Tanda Cinta kepada Allah: Mengapa Zikir Menjadi Bukti Kasih Sayang dan Ketaatan Sejati

Intisari Islam Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 2 menit 118883x dilihat
Tanda Cinta kepada Allah: Mengapa Zikir Menjadi Bukti Kasih Sayang dan Ketaatan Sejati

Kincai Media, Jakarta -- "Tanda cinta pada Allah adalah menyukai zikrullah (zikir kepada Allah). Dan tanda tidak suka pada Allah adalah membenci dzikrullah azza wajalla." (HR Baihaqi).

Hadis tersebut menjelaskan hubungan antara zikir dan cinta. Pertanyaan yang timbul: apakah zikir merupakan bagian dari cinta, atau malah cinta itu yang menuntun seseorang untuk berzikir? Cinta adalah fitrah yang dianugerahkan Allah SWT kepada setiap makhluk-Nya; ia hadir dalam nafas manusia dan bisa membawa kebahagiaan maupun kesedihan.

Perbincangan tentang cinta tak pernah habis. Bahkan para sastrawan Barat pun sering kesulitan merumuskan makna cinta karena sifatnya yang relatif dan berlapis. Islam mendorong umatnya mencintai sesama selama cinta itu tetap berada dalam koridor tauhid dan tidak mengesampingkan kecintaan kepada Allah SWT.

Orang yang jatuh cinta cenderung terus-menerus mengingat dan memikirkan yang dicintainya. Demikian pula ketika seorang Muslim mencintai Allah, ingatannya akan selalu tertuju kepada-Nya — itulah yang dalam istilah Islam disebut zikrullah; zikir menjadi wujud nyata cinta hamba kepada Khalik.

Zikir termasuk ibadah yang paling dicintai oleh Allah; ia tergolong ibadah yang suci dan memiliki derajat tinggi. Selain itu, berzikir dinilai lebih utama daripada menyedekahkan emas, perak, atau berlian, maupun berperang melawan musuh-musuh Islam (HR Ahmad).

Ketika para sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang amalan yang paling utama di sisi Allah saat hari kiamat, beliau dikisahkan menerima pertanyaan itu seperti berikut:

''Ibadah manakah yang paling utama di sisi Allah ketika hari kiamat?''

Nabi SAW menjawab, ''Orang-orang yang banyak berzikir'' (HR Tirmidzi).

Artikel Lainnya Intisari Islam

Bagikan Postingan