Menunda Bayar Hutang Padahal Sudah Mampu, Apakah Termasuk Dosa?

Aug 07, 2026 06:49 PM - 12 jam yang lalu 56
menunda bayar hutangmenunda bayar hutang

Kincai MediaKehidupan era sekarang semakin hari semakin keras dan sadis saja. Agar memperkuat hidup saja orang-orang kudu saling sikut-sikutan tanpa pandang bulu baik kawan maupun lawan. Hanya lantaran memandang orang yang berhutang mendapat rezeki, hutang yang belum jatuh tempo pun sudah ditagih oleh pihak yang memberi hutang. Di sisi lain, ada juga orang yang mengutang menyepelekan bayar hutang. Ia berani menunda bayar hutang padahal sudah mampu. Dilihat dari perspektif pandang norma Islam, gimana norma menunda bayar hutang padahal sudah mampu? Bagaimana juga norma menagih hutang sebelum jatuh tempo?

Dalam pembahasan fikih muamalah, janji yang mengatur utang-piutang disebut dengan janji qardh, yang dalam janji ini pihak pemberi hutang disebut dengan muqridh, dan pihak yang berhutang disebut  dengan muqtaridh. Hukum asal dari memberi hutang adalah sunnah lantaran merupakan salah satu corak  menolong orang lain dari kesulitan, sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi:

مَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ العَبْدِ مَا دَامَ العَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ. رواه مسلم

“Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah bakal melepaskan kesulitannya di hari kiamat; Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama dia (suka) menolong saudaranya” (HR. Muslim)

Dalam janji qardh sendiri menurut kebanyakan ustadz tidak disyaratkan adanya jangka waktu tertentu untuk pelunasan. Bila syarat tersebut disebutkan saat janji berlangsung, maka syarat tersebut otomatis gugur. Oleh karena itu, pihak pemberi hutang boleh-boleh saja menagih hutang sebelum jatuh tempo. Hal ini sebagaimana diutarakan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (33/128):

اشْتِرَاطُ الأَجَلِ. اخْتَلَفَ الفُقَهَاءُ فِي صِحَّةِ اشْتِرَاطِ الأجَلِ وَلُزُوْمِهِ فِي القَرْضِ عَلَى قَوْلَيْنِ أَخَدُهُمَا لِجُمْهُوْرِ الفُقَهَاءِ مِنَ الحَنَفِيَّةِ وَالشَّافِعِيَّةِ وَالحَنَابِلَةِ وَالْأَوْزَاعِيِّ وَابْنِ الـمُنْذِرِ وَغَيْرِهِمْ وَهُوَ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُ تَـأْجِيْلُ القَرْضِ وَإِنِ اشْتَرَطَ فِيْ العَقْدِ وَلِلْـمُقْرِضِ أَنْ يَسْتَرِدَّهُ قَبْلَ حُلُوْلِ الأَجَلِ.

 “Syarat Tempo Hutang. Ulama berbeda pendapat dalam perihal sahnya syarat jangka waktu dalam janji hutang piutang. Terdapat dua pendapat salah satunya pendapat kebanyakan ustadz dari ajaran Hanafi, Syafi’i, Hanbali, serta pendapat dari Imam al-Awza’i, Imam Ibn al-Mundzir dan ustadz lainnya bahwa dalam utang piutang tidak diwajibkan adanya penentuan tempo pelunasan meskipun sudah disyaratkan dalam akad. Oleh lantaran itu, pihak yang memberi hutang boleh menagih sebelum jatuh tempo”

Meskipun boleh menagih hutang sebelum jatuh tempo, hanya saja sebaiknya ditangguhkan terlebih dulu sesuai dengan kesepakatan, sebagaimana dsebutkan dalam kitab Tanwir al-Qulub (halaman 274):

وَلَوْ شَرَطَ أَجَلًا فَالشَّرْطُ لَغْوٌ وَلِلْمُقْرِضِ مُطَالَبَتُهُ قَبْلَ حُلُوْلِهِ وَيُسَنُّ لَهُ الوَفَاءُ بِالتَّأْجِيْلِ

 “Seandainya disyaratkan adanya tempo pelunasan, maka syarat tersebut menjadi sia-sia. Pihak pemberi hutang boleh menagih utangnya sebelum jatuh tempo, namun sunnah baginya menagihnya sesuai dengan  waktu yang disepakati”

Sebagai catatan tambahan, pihak pengutang yang tidak melunasi hutangnya sebelum jatuh tempo padahal sudah mampu, dia tidak tergolong sebagai penunda-nunda pelunasan hutang yang mendapat dosa. Sebab yang masuk kategori ini adalah orang yang bisa bayar namun menunda bayar hutang sampai setelah tempo waktu yang ditentukan, sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Muntaqa Syarh al-Muwaththa’ (5/67):

 (ش قَوْلُهُ “مَطْلُ الغَنِيِّ ظُلْمٌ” الـمَطْلُ هُوَ مَنْعُ قَضَاءِ مَا اسْتُحِقَّ عَلَيْهِ قَضَاؤُهُ. فَلَا يَكُوْنُ مَا لَمْ يَحِلَّ أَجَلُهُ مِنَ الدُّيُوْنِ مَطْلًا. وَإِنَّمَا يَكُوْنُ مَطْلًا بَعْدَ حُلُوْلِ أَجَلِهِ.

“(Penjelasan) hadits Nabi ‘Penundaan penghasilan yang dilakukan oleh orang bisa adalah suatu kezaliman.’ Penundaan yang dimaksud dalam hadits ini adalah mencegah untuk bayar hutang yang semestinya dia lunasi. Oleh lantaran itu, jika tetap belum jatuh tempo maka tidak dikategorikan sebagai upaya penundaan pelunasan hutang. Dikatakan sebagai perbuatan menunda-nunda jika dilakukan sesudah jatuh tempo”

Wallahu a’lam.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya