Tafsir Surah At-Takwir (Bag. 2): Allah Bersumpah Atas Benarnya Al-Qur’an dan Rasul-Nya

Aug 09, 2026 11:00 AM - 2 jam yang lalu 6

Pada penggalan tafsir sebelumnya, kita telah memandang gimana keadaan menjelang dan ketika hari hariakhir terjadi. Huru-hara serta beragam perihal mengerikan yang membikin takut manusia, apalagi hewan yang tidak berakal juga ketakutan. Setelah itu, manusia bakal ingat semua yang telah dia kerjakan, dirinya kemudian menanti apakah bakal dilemparkan ke dalam neraka yang sangat dalam alias didekatkan dengan surga penuh kenikmatan, sebagaimana akhir potongan ayat.

Setelah itu, Allah berbincang kepada kita tentang benarnya Al-Qur’an dan jujurnya Rasulullah sebagai penyampai wahyu kepada manusia. Pembuktian kebenaran ini sangat krusial lantaran banyak manusia mendustakan huru-hara hari kiamat, tidak percaya bahwa hariakhir bakal terjadi. Maka, Allah memulai potongan ayat ini dengan sumpah untuk menegaskan kebenaran Al-Qur’an.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَلَآ اُقْسِمُ بِالْخُنَّسِۙ , الْجَوَارِ الْكُنَّسِۙ

“Aku berjanji demi bintang-bintang yang beredar lagi terbenam.” (QS. At-Takwīr [81]:15-16)

Pada ayat ini, Allah Ta’ala membuka firman-Nya dengan berjanji dengan benda-benda langit yang sangat menakjubkan. Allah berjanji dengan menyebut “al-khunnas”, ialah barang langit yang mempunyai sifat takhnis alias lenyap dan berlindung ketika siang hari dikarenakan cahayanya tertutup oleh terangnya sinar matahari. Sedangkan ketika malam hari, barang langit ini bakal muncul lantaran hilangnya sinar matahari. Maka sumpah ini mencakup semua barang langit, baik yang memancarkan sinar sendiri seperti bintang alias yang tidak memancarkan, tetapi hanya memantulkan seperti planet dan bulan.

Terdapat kalimat menarik pada ayat ini, ialah Allah berjanji dengan kata “فَلَآ اُقْسِمُ” yang secara harfiah maknanya adalah “tidak bersumpah”, bakal tetapi corak kalimat ini digunakan secara fasih oleh orang Arab sebagai corak sumpah dan penegasan atas sumpah tersebut. Hal ini lantaran saking jelasnya berita tersebut, apalagi tidak perlu kita berjanji untuk menegaskannya, lantaran setiap person yang memandang dan merenungi pasti bakal mengetahui bahwa obyek sumpah adalah betul adanya.

Terdapat rahasia menarik kenapa Allah berjanji dengan benda-benda langit ini, ialah adalah untuk menunjukkan sifat Maha Kuasa Allah, dimana Allah bisa untuk memperjalankan benda-benda langit raksasa tersebut sesuai garis edar mereka di alam semesta, serta bisa untuk mengadakan serta menghilangkan sinar mereka kapanpun Dia kehendaki. Lebih jauh lagi, sumpah ini menepis kegoblokan manusia yang menjadikan barang langit sebagai sesembahan, padahal mereka adalah makhluk Allah yang selalu tunduk kepada-Nya, bergerak sesuai kehendak-Nya, serta dapat dimatikan dan dihancurkan seketika oleh Rabb yang Maha Kuasa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَۙ

“Demi malam andaikan telah larut.” (QS. At-Takwīr [81]: 17)

Allah berjanji dengan malam hari. Kata “عَسْعَسَۙ” dalam bahasa Arab adalah kalimat musytarok alias kalimat yang mempunyai dua makna alias lebih, dimana kedua makna ini adalah makna asasi yang bukan majas, serta dapat digunakan berbarengan dalam satu keadaan yang sama. Makna kata ini adalah datang alias pergi. Oleh lantaran itu, ustadz berbeda pendapat bagian malam mana yang Allah berjanji dengannya..

Sebagian ustadz beranggapan bahwa Allah besumpah dengan awal waktu malam, yang menunjukkan kebutuhan manusia atas pertolongan Allah lantaran datangnya waktu malam yang mencekam dan diliputi oleh kejahatan manusia dan jin. Sebagian lainnya beranggapan bahwa malam di sini adalah akhir malam, ialah pada waktu sahur menjelang subuh, lantaran di dalamnya terdapat momen tersibaknya ketakutan manusia dan bersiap untuk mengawali hari dengan ibadah di waktu sepertiga malam yang akhir. Sebagian ustadz lainnya memaknai sumpah di sini dengan awal dan akhir malam sekaligus lantaran menggunakan kedua makna musytarok bersamaan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَۙ

