Fitnah al-Masih ad-Dajjal adalah salah satu tanda besar hariakhir yang paling banyak dijelaskan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ustadz apalagi menyebutnya sebagai tuduhan terbesar sejak Allah menciptakan manusia, lantaran dahsyatnya kekuatan, tipu daya, dan kecepatan pergerakannya. Setiap muslim perlu mengenal tuduhan ini, bukan untuk ditakuti, tetapi agar dapat mempersiapkan ketaatan sebelum datangnya ujian yang menggoyahkan hati manusia.
Makna kata “Al-Masih”
Abu Abdillah al-Qurthubi menyebut ada dua puluh tiga pendapat mengenai asal-usul kata ini, sementara penulis al-Qamus apalagi menyebut hingga lima puluh pendapat. Kata al-Masīh sendiri dapat dipakai untuk makna yang betul dan jujur, dan juga digunakan untuk makna yang sesat dan pendusta. Maka, Al-Masih ‘Isa bin Maryam عليه السلام adalah yang jujur dan benar, sedangkan Al-Masih Ad-Dajjāl adalah yang sesat lagi pendusta.
Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan dua “al-Masih”, namun keduanya berlawanan satu sama lain: Isa عليه السلام adalah Al-Masih petunjuk, beliau menyembuhkan orang buta sejak lahir, menyembuhkan penderita kusta, dan menghidupkan orang meninggal dengan izin Allah.
Adapun Dajjal -semoga Allah melaknatnya- adalah Al-Masih kesesatan, dia menyesatkan manusia melalui beragam keajaiban yang diberikan kepadanya sebagai ujian, seperti menurunkan hujan, membikin bumi kembali hijau, dan beragam kejadian luar biasa lainnya.
Makna kata “Ad-Dajjal”
Adapun kata ad-Dajjal berasal dari ungkapan dajala al-ba‘ir, ialah seseorang memoles unta dengan ter untuk menutupinya. Akar kata dajal sendiri berarti menutupi dan mencampur-adukkan, dan digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang dibalut, ditutup, alias dipalsukan.
Oleh lantaran itu, ad-Dajjal berfaedah pembohong besar yang suka menipu, seseorang yang menutupi kebenaran dengan kebohongan. Bentuk katanya mengikuti pola fa‘al yang menunjukkan makna mubalaghah (sangat berlebihan), sehingga maksudnya: seseorang yang banyak sekali berbohong dan menyesatkan.
Al-Qurthubi menyebut bahwa kata dajjal dalam bahasa Arab mempunyai hingga sepuluh makna. Namun, istilah ad-Dajjal sekarang telah menjadi nama unik bagi Al-Masih yang buta sebelah lagi pendusta, sehingga ketika disebut Dajjal, tidak ada yang terlintas selain dirinya. Dajjal disebut demikian lantaran dia menutupi kebenaran dengan kebatilan, alias lantaran dia menutupi kekufurannya dengan beragam tipu daya dan penyesatan, alias lantaran dia mengaburkan keadaan melalui banyaknya pengikut dan kekuatan yang dibawanya.
Baca juga: Mengenal Hari Kiamat dan Tanda-Tanda Kiamat
Sifat-sifat Dajjal
Dajjal adalah seorang manusia dari keturunan Adam. Ia mempunyai banyak karakter bentuk yang dijelaskan dalam beragam sabda agar manusia dapat mengenalinya dan waspada terhadap ancaman fitnahnya. Dengan mengetahui sifat-sifat tersebut, orang-orang beragama tidak bakal tertipu ketika dia muncul, lantaran mereka telah diberi gambaran yang jelas oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ciri-ciri ini membuatnya berbeda dari manusia biasa, sehingga tidak bakal tertipu olehnya selain orang jahil yang telah ditetapkan kesengsaraannya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.
