Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 4): Balasan atas Buruknya Perilaku Orang Kafir Kepada Kaum Muslimin di Dunia

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 9 menit 506x dilihat
Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 4): Balasan atas Buruknya Perilaku Orang Kafir Kepada Kaum Muslimin di Dunia

Bagikan Postingan

Pada tafsir sebelumnya, kita telah membaca sepertiapa balasan kebaikan yang Allah janjikan bagi jiwa-jiwa yang taat, serta berbuat kebaikan untuk hayat bermasyarakat, serta Allah tutup dengan motivasi untuk berkompetisi mengejar balasan surga tersebut.

Pada tafsir potongan surah Al-Mutaffifin ayat 29-36 ini, Allah berbicara kepada kita tentang sepertiapa busuknya perilaku hayat bersosial orang-orang kafir, dimana mereka menghina dan menertawakan kaum muslimin karena kepercayaan yang ada pada hari mereka. Setelah itu, Allah jelaskan balasan setimpal yang akan diterima orang-orang kafir di bumi karena keburukan yang telah mereka lakukan di dunia. Tujuan akhir dari potongan ayat ini adalah memberikan hiburan bagi kaum muslimin, yang pada hayat di bumi mendapatkan kesulitan hidup karena direndahkan dan disakiti oleh orang-orang kafir. Nanti di hari kiamat, Allah akan balik roda hayat tersebut, dimana kaum muslimin akan mentertawakan orang-orang kafir yang sedang dibakar dan disiksa di neraka.

Adapun karena turunnya ayat ini adalah karena segerombolan pembesar orang musyrik Makkah seperti Abu Jahal, Walid bin Mughirah, maupun Al-Ash bi Wail menertawakan orang-orang lemah dari himpunan kaum muslimin. Mereka menertawakan kesulitan hidup yang dihadapi orang-orang lemah ini, serta merendahkannya karena merasa memiliki jabatan yang lebih tinggi karena banyaknya harta bumi yang dimiliki.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelasakan tentang empat perilaku busuk orang kafir yang mereka timpakan kepada kaum muslimin.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَانُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَۖ

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa adalah mereka yang dahulu selalu menertawakan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 29)

Orang-orang berdosa yang Allah ulas dalam ayat ini adalah orang-orang kafir Quraisy dan orang kafir secara lazim yang memiliki perilaku busuk menghina dan menertawakan orang-orang yang beriman. Mereka berbuat yang demikian, di antara sebabnya adalah karena merasa kedudukannya lebih tinggi, bisa jadi karena jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pengikut yang setia, dan semisalnya.

Orang-orang kafir ini, dengan sesembahan mereka yang banyak kecuali Allah, juga merasa bahwa merekalah yang eksis di atas kebenaran, karena mereka telah mempraktekkan kepercayaan mereka selama puluhan maupun mungkin ratusan tahun lamanya. Sedangkan orang-orang muslim yang membawa cahaya hidayah, malah mereka anggap sebagai orang-orang yang tersesat.

Dalam Tafsir Mahasinut Takwil dijelaskan bahwa ketika Allah Ta’ala menganugerahkan umat ini dengan diutusnya Nabi Akhir zaman, yaitu Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, gaung fakta yang beliau suarakan pada mula Islam statis begitu sayup dan sepi. Beliau mulanya mendakwahkan secara sembunyi-sembunyi kepada famili terdekat, serta orang-orang berhati halus yang beliau kenal dan punya potensi besar menerima kebenaran. Orang-orang berhati halus ini kebanyakan adalah dari himpunan orang-orang yang lemah, dimana hingar bingar harta kekayaan barang duniawi belum merusak fitrah mereka yang murni. Mereka bisa mengenali instruksi dengan hati mereka, kemudian melepaskan semua kesyirikan yang membebani punggung mereka tanpa ada rasa kesulitan sedikitpun.

Berbeda halnya dengan para pembesar, orang-orang kaya dan berkuasa, yang mereka senantiasa mau mempertahankan jabatan, kebesaran, dan harta bumi mereka, selalu mau eksis dalam status quo, tidak mau “diusik” ketenangan mereka. Mereka merendahkan dan menghina orang lain untuk semakin menaikkan jabatan mereka. Semakin keras pengingkaran mereka kepada setiap orang yang membujuk keluar dari kebiasaan durasi yang sudah mengakar kuat pada diri mereka, terlebih lagi jika yang menyeru kedudukannya lebih lemah fisiknya, hartanya, serta lebih sedikit jumlahnya.

