Sepuluh Hal yang Perlu Diperhatikan sebelum Memberikan Hukuman Pukulan kepada Anak

Aug 07, 2026 11:00 AM - 21 jam yang lalu 71

Mendidik anak tidak selamanya hanya mengedepankan kasih sayang. Kasih sayang memanglah perihal yang perlu dikedepankan dalam mendidik anak, tapi kudu diimbangi dengan ketegasan. Salah satu sikap tegas yang diperlukan bagi seorang anak adalah balasan ketika seorang anak melakukan tindakan buruk.

Hukuman bagi anak bisa berbentuk banyak hal, bisa berupa menahan hak, seperti mengurangi duit jajan, mengurangi screen time, time out, atau perihal yang lainnya. Namun, ada kalanya kesalahan alias tindakan jelek anak terlalu parah alias anak tidak bisa mengambil pelajaran dari balasan lainnya. Oleh lantaran itu, terkadang balasan pukulan diperlukan bagi seorang anak.

Hukuman berupa pukulan bagi seorang anak tentunya bukanlah perihal yang dilakukan pertama kali ketika menghukum. Hukuman pukulan ini dilakukan sebagai opsi terakhir dalam memberikan hukuman. Bagi orang tua, jika mau memberikan balasan berupa pukulan terhadap anak, hendaklah mempertimbangkan banyak perihal sebelum melakukannya. Mulai dari kondisi diri orang tua, tingkat kesalahan anak, dan juga pukulan seperti apa yang dilakukan.

Dalil balasan berupa pukulan

Memberikan balasan berupa pukulan merupakan perihal yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis,

مُرُوا أولادَكُم بالصلاةِ وهُم أبناءُ سبعِ سنينَ ، واضرِبُوهُم عليهَا وهُمْ أبْنَاءُ عَشْرٍ

Donasi bKincai Media/b

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika mereka berumur 7 tahun. Lalu pukullah mereka jika tidak mau mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun.” (HR. Abu Dawud)

Dari sabda ini, kita bisa memandang bahwa Rasulullah memerintahkan kita untuk memukul anak sebagai balasan atas perilaku buruknya. Akan tetapi, jangan sampai diartikan bolehnya memukul begitu saja ketika anak melakukan kesalahan dengan dalil sabda di atas. Pada sabda lain disebutkan,

مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memukul siapa pun dengan tangannya sama sekali, tidak pernah memukul wanita (istri), dan tidak pula memukul seorang pembantu, selain saat beliau berjihad di jalan Allah.” (HR. Muslim)

Dari sabda tersebut, bisa kita simpulkan bahwa memukul merupakan sebuah corak balasan yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, pukulan hanya digunakan sebagai opsi terakhir dari beberapa jenis hukuman, juga hanya dilakukan pada perkara-perkara yang besar saja. Hukuman berupa pukulan jangan dilakukan pada perkara-perkara remeh, seperti anak tertawa terlalu keras, pulang teralu sore, dan lain sebagainya.

Bentuk pukulan yang diberikan

Ketika bicara tentang memberikan balasan berupa pukulan, terkadang Islam terlihat kejam. Hal ini terjadi lantaran belum diketahui pukulan seperti apa yang diperbolehkan untuk dilakukan. Dalam Islam, balasan berupa pukulan dilakukan untuk mendidik, bukan untuk menyakiti. Oleh lantaran itu, pukulan yang dilakukan tersebut hendaklah murni sebagai teguran bagi anak, bukan untuk menyakiti.

Bentuk pukulan yang diberikan kudu memenuhi beberapa syarat berikut:

Pertama, tidak memukul wajah;

Kedua, tidak menyakiti alias apalagi memberikan pengaruh (bekas) permanen;

Ketiga, menggunakan perangkat alias bagian tubuh yang tidak menyakiti.

Maka dari itu, pukulan sebaiknya tidak menggunakan tinju, sikut, alias alat-alat keras yang bisa menyakiti, seperti kayu, tongkat besi, dan semisalnya. Apalagi jika memukul pada aera wajah, tentu perihal tersebut lebih terlarang lagi. Pukulan bisa dilakukan dengan bagian tubuh yang susah untuk melukai (seperti memukul dengan jari) alias perangkat yang tidak melukai.

Baca juga: Bolehkah Memukul Anak?