Di antara sifat-sifatnya adalah dia adalah seorang laki-laki, tetap muda, berkulit kemerahan, tubuhnya pendek, kedua kakinya bengkok, rambutnya keriting, dahinya lebar, dan dadanya bidang. Ia buta pada mata kanannya, mata itu tidak menonjol dan tidak pula tenggelam, tetapi seperti buah anggur yang rusak. Sementara mata kirinya tertutupi oleh selaput tebal. Di antara kedua matanya tertulis “ك ف ر” alias “كافر”, dan tulisan itu dapat dibaca oleh setiap Muslim, baik yang bisa membaca maupun yang tidak. Di antara karakter lainnya, dia tidak mempunyai keturunan.
Berikut beberapa sabda sahih yang menyebut sifat-sifat tersebut sebagai tanda kuat atas kemunculan Dajjal:
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika saya tidur, saya melakukan tawaf di Ka‘bah…” (lalu beliau menceritakan bahwa beliau memandang ‘Isa bin Maryam عليه السلام, kemudian memandang Dajjal). Beliau menggambarkannya,
فَإِذَا رَجُلٌ جَسِيمٌ، أَحْمَرُ، جَعْدُ الرَّأْسِ، أَعْوَرُ الْعَيْنِ، كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِئَةٌ
“Tiba-tiba tampak seorang laki-laki besar tubuhnya, berkulit merah, berbulu keriting, buta sebelah matanya; mata itu seperti anggur yang rusak.” Para sahabat berkata,
هَذَا الدَّجَّالُ أَقْرَبُ النَّاسِ بِهِ شَبَهًا ابْنُ قَطَنٍ، رَجُلٌ مِنْ خُزَاعَةَ
“Orang itu paling mirip dengan Dajjal adalah Ibnu Qathn,” ialah seorang laki-laki dari kabilah Khuza‘ah. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam sabda An-Nawwas bin Sam‘an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan Dajjal dan bersabda,
“Ia seorang pemuda, berbulu keriting, matanya menonjol. Seakan-akan saya melihatnya persis seperti ‘Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut tentang Dajjal di tengah-tengah manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ، أَلَا وَإِنَّ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُمْنَى؛ كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah buta sebelah. Ketahuilah, Al-Masih Ad-Dajjal itu buta pada mata kanannya; matanya seperti buah anggur yang menonjol.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dalam sabda ‘Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ مَسِيحَ الدَّجَّالِ رَجُلٌ، قَصِيرٌ، أَفْجَعُ، جَعْدٌ، أَعْوَرُ، مَطْمُوسُ الْعَيْنِ، لَيْسَ بِنَاتِئَةٍ وَلَا جُحْرَاءَ، فَإِنْ أُلْبِسَ عَلَيْكُمْ؛ فَاعْلَمُوا أَنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Sesungguhnya Al-Masih Ad-Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, kulitnya condong gelap, rambutnya keriting, dan dia buta sebelah. Matanya rusak, tidak menonjol dan tidak pula cekung. Jika kalian bingung mengenalinya, maka ketahuilah bahwa Tuhan kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ibnu Majah, sabda shahih)
Dalam sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَسِيحُ الضَّلَالَةِ؛ فَإِنَّهُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ، أَجْلَى الْجَبْهَةِ، عَرِيضُ النَّحْرِ، فِيهِ دِفَأٌ وَأَمَا
“Adapun Al-Masih Ad-Dalalah (Dajjal), maka dia buta salah satu matanya, dahinya lebar, lehernya kekar, dan tubuhnya condong (cacat fisik).” (HR. Ahmad)
Dalam sabda Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Dajjal itu buta mata kirinya, rambutnya lebat dan kusut.” (HR. Muslim)
Jika kita perhatikan, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa mata kanan Dajjal yang buta; sementara riwayat lain menyebut mata kirinya yang buta. Seluruh riwayat tersebut sahih, sehingga perihal ini tampak menimbulkan persoalan.
Al-Hafiz Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sabda Ibnu ‘Umar dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim yang menyebut mata kanannya yang buta lebih kuat daripada riwayat Muslim yang menyebut mata kirinya yang buta. Sebab riwayat yang disepakati kesahihannya oleh keduanya lebih kuat dari selainnya.
