perihal yang paling dekat dengan diri manusia adalah kedua orang tua. Beberapa berpendapat, yang terdekat adalah guru, sahabat, alias karib kerabat.

Imam al-Ghazali mengatakan, semua jawaban itu keliru. “Yang paling dekat dengan diri kita adalah kematian,” ujarnya.

Ia lampau mengutip Alquran surah Ali Imran ayat 185. Artinya, “Setiap yang bernyawa bakal merasakan mati. Dan hanya pada Hari Kiamat diberikan dengan sempurna balasanmu.

Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan bumi hanyalah kesenangan yang memperdaya."

"Maknanya,” lanjut Imam al-Ghazali, “Kematian pasti datang kepada manusia. Tidak bisa dipercepat ataupun diperlambat."

قُلْ لَّاۤ اَمۡلِكُ لِنَفۡسِىۡ ضَرًّا وَّلَا نَفۡعًا اِلَّا مَا شَآءَ اللّٰهُؕ لِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ‌ؕ اِذَا جَآءَ اَجَلُهُمۡ فَلَا يَسۡتَـاخِرُوۡنَ سَاعَةً‌ وَّلَا يَسۡتَقۡدِمُوۡنَ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan faedah kepada diriku, selain apa yang Allah kehendaki.’ Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan alias percepatan sesaat pun” (QS Yunus: 49).

Lantas, apakah sesuatu yang paling jauh dari diri manusia? Beberapa muridnya menjawab, benda-benda di langit. Ada pula yang berkata, Negeri Tiongkok.

Imam al-Ghazali menyanggahnya. “Yang paling jauh dari diri manusia adalah waktu yang sudah berlalu,” kata sufi ini menjawab pertanyaan retorisnya itu.

Sebab, lanjut al-Ghazali, waktu tidak pernah berakhir hingga akhir masanya, ialah Hari Kiamat kelak. Jika berlalu, waktu tak pernah kembali. Satu menit yang sudah lewat pasti lebih-jauh daripada lama seribu tahun yang bakal datang.

Allah memerintahkan manusia agar menggunakan kesempatan hidup untuk beragama dan beramal saleh. Bagi setiap insan, waktu adalah modal yang sangat berbobot sehingga kudu dimanfaatkan secara sungguh-sungguh untuk melaksanakan perintah-Nya.

Tanda optimalnya waktu adalah bahwa setiap detik, menit, jam, dan hari berbobot ibadah. Ini dapat dilakukan di manapun, tidak kudu masjid, melainkan juga antara lain rumah alias tempat mencari nafkah. Siapapun yang melalaikan waktu, maka baginya kelak adalah penyesalan tiada tara.

Ingatlah nasib Fir’aun yang mengejar-ngejar Nabi Musa AS dan Bani Israil hingga ke Laut Merah. Ketika air lautan sudah nyaris menenggelamkannya, raja Mesir itu akhirnya mengakui Keesaan Allah SWT. Betapa sia-sia ucapannya itu.

"Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir‘aun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas (mereka). Sehingga ketika Fir‘aun nyaris tenggelam, dia berkata, ‘Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).’

Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang melakukan kerusakan" (QS Yunus: 90-91).

Selengkapnya