Sepuluh perihal yang perlu diperhatikan sebelum memberikan balasan pukulan

Setelah kita ketahui dalil tentang memberikan balasan pukulan, juga tentang gimana corak pukulan yang diberikan, bukan berfaedah kita bisa memulai memberikan pukulan sebagai hukuman. Sebagai orang tua, kita tetap kudu memperhatikan beberapa perihal sebelum memberikan pukulan. Walaupun pukulan yang kita berikan tidak menyakitkan, jika dilakukan dengan tidak tepat, maka perihal itu bakal membikin jarak antara kita dengan anak.

Syekh Ahmad bin Nashir Ath-Thayyar dalam kitab Kaifa Turabbi Abnaaka menyebutkan 10 perihal yang perlu diperhatikan sebelum memberikan balasan berupa pukulan terhadap anak:

Pertama, perhatikan kondisi psikologis dan bentuk anak, tingkat kesalahannya, dan mempertimbangkan apakah kesalahannya itu memang layak dihukum dengan pukulan. Jangan sampai kita memberikan balasan berupa pukulan pada perkara yang remeh.

Kedua, jangan memukulnya jika kesalahan itu baru pertama kali dilakukan. Sebaliknya, peringatkan dia agar tidak mengulanginya lagi, alias dia bakal menghadapi hukuman.

Ketiga, jangan memukulnya di hadapan siapa pun, demi menjaga nilai dirinya, baik di hadapan dirinya sendiri maupun di hadapan teman-temannya dan orang lain. Tujuan utama memberikan balasan adalah mengajarkannya, bukan untuk mempermalukan dirinya.

Keempat, pukulan yang diberikan tidak boleh keras (menyakitkan) dan menghinakan, serta wajib menghindari bagian wajah. Sebab, memukul wajah diharamkan lantaran adanya larangan secara unik dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Cukupkan memberikan pukulan yang membuatnya sadar bakal kesalahannya meski hanya dengan pukulan yang ringan saja.

Kelima, hukuman pukulan baru boleh dilakukan setelah anak jelas terbukti melakukan kesalahan, seperti mengaku alias ada bukti yang sangat kuat dia telah melakukan kesalahan. Jangan sampai kita memberikan balasan pada perihal yang dia tidak lakukan, apalagi balasan tersebut berupa pukulan.

Keenam, lupakan dosa dan kesalahan tersebut setelah Anda memukulnya, dan jangan pernah mengungkit-ungkitnya lagi kepadanya di kemudian hari.

Ketujuh, jangan melarangnya menangis jika dia menangis saat dipukul alias setelahnya. Sebab, tangisan adalah sarana pelepasan emosi baginya, dan menahan tangis justru bakal rawan bagi kondisi psikologisnya.

Kedelapan, jangan memaksanya untuk meminta maaf kepada Anda alias mencium tangan Anda setelah dipukul. Sebab, dia bakal melakukan perihal itu lantaran terpaksa dan bukan dari kesadaran, yang justru bakal membuatnya merasa terhina dan direndahkan.

Kesembilan, pukulan hanya boleh dilakukan setelah semua metode pendisiplinan yang lain sudah digunakan, seperti balasan mencabut haknya (time-out) alias mendiamkannya untuk waktu yang terbatas. Dengan kata lain, balasan berupa pukulan adalah opsi balasan terakhir.

Kesepuluh, jangan memukulnya secara tiba-tiba ketika dia lengah, tanpa sepengetahuan dan kesadarannya, lantaran perihal itu dapat menyebabkannya mengalami syok psikologis alias kepanikan yang luar biasa.

Penutup

Memberikan balasan kepada anak terkadang perihal yang berat bagi seorang orang tua yang mencintai anaknya. Akan tetapi, balasan tersebut kudu diberikan demi kebaikan sang anak. Salah satu corak balasan tersebut adalah memberikan pukulan. Semoga dengan tulisan ini, kita bisa menjadi lebih bijak dalam mendidik anak.

Perlu diperhatikan, ketika kita memberikan balasan pukulan kepada anak, tujuan utama kita adalah kebaikan bagi mereka, bukan menyakitinya. Maka dari itu, kita perlu mengetahui batas dalam memberi balasan pukulan kepada anak dan apa saja yang perlu diperhatikan sebelum kita memberikan pukulan sebagai balasan bagi anak.

Baca juga: “Reward and Punishment” dalam Mendidik Anak

***

Penulis: Firdian Ikhwanysah

Artikel Kincai Media

Sumber: Kaifa Turabbi Abnaaka, karya Syekh Ahmad bin Nashir Ath-Thayyar.

Selengkapnya