Sementara Qadhi ‘Iyadh beranggapan bahwa kedua mata Dajjal sama-sama cacat, lantaran seluruh riwayat itu sahih. Artinya, mata yang betul-betul lenyap penglihatannya adalah mata kanan sebagaimana disebutkan dalam sabda Ibnu ‘Umar dan dia tampak seperti buah anggur yang rusak. Adapun mata kirinya, pada riwayat lain disebut tertutup lapisan tebal, sehingga meskipun tidak lenyap sepenuhnya, tetap dianggap cacat. Dengan begitu, kedua matanya sebenarnya mempunyai cacat: satu lantaran lenyap total dan yang lain lantaran rusak.
An-Nawawi rahimahullah menilai bahwa pendapat ini sangat baik dan kuat, dan Abu Abdullah Al-Qurthubi rahimahullah juga menguatkannya.
Dalam sabda Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ
“Di antara kedua matanya tertulis kata ‘kafir’.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan,
ثُمَّ تَهَجَّاهَا (كَ فَ رَ)؛ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُسْلِمٍ
“Kemudian beliau mengejanya: kaf–fa–ra. Dan setiap Muslim dapat membacanya.” (HR. Muslim)
Tulisan itu betul-betul nyata sebagaimana adanya. Tidak menjadi masalah jika sebagian orang bisa memandang tulisan tersebut sementara sebagian lainnya tidak, alias jika seorang yang buta huruf bisa membacanya. Hal itu lantaran keahlian memandang adalah sesuatu yang Allah ciptakan dalam diri seseorang, kapan pun dan gimana pun Dia kehendaki. Seorang mukmin bisa memandang tulisan itu dengan mata kepalanya, meskipun dia tidak bisa membaca. Sebaliknya, orang kafir tidak dapat melihatnya meskipun dia bisa membaca dan menulis. Keadaannya mirip dengan gimana seorang mukmin bisa memandang tanda-tanda kebenaran dengan mata hatinya, sedangkan orang kafir tidak. Pada masa itu, Allah bakal menampakkan hal-hal yang di luar dari kebiasaan, sehingga seorang mukmin diberi keahlian memandang tanpa proses belajar.
An-Nawawi rahimahullah berkata, “Pendapat yang betul dan dianut para ustadz yang teliti adalah bahwa tulisan itu betul-betul nyata. Allah menjadikannya sebagai tanda yang jelas dan bukti pasti atas kekafiran, dusta, dan kebatilannya. Allah menampakkan tulisan itu kepada setiap Muslim, baik yang bisa menulis maupun yang tidak, dan Allah menyembunyikannya dari orang-orang yang dikehendaki untuk celaka dan terjerumus dalam fitnah. Tidak ada yang mustahil dalam perihal ini.”
Di antara ciri-cirinya pula adalah yang terdapat dalam sabda Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha tentang kisah Al-Jassasah. Dalam sabda itu, Tamim radhiyallahu ‘anhu berkata,
فَانْطَلَقْنَا سِرَاعًا، حَتَّى دَخَلْنَا الدَّيْرَ، فَإِذَا فِيهِ أَعْظَمُ إِنْسَانٍ رَأَيْنَاهُ قَطُّ، وَأَشَدُّهُ وِثَاقًا
“Kami segera bergegas hingga akhirnya masuk ke sebuah biara. Di dalamnya kami memandang sosok manusia terbesar yang pernah kami lihat, dan dia terikat dengan sangat kuat.” (HR. Muslim)
Dalam sabda ‘Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada makhluk sejak pembuatan Adam hingga hari hariakhir yang fitnahnya lebih besar daripada Dajjal.” (HR. Muslim)
Baca juga: Kapan Terjadinya Hari Kiamat?
Tentang bahwa Dajjal tidak mempunyai keturunan, terdapat dalam sabda Abu Sa‘id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu tentang kisahnya berbareng Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad berbicara kepadanya, “Bukankah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman bahwa Dajjal tidak mempunyai anak?” Abu Sa‘id menjawab, “Benar.” (HR. Muslim)
[Bersambung]
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·