MUI Ingatkan Lomba Agustusan Jangan Jadikan Ajang Judi

Aug 08, 2026 07:00 AM - 1 jam yang lalu 4

Kincai Media,Jakarta - Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Muiz Ali mengingatkan masyarakat agar penyelenggaraan lomba dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-81 tidak mengandung unsur perjudian. Menurut dia, hukum Islam membolehkan perlombaan, namun sistem penyelenggaraannya kudu sesuai dengan ketentuan fikih.

"Yang perlu dihindari dalam penyelenggaraan lomba kudu terhindar dari praktek judi," ujar Kiai Muiz kepada Kincai Media, Jumat (7/8/2026).

Kiai Muiz menjelaskan, memperingati kemerdekaan merupakan corak rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan kepada bangsa Indonesia. Rasa syukur itu perlu diwujudkan dengan memperkuat persatuan, memberikan kontribusi kepada bangsa dan agama, serta memperbanyak dzikir dan doa.

Ia mengutip firman Allah SWT:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: "Sesungguhnya jika kalian bersyukur, niscaya Aku bakal menambah nikmat kepada kalian. Tetapi jika kalian mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangat berat" (QS Ibrahim: 7).

Menurut Kiai Muiz, beragam perlombaan yang digelar saat Agustusan pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam lantaran mempunyai manfaat, seperti melatih ketangkasan, kedisiplinan, sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Ia mengutip pendapat Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni:

وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى جَوَازِ ‌الْمُسَابَقَةِ فِي الْجُمْلَةِ. وَالْمُسَابَقَةُ عَلَى ضَرْبَيْنِ مُسَابَقَةٌ بِغَيْرِ عِوَضٍ وَمُسَابَقَةٌ بِعِوَضٍ. فَأَمَّا ‌الْمُسَابَقَةُ بِغَيْرِ عِوَضٍ فَتَجُوزُ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ تَقْيِيدٍ بِشَيْءٍ مُعَيَّنٍ كَالْمُسَابَقَةِ عَلَى الْأَقْدَامِ وَالسُّفُنِ وَالطُّيُورِ وَالْبِغَالِ وَالْحَمِيرِ وَالْفِيَلَةِ وَالْمَزَارِيقِ وَتَجُوزُ الْمُصَارَعَةُ، وَرَفْعُ الْحَجَرِ لِيُعْرَفَ الْأَشَدُّ**

Artinya: "Ulama Islam ijma’ atas kebolehan perlombaan secara umum. Perlombaan ada dua macam, ialah perlombaan tanpa ada bingkisan dan perlombaan dengan hadiah. Perlombaan tanpa bingkisan yang diperebutkan hukumnya boleh secara absolut tanpa ada ketentuan mengikat, seperti lomba lari, perahu, burung, bighal, keledai, gajah, dan lembing. Begitu pula boleh lomba gulat dan lomba angkat batu untuk mengetahui siapa yang paling kuat." (Ibnu Qudamah, Al-Mughni, Jilid IX, h. 240).

Meski demikian, Kiai Muiz menegaskan bahwa lomba tidak boleh berubah menjadi praktik perjudian. Ia mengingatkan panitia agar tidak menggunakan duit pendaftaran peserta sebagai sumber bingkisan perlombaan.

"Panitia penyelenggara lomba berhadiah tidak diperbolehkan menggunakan duit pendaftaran peserta sebagai bagian dari biaya hadiah. Itu tidak betul secara ketentuan fikih dan haram hukumnya," kata Kiai Muiz.

Ia mengutip penjelasan ustadz dalam Hasyiyah al-Bajuri 'ala Fath al-Qarib: 

وَإِنْ أَخْرَجَاهُ أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ مَعًا لَمْ يَجُزْ ... وَهُوَ أَيِ الْقِمَارُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ لَعْبٍ تَرَدَّدَ بَيْنَ غَنَمٍ وَغَرَمٍ

Artinya: "Dan jika kedua pihak yang berkompetisi mengeluarkan bingkisan secara bersama, maka lomba itu tidak boleh ... dan perihal itu, maksudnya gambling yang diharamkan adalah semua permainan yang tetap simpangsiur antara untung dan ruginya." (Hasyiyah al-Bajuri 'ala Fath al-Qarib, Jilid II, h. 310).

Kiai Muiz berambisi masyarakat dapat memanfaatkan momentum Agustusan sebagai sarana memperkuat ukhuwah dan semangat kebangsaan melalui kegiatan yang membawa manfaat, tanpa melanggar ketentuan agama.

Selengkapnya