Sosok Pertama Sebar Kemusyrikan Di Makkah

Jan 16, 2026 02:45 PM - 4 bulan yang lalu 128683

Kincai Media , JAKARTA -- Orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab adalah Amr bin Luhaiy bin Qam'ah. Leluhur Suku Khuza'ah itu juga membujuk masyarakat setempat untuk menyembah benda-benda mati.

Said Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah mengutip sabda berikut.

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لأكثم بن الجون الخزاعي : يا أكثم ، رأيت عمرو بن لحي بن قمعة بن خندف يجر قصبه في النار ، فما رأيت رجلا أشبه برجل منك به ، ولا بك منه : فقال أكثم : عسى أن يضرني شبهه يا رسول الله ؟ قال : لا ، إنك مؤمن وهو كافر ، إنه كان أول من غير دين إسماعيل ، فنصب الأوثان ، وبحر البحيرة ، وسيب السائبة ، ووصل الوصيلة ، وحمى الحامي .

"Aku (Abu Hurairah) mendengar Rasulullah SAW berbicara kepada Aksam bin Jun al-Khuza'i, 'Wahai Aksam, saya memandang Amr bin Luhaiy bin Qam'ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah memandang orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah memandang orang yang lebih mirip denganmu daripada dia.'

Aksam bertanya, 'Apakah kemiripanku dengannya rawan bagiku, wahai Rasulullah?'

Beliau menjawab, 'Tidak. Engkau adalah mukmin, sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah kepercayaan Ismail, lampau memasang berhala, memotong telinga hewan untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih hewan untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki.'"

Ibnu Hisyam meriwayatkan gimana Amr bin Luhaiy mengenalkan syirik kepada bangsa Arab. Suatu ketika, Amr pergi dari Makkah menuju Syam (Suriah) untuk memenuhi beberapa urusannya. Dia sampai di daerah al-Balqa', tepatnya Ma'ab, yang waktu itu dihuni masyarakat Amalek. Bila ditelusuri silsilahnya, mereka adalah keturunan Amlaq bin Lawidz bin Sam bin Nuh. Ternyata, Amr mendapati beberapa orang di sana sedang menyembang patung.

“Apa patung-patung yang kalian sembah itu?” tanya Amr kepada mereka. “Patung-patung itu kami sembah untuk meminta hujan, sehingga kami diberi hujan. Kami meminta kemenangan, sehingga kami diberi kemenangan,” jawab beberapa dari mereka.

Tidak disangka-sangka, Amr justru tertarik terhadap penjelasan yang irasional itu. “Maukah kalian memberikan kepadaku satu di antara patung-patung itu, yang bisa ku bawa ke negeri Arab untuk disembah?” tanyanya.

Orang-orang itu pun memberinya sebuah patung yang berjulukan Hubal. Ringkas cerita, sesampainya di Makkah, Hubal diletakkannya di dekat Ka'bah. Masyarakat luas berduyun-duyun datang. Amr lantas mengimbau mereka agar barang meninggal itu disembah dan diagung-agungkan sebagai langkah memperoleh segala harapan. Ajakan ini rupanya disambut sejumlah petinggi kota itu, sehingga lambat laun tersebarlah paganisme di tengah bangsa Arab.

Menurut al-Buthy, aspek utama yang membikin masyarakat Makkah generasi demikian meninggalkan iktikad tauhid adalah kebodohan, ketunaaksaraan, dan keengganan mereka untuk berpikir logis. Mereka mengganti kepercayaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan kemusyrikan, yang berasal dari kepercayaan suku-suku yang hidup di sekitar Jazirah Arab.

Tampak adanya pertentangan yang diidap kaum musyrikin Makkah. Di satu sisi, mereka menepuk dada sebagai keturunan Nabi Ibrahim AS. Di sisi lain, mereka mencampakkan tauhid sebagai prinsip jalan (millah) Ibrahim.

Selengkapnya