“Demi subuh andaikan (fajar) telah menyingsing.” (QS. At-Takwīr [81]: 18)

Allah berjanji dengan waktu subuh, di mana waktu subuh adalah waktu manusia untuk memulai aktifitas mereka, di sana terdapat semangat dan kebaikan yang besar, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendoakan umat ini mendapatkan berkah yang melimpah di waktu pagi mereka. Waktu subuh yang datang, membawa nafas kehidupan, manusia bangun dari tidurnya setelah sebelumnya dimatikan oleh Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

“Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu betul-betul firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril).” (QS. At-Takwīr [81]: 19)

Ketiga sumpah yang Allah sebutkan di atas adalah untuk menegaskan kalimat ini, ialah bahwa Al-Qur’an adalah betul-betul firman Allah, yang dibawa oleh malaikat Jibril, diterima oleh Rasulullah, dan disampaikan kepada umat. Sumpah tersebut juga menegaskan bahwa beragam berita tentang hari hariakhir yang disampaikan setiap hari oleh Nabi kepada kaum Quraisy, beliau dakwahkan dengan sepenuh jiwa raga agar manusia beragama dan sadar, adalah betul dari Allah Ta’ala, bukan merupakan perkara perdukunan dan buletin tiruan buatan manusia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍۙ , مُّطَاعٍ ثَمَّ اَمِيْنٍۗ

“Yang mempunyai kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang mempunyai ʻArsy, yang di sana (Jibril) ditaati lagi dipercaya.” (QS. At-Takwīr [81]: 20-21)

Allah Ta’ala menyifati malaikat Jibril dengan lima sifat mulia, dengannya hilanglah keraguan bahwa wahyu yang dikirimkan tidak tersampaikan dengan baik alias terpotong di tengah perjalanan. Namun, wahyu tersebut sampai dengan utuh kepada Rasulullah tanpa ada yang lenyap ataupun tercampur dengan perihal lain.

Pertama, adalah sifat “karim” alias sifat mulia di sisi Allah Ta’ala, terbukti dengan Allah memberikannya hidayah serta memberikan tugas paling muliax, ialah mengantarkan wahyu. Kedua, sifat kekuatan yang besar, di mana beliau bisa untuk menjaga wahyu tersebut dengan kondusif sampai kepada Rasulullah. Ketiga, mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah dengan menjalankan segala apa yang Allah perintahkan. Keempat, malaikat Jibril adalah sosok yang dipatuhi okeh malaikat muqarrabin. Kelima, jujur dan terpercaya, ini adalah sifat inti dan terluhur dari malaikat Jibril, terpercaya dan tidak pernah sekalipun mendusta atas wahyu yang dibawa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا صَاحِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍۚ

“Temanmu (Nabi Muhammad) itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwīr [81]: 22)

Kemudian, risalah kenabian dan wahyu diberikan kepada Rasulullah Muhammad bin Abdillah, seorang pilihan Allah yang paling terpuji di bumi dan langit. Allah sebutkan Muhammad dengan kata “shahib” alias diartikan “temanmu” adalah lantaran sedari kecil, Nabi Muhammad telah hidup di tengah-tengah suku Quraisy, seorang anak dan remaja terbaik dalam suku tersebut.

Dirinya bukan orang asing yang turun dari langit alias muncul dari antah berantah kemudian membawa buletin yang besar, bukan demikian. Akan tetapi, Muhammad adalah seseorang yang kalian kenal kebaikannya, keluarganya adalah family terbaik di tengah bangsa Arab, apalagi kalian menyebutnya Muhammad Al-Amin, seseorang yang jujur lagi terpercaya. Kalian telah memandang gimana akhlaknya ketika tumbuh berbareng kalian, kalian tidak pernah memandang keburukannya. Lantas kenapa setelah dia menjadi Nabi, malah kalian dustakan dan menuduhnya orang gila? Ini adalah suatu kegoblokan nyata dari kaum musyrik Quraisy.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ رَاٰهُ بِالْاُفُقِ الْمُبِيْنِۚ

“Sungguh, dia (Nabi Muhammad) betul-betul telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwīr [81]: 23)

Peristiwa penglihatan malaikat Jibril di ufuk yang terang ini terjadi setelah beliau memandang Jibril pada fase awal turunnya wahyu di dekat Gua Hira. Ketika itu, beliau memandang Jibril sedang duduk di atas bangku di antara langit dan bumi dalam bentuk aslinya yang mempunyai enam ratus sayap.