Akan tetapi, kita dapati sebagian orang kaya dan menempatiposisi tinggi dapat dengan mudahnya menerima Islam, sebut saja seperti istri Nabi Khadijah, kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Ustman bin Affan, beliau-beliau adalah di antara pembesar Quraisy yang dengan gampang menerima Islam. Semuanya karena nikmat instruksi dari Allah, kemudian dikarenakan baiknya hubungan sosial mereka sebelum Islam menyapa mereka, sehingga Allah juga menyayangi mereka dan memudahkan instruksi masuk, serta menyelamatkan mereka.

Ibnu Abbas menafsirkan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini ketika turunnya ayat, yang merendahkan dan menertawakan kaum muslimin adalah Walid bin Mughirah, Uqbah bin Abi Mu’aith, Al-Ash bin Wail, Al-Ash bin Hisyam, Abu Jahal, dan semisal mereka. Adapun orang-orang lemah kaum muslimin yang mereka tertawakan semisal famili Ammar, Khabbab, Shuhaib, serta Bilal radhiyallahu ‘anhum ajmain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَامَزُوْنَۖ

“Apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di depan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 30)

Allah menerangkan kebusukan perilaku orang-orang kafir yang kedua, yaitu jika orang-orang muslim melintas melewati tempat berkumpulnya mereka, maka mereka akan saling mengedip-ngedipkan mata dan saling melihat satu sama lain. Ini adalah bentuk penghinaan dan perendahan orang lain.

Dalam Tafsir Al-Iklil disebutkan bahwa ayat ini menjadi dalil larangan merendahkan, menertawakan, serta mengedip-ngedipkan mata dengan bentuk menghina kepada kaum muslimin. Allah melarang ini bagi kaum kafir, bukan berarti larangan ini cuma khusus bagi mereka, namun sesama kaum muslimin juga terlarang untuk berbuat ketiga perbuatan buruk ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذَا انْقَلَبُوْٓا اِلٰٓى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَۖ

“Apabila balik kepada kaumnya, mereka balik dengan ceria ria (dan sombong).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 31)

Allah jelaskan kebusukan orang kafir yang lebih jauh lagi, yaitu perendahan mereka kepada kaum muslimin tidak cuma selesai pada tempat nongkrong dan kongkow mereka saja, akan tetapi terlebihlagi berlanjut ke rumah mereka. Ketika mereka selesai dari dewan batil mereka, kemudian pulang ke rumah, akan mereka ceritakan apa yang mereka lakukan tadi kepada famili mereka, kemudian mereka semua tertawa bersama, menertawakan kaum muslimin. Suatu tertawa yang Allah siapkan neraka Jahanam untuk membakar mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ , وَمَآ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَۗ

“Apabila melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,” padahal mereka (orang-orang yang berdosa itu) tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin).” (QS. Al-Muṭaffifīn: 32-33)

Kaum musyrik Quraisy memberikan label kesesatan kepada orang-orang yang beriman, dikarenakan Islam dianggap kepercayaan yang menyempal dari kepercayaan buyut moyang mereka, berbeda dengan kepercayaan dan kepercayaan yang mereka yakini. Kaum muslimin juga dianggap sesat karena meninggalkan banyak kenikmatan bumi yang bisa mereka petik hari ini untuk mengejar pahala di akhirat, sedangkan orang-orang musyrik tidak percaya adanya balasan kebaikan setelah kematian. Serta dianggap sesat karena mengikuti Nabi Muhammad yang dikatakan membawa kepercayaan baru yang merusak kepercayaan durasi mereka.

Kemudian Allah membantah klaim mereka atas vonis sesat yang diberikan, yaitu Allah katakan padahal orang-orang musyrik itu tidaklah diutus sebagai inspektur ucapan dan kebaikan yang dilakukan kaum muslimin, lantas kenapa mereka bisa mengatakan kaum muslimin eksis dalam kesesatan?

Allah meminta setiap person untuk melihat ke dalam urusan diri mereka masing-masing, menjalankan sesuai jalur lurus ketentuan yang telah Allah gariskan, kemudian meluruskan apa yang bengkok dari perbuatan mereka, bukan malah sibuk mencari kesalahan dan vonis pada orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَالْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُوْنَۙ

“Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 34)

Pada ayat ini, Allah sebutkan tentang sepertiapa roda hayat akan berputar di bumi dan akhirat. Ketika kaum muslimin di bumi merasakan tekanan bermutu dikarenakan kezaliman yang dilakukan orang-orang kafir, kaum mukminin banyak yang disiksa dan dibunuh dalam invasi militer yang dilakukan para zionis ke negara-negara muslim, kemudian direndahkan, dihina, serta ditertawakan karena menjaga keagamaan yang kokoh dalam hati mereka. Maka saat kemudian kelak di hari kiamat, Allah balik keadaannya.

