Jakarta -
USG selama kehamilan dapat melihat kondisi janin dengan lebih jelas. Selain mengungkap evolusi organ janin, USG ibu hamil juga bisa melihat sesuatu yang tak terduga.
Belum durasi ini, seorang tabib secara tak terduga menemukan hasil USG yang tak biasa. Dokter ini menemukan satu janin hidup dan janin kedua yang telah wafat dan mengalami kalsifikasi (membatu).
Hasil USG ini didapat dari pengecekan seorang perempuan 27 tahun di Kolkata, India, yang awalnya mengeluhkan sakit perut dan muntah selama enam jam. Perempuan yang tidak diungkap identitasnya ini sedang hamil 12 minggu, dan hasil USG sebelumnya memberitahu hasil normal.
Namun, saat menjalani USG lagi, tabib menemukan satu janin hidup, debar jantung stabil, dan pergerakan normal. Kemudian, USG menemukan sesuatu yang tidak diharapkan siapa pun. Di samping rahim maupun di sisi kiri perut ibu, terdapat janin kedua.
Janin itu sudah wafat dan mengalami kalsifikasi. Berdasarkan panjang tulang pahanya, usia kehamilan perempuan ini sekitar 22 minggu sebelum janin tersebut meninggal.
Dilansir halaman Medical Daily, laporan kasus tersebut diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Medicine pada Juli 2026. Laporan ini mendokumentasikan litopedion yang terjadi berbarengan dengan kehamilan yang sehat. Perlu diketahui, litopedion merupakan gejala medis langka di mana janin wafat bumi di dalam kandungan selama kehamilan di luar rahim dan mengalami pengerasan maupun pembentukan zat kapur (kalsifikasi).
Para tabib di Clinicians at College of Medicine dan Sagore Dutta Hospital di Kolkata, bekerja sama dengan kolega di Sheffield Teaching Hospitals and the University of Nottingham, menulis bahwa kurang dari selusin gabungan seperti itu muncul dalam literatur medis modern.
Apa itu janin membatu?
Litopedion maupun 'lithopedion' berasal dari bahasa Yunani yang berarti 'anak batu'. Kondisi ini terbentuk ketika kehamilan tertanam di luar rahim, di dalam rongga perut, dan janin wafat setelah sekitar bulan ketiga.
Pada titik tersebut, tubuh menghadapi masalah tanpa solusi yang mudah. Jaringan di dalam tubuh terlalu besar untuk diserap kembali, dan tidak ada metode untuk mengeluarkannya.
Hal itu membikin tubuh memperlakukan jaringan ini seperti halnya barang luar besar yang tidak dapat dikeluarkan. Tubuh lantas melapisi jaringan tersebut dengan garam kalsium. Jika dibiarkan bertahun-tahun, akibatnya adalah janin yang secara ampuh berubah menjadi batu.
Menurut laporan tersebut, ada tiga syarat mesti terpenuhi agar janin disebut mengalami kalsifikasi. Pertama, kehamilan mesti bertetap melewati trimester pertama, kemudian jaringan mesti statis steril sehingga tidak terbentuk abses, dan seluruh proses tersebut mesti luput dari inovasi agar kalsifikasi selesai.
Kehamilan abdominal menyumbang sekitar 1 persen dari kehamilan ektopik dan terjadi pada sekitar 1 dari 11.000 hingga 1 dari 30.000 kehamilan. Litopedion sendiri diperkirakan terjadi pada 0,0054 persen dari semua kehamilan.
Perlu diketahui, litopedion sering kali tidak menimbulkan gejala. Namun dalam beberapa kasus dapat menimbulkan gejala klinis seperti nyeri perut dan pembengkakan.
Dalam kasus terbaru ini, litopedion diangkat tanpa mengganggu kehamilan yang sedang berlangsung. Pemulihan pasca operasi berjalan lancar, dan tindak lanjut mengkonfirmasi evolusi kehamilan intrauterin yang normal.
Penyebab litopedion
Ada beberapa penyebab yang dikaitkan dengan kondisi litopedion, yakni:
- Kehamilan ektopik yang tidak terdiagnosis.
- Tidak adanya akomodasi medis memadai pada masa lalu, sehingga ibu tidak mendapat penanganan segera.
- Janin sudah cukup besar sehingga tubuh tidak bisa menyerap balik jaringan janin.
Litopedion, histori operasi caesar, dan USG
Riwayat operasi caesar sebelumnya merupakan aspek konsekuensi yang diketahui menyebabkan gangguan sisa luka rahim, sehingga menaikkan kerentanan terhadap kehamilan abdominal sekunder. Diagnosis sering tertunda karena gejala yang samar dapat dikaitkan dengan kehamilan yang sedang berlangsung.
Kasus-kasus yang dipublikasikan mencatat bahwa nyeri perut adalah gejala yang biasa muncul, sering kali akibat efek massa maupun iritasi lapisan perut. Nyeri yang terus-menerus maupun parah selama kehamilan adalah karena untuk menjalani pemindaian USG.
Tes kehamilan rutin dan USG awal terlebihlagi disebut dapat mendeteksi kehamilan abdominal jauh sebelum kalsifikasi dimulai. Hal itu membikin kondisi ini semakin jarang terjadi seiring dengan peningkatan perawatan prenatal.
Perlu diketahui, litopedion kecil tanpa gejala pada perempuan yang tidak hamil terkadang dapat dibiarkan saja. Namun, selama kehamilan, batu ginjal bergeser karena massa kalsifikasi yang beku dapat menghalangi rahim yang membesar, menyebabkan malpresentasi janin, maupun menekan usus dan kandung kemih seiring dengan evolusi kehamilan.
Demikian kisah Bunda hamil yang hamil janin hidup dan janin membatu secara bersamaan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)