Malaikat Jibril mempunyai corak yang sangat luar biasa besar, mempunyai 600 sayap yang sangat indah, sampai menutupi seluruh ufuk dan menghalangi sinar matahari. Peristiwa Nabi memandang langsung malaikat Jibril ini menjadikan pengetahuan beliau terhadap malaikat dan wahyu menjadi pengetahuan yang aksiomatis, melahirkan kepercayaan absolut dengan mata panca indra dan mata hati bahwa yang dilihat adalah betul-betul sesesok malaikat yang dekat dengan Allah. Allah berikan pada malaikat bentuk yang sempurna dan indah, serta adanya rasa tenang saat turunnya wahyu, untuk meyakinkan bahwa yang menjumpai adalah malaikat, dan bukan setan yang terkutuk.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍۚ

“Dia (Nabi Muhammad) bukanlah seorang yang kikir (enggan) untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwīr [81]: 24)

Ayat ini adalah pujian yang sangat tinggi bagi Rasulullah, beliau mendapatkan kabar-kabar gaib tentang kiamat, surga, dan neraka, serta mendapatkan pengetahuan gimana untuk dapat menghindari neraka serta mendapatkan kesenangan kekal di surga. Semua perihal tersebut tidak disembunyikan oleh Nabi, apalagi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dakwahkan seluas-luasnya kepada semua orang.

Ayat ini juga menunjukkan kepedulian besar dari Nabi terhadap kita umatnya. Kalau seandainya Nabi merasa berat dan enggan menyampaikan risalah, beliau jengah dengan sikap umatnya yang membangkang, maka beliau tidak bakal sampaikan jalan menuju kebahagiaan kepada umatnya. Rasanya biarlah disimpan sendiri saja agar yang selamat hanya orang dekat beliau, dan biarlah para pembangkang itu disiksa sampai lenyap di neraka.

Namun, tidaklah demikian, beliau adalah orang yang sangat peduli dengan umatnya. Semua jalan menuju surga telah Nabi sampaikan kepada kita dengan corak penyampaian terbaik. Seratus persen waktu dan tenaga beliau digunakan untuk menyamaikan risalah ilahi, berliau bersusah payah menyampaikan kebaikan agar kita semua selamat, bisa berjumpa dengan beliau kelak di surga. Meskipun kadang, kita menjadi umat yang ngeyel dan mbalelo.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍۚ

“(Al-Qur’an) itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk.” (QS. At-Takwīr [81]: 25)

Allah juga membantah orang musyrik Quraisy yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah perkataan setan. Dikarenakan mereka mengatakan bahwa setan dari kalangan hantu di langit bisa mencuri-curi dengar wahyu yang turun, kemudian juga bisa untuk mengganggu wahyu yang turun sehingga rusak dan sampai dalam keadaan cacat. Kebodohan kaum musyrik ini dibantah dengan keras oleh Allah langsung. Bahkan Allah siapkan panah api yang sangat panas dan membakar bagi hantu yang berupaya mencuri buletin langit.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗ

“Maka, ke manakah Anda bakal pergi?” (QS. At-Takwīr [81]: 26)

Setelah diterangkan bahwa Al-Qur’an itu betul-betul datang dari Allah dan di dalamnya ada hidayah dan petunjuk yang memimpin manusia ke jalan yang lurus, ditanyakanlah kepada orang-orang kafir itu, “Jalan manakah yang bakal Anda tempuh?” Apakah tetap bakal menempuh jalan kesesatan, jalan kezaliman sehingga berhujung dalam neraka, alias mengikuti jalan petunjuk ini untuk menjadi sebaik-baiknya manusia di bumi dan bisa beristirahat tenang di surga kelak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙ

“(Al-Qur’an) itu tidak lain, selain peringatan bagi semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 27)

Al-Qur’an adalah nasihat dan pengingat bagi seluruh makhluk yang ada di alam ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ

“(Yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)

Allah telah berikan jalan serta kesempatan untuk menuju kebaikan alias menuju kepada kehancuran. Siapa saja yang mengikuti jalan kebenaran, beragama dengan benar, menjalankan syariat-Nya, serta mempunyai adab yang mulia, maka dia telah berada di jalan yang lurus, yang mengantarkan kepada kebahagiaan bumi dan kebahagiaan kekal di akhirat.

Kalimat “لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ” adalah badal alias kata tukar dari “لِّلْعٰلَمِيْنَۙ” yang berarti bahwa Al-Qur’an menjadi nasihat dan petunjuk bagi orang-orang yang menerima dan mempelajarinya. Adapun orang yang merasa acuh dari Al-Qur’an, maka dirinya berada dalam kerugian dan kegelapan yang sangat gelap.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

“Kamu tidak dapat berkehendak, selain andaikan dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)

Surah At-Takwir ditutup dengan khawatimus suwar alias penutup yang sangat indah, ialah istikamah menempuh jalan kebenaran tidaklah dapat diwujudkan selain dengan kehendak dan taufik dari Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Maka janganlah jumawa jika pada saat ini kita berada dalam keimanan, teruslah bermohon kepada Allah agar tetap memberikan ketaatan kepada kita. Sebaliknya, terus doakan saudara-saudara kita yang belum beriman, doakan dan dakwahkan, agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Mayoritas cetakan dan laman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/

Selengkapnya