Pada hari kiamat, Allah akan membikin kaum muslimin merasakan kenikmatan besar berupa menertawakan orang-orang kafir yang dahulu menzalimi dan menyakiti mereka. Ketika malaikat menyiksa dan membakar orang-orang kafir sampai gosong tak bersisa, ketika mereka bersorak dan menangis karena tidak kuat atas siksaan yang diberikan, Allah tambah siksaan jasmani tersebut dengan siksaan batin, yaitu ditertawakan orang kaum muslimin. Ditertawakan, dihina, direndahkan, sambil terus dibakar oleh para malaikat. Suatu siksaan jasmani dan batin yang sangat mengerikan.

And tidak perlu merasa heran dengan nikmat ini, tidak perlu Anda bertanya, “Wah, apa tidak iba mereka ditertawakan demikian dalam keadaan disiksa? Apa boleh yang seperti ini?” Anda tidak perlu risau dengan nikmat ini yang Allah berikan kepada kaum mukminin di akhirat. Jika Anda risau, maka tengoklah sepertiapa kejinya orang-orang kafir membantai kaum muslimin, sepertiapa genosida yang mereka lakukan, sepertiapa mereka menghancurkan rumah dan negeri kaum muslimin, sepertiapa mereka memperkosa wanita-wanita kaum muslimin yang menjaga dirinya. Tengoklah kebusukan mereka, kemudian tengoklah bahwa banyak di antara para penjahat tersebut yang sampai hari ini statis hidup bebas dengan harta jarahan perang yang mereka ambil dari kaum muslimin. Setelah mengingat itu, Anda pasti akan merasa bahwa menertawakan kaum kafir di akhirat adalah bentuk keadilan dari Allah

Bacalah sepertiapa orang-orang Kristen dahulu membantai kaum muslimin yang ada di Granada Andalusia, bacalah genosida dan penghancuran etnis muslim yang terjadi Bosnia tahun 1995, bacalah sepertiapa genosida yang dilakukan oleh zionis Israel kepada rakyat Palestina yang statis terjadi sampai hari ini. Begitu kejamnya mereka, bergabung padu menghancurkan Islam. Namun Allah senantiasa menjaga Islam sampai hari kiamat. Dengan melihat kebengisan mereka, kita jadi bisa sangat mengerti tentang nikmat pada ayat ini yaitu, “Pada hari ini (hari kiamat), orang-orang yang berimanlah yang menertawakan orang-orang kafir.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ

“Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn: 35)

Kaum muslimin diberikan nikmat berupa dipan-dipan, ranjang serta permadani yang empuk, ditemani istri mereka dan para bidadari yang cantik jelita, semua makanan paling enak dihidangkan. Ketika bersandar pada dipan-dipan ini, Allah berikan kesempatan mereka bisa melihat orang-orang kafir disiksa hingga hancur, kemudian ditertawakan.

Imam Qurthubi menjelasakan bahwa penguni neraka merasa sangat tersiksa, sehingga mereka mencari-cari metode agar bisa keluar darinya. Suatu saat pintu neraka dibuka, kemudian penghuni neraka melihatnya dan beramai-ramai untuk menaiki tebing neraka untuk bisa naik sampai pintunya. Mereka menaiki tebing tersebut dengan penuh kesakitan dan kepanasan. Ketika mereka hampir sampai pintu tersebut, serta harapan untuk bisa keluar sudah sangat besar, kemudian Allah menutup pintu neraka sehingga hancurlah harapan mereka, sehingga semakin tersiksalah psikis mereka karena harapan palsu ini. Maka orang-orang mukmin penghuni surga diberi “tontonan” panorama ini, kemudian mereka tertawa atas apa yang terjadi pada orang-orang kafir tersebut dan sama sekali tidak menyimpan rasa iba pada mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ࣖ

“Apakah orang-orang kafir itu telah diberi balasan (hukuman) terhadap apa yang selalu mereka perbuat?” (QS. Al-Muṭaffifīn: 36)

Allah menutup surah ini dengan memberikan pertanyaan, akan tetapi berarti taqrir maupun penetapan dan penegasan atas apa yang dikandung oleh arti ayat. Yaitu, apakah orang-orang kafir telah diberikan balasan setimpal atas segala ejekan, perendahan, dan ejekan yang mereka timpakan kepada orang-orang beriman? Jawabnya: Tentu benar! Semoga Allah melindungi kita semua.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan halaman rujukan adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads