Wahai Jiwa, Jangan Kembali Kepada Kehinaan Maksiat!

Jun 05, 2026 11:00 AM - 1 minggu yang lalu 10133

Jiwa kita seumpama tunggangan berupa hewan ternak yang mudah tunduk pada tuannya. Namun, kehidupan bumi seumpama alam liar yang membikin gairah melawannya terus terasah. Tugas kita adalah terus menjinakkannya agar senantiasa mengikuti arah menuju kebaikan. Namun, hewan yang telah menikmati bebasnya alam liar itu senantiasa mempunyai gairah untuk melawan. Oleh lantaran itu, di tengah gairah menggeliat, inilah tugas utama untuk menjaga jiwa berada di laman kebaikan.

Bila jiwa sudah terbiasa dengan manisnya ketaatan dan kebaikan, ini adalah kebahagiaan di atas kebahagiaan. Namun, sungguh jiwa yang sudah terbiasa dengan kebaikan, lampau berbalik arah menjadi liar dengan kemaksiatan, maka ini adalah kehinaan yang teramat. Simaklah uraian para ulama, di antaranya Ibnu Rajab rahimahullah, yang mengingatkan kita semua tentang hinanya kembali kepada kemaksiatan. Dalam Lathaiful Maarif (hal. 399), beliau memberi pesan,

وما أقبَحَ السيئةَ بعدَ الحسنةِ تمحقُها وتعفُوها

Betapa buruknya keburukan yang dilakukan setelah perbuatan kebaikan! Sungguh keburukan itu bakal menghapus dan membinasakannya!

ذنبٌ واحِدٌ بعدَ التوبة أقبَحُ مِن سبعين ذنبًا قبلَها

Satu dosa yang dilakukan setelah bertobat itu lebih jelek dari tujuh puluh dosa yang dilakukan sebelumnya.

النكسة أصعب من المرض، وربما أهلَكَتْ

Kambuhnya suatu penyakit itu jauh lebih susah disembuhkan dibandingkan terkena sakit pertama kali. Demikian pula dia seringkali berujung kecelakaan–kematian.

سلوا الله الثبات على الطَّاعاتِ إلى الممات، وتعوَّذُوا به من تقلُّب القلوب، ومِنَ الحَوْر بعد الكَوْرِ

Mintalah kepada Allah ﷻ ketetapan hati di atas ketaatan sampai wafat. Dan mohonlah perlindungan kepada-Nya dari berbaliknya hati, serta kemunduran pasca kemajuan yang dilakukan.

Rendahnya kemaksiatan setelah mulianya ketaatan

Ibnu Rajab rahimahullah memberikan wasiat,

ما أوحشَ ذلّ المعصيةِ بَعْدَ عزِّ الطاعة، وأفحشَ فقر الطمع بعد غنى القناعة

“Betapa menyedihkannya tergelincirnya kepada kemaksiatan setelah mencapai kemuliaan ketaatan. Dan sungguh hinanya kefakiran melakukan serakah setelah kekayaan berkarakter qanaah.

ارحموا عزيز قوم بالمعاصي ذَلَّ، وغنِيَّ قومٍ بالذُّنوب افتقر

Kasihanilah orang yang dahulunya mulia, tetapi kemudian menjadi rendah lantaran tergelincir maksiat. Dan kasihanilah orang yang dahulunya kaya, tetapi sekarang menjadi miskin lantaran dosanya.”

Ibnu Rajab rahimahullah mau membujuk kita merenungi hinanya orang yang dulunya mulia lantaran kebaikan amal dan kekayaan bakal ganjaran amalnya, lampau terjerembab ke lembah rendah maksiat dan dosa. Terhadap sosok yang demikian, hendaknya kita merasa kasihan. Rasa iba ini dapat kita tujukan kepada sosok yang tenggelam dalam kemaksiatan, baik sosok itu orang lain maupun diri kita sendiri.

Kepada orang lain, janganlah kita biarkan dia tenggelam kembali dalam kehinaan, selamatkan dan jangan tertawakan mereka. Ulurkanlah tangan kepada mereka dengan rahmat dan kasih sayang. Semoga secercah ketaatan di hatinya dapat mendorongnya untuk kembali kepada kemuliaan.

Sedangkan jika sosok itu adalah diri kita sendiri, maka kasihanilah dengan berakhir membikin diri kita terus tenggelam. Allah ﷻ menjanjikan pembebasan yang teramat luas bagi kita. Andai seorang hamba membawa dosa sepenuh bumi, sungguh pembebasan Allah ﷻ melampaui itu.

عَنْ أَنَسِ بنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم  يَقُوْلُ :  قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالَـى : يَا ابْنَ آدَمَ ، إنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كَانَ فِيْكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ وَلَا أُبَالِيْ ، يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِيْ بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ، ثُمَّ لَقِيتَنيْ لَا تُشْرِكُ بِيْ شَيْئًا ، لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابهَا مَغْفِرَةً

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Allah ﷻ berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau bermohon dan berambisi hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta pembebasan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang nyaris memenuhi bumi kemudian engkau berjumpa dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan pembebasan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan shahih)

Kembalilah kepada-Nya dengan bersegera. Sungguh Allah ﷻ senantiasa membuka pintu tobat kepada hamba-Nya yang mau kembali.

Dalam sebuah sabda dari Abu Musa ‘Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوْبَ مُسِيئُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah ﷻ selalu membuka tangan-Nya di waktu malam untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di siang hari, dan Allah membuka tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang melakukan kesalahan di malam hari. Begitulah, hingga mentari terbit dari barat.” (HR. Muslim no. 2759)

Baca juga: Sudah Taubat Lalu Bermaksiat Lagi, Apakah Diterima Taubatnya?

Bertobat kepada Allah itu mudah

Sungguh mudah langkah bertobat kepada Allah ﷻ. Tidak disyaratkan membawa bingkisan sebagai pelembut hati, pengorbanan harta, alias semisalnya. Cukup dengan bersuci dan bersujud kepada-Nya, Allah ﷻ bakal membukakan pintu pembebasan kepada kita semuanya. Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلاَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ

“Tidaklah seorang hamba melakukan dosa, lampau dia bersuci dengan baik, berdiri untuk melakukan salat dua rakaat, kemudian meminta maaf kepada Allah, selain Allah bakal mengampuninya.” (HR. Tirmidzi no. 406, diriwayatkan pula oleh Abu Daud dan Ibnu Majah. Al-Albani mengatakan bahwa sabda ini sahih)

Berhenti maksiat seketika sadar

Kemudian renungilah ayat yang Nabi kita ﷺ bacakan setelah sabdanya tersebut,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang andaikan mengerjakan perbuatan biadab alias menganiaya diri sendiri, mereka ingat bakal Allah, lampau memohon maaf terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Salah satu sifat dari seorang yang bertobat diterangkan dalam ayat ini adalah,

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

Ibnu Katsir rahimahullah memberikan keterangan,

أَيْ: تَابُوا مِنْ ذُنُوبِهِمْ، وَرَجَعُوا إِلَى اللَّهِ عَنْ قَرِيبٍ، وَلَمْ يَسْتَمِرُّوا عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَيُصِرُّوا عَلَيْهَا غَيْرَ مقْلِعِين عَنْهَا، وَلَوْ تَكَرَّرَ مِنْهُمُ الذَّنْبُ تَابُوا عَنْهُ

“Maksudnya adalah mereka bertobat dari dosanya dan segera kembali kepada Rabbnya. Mereka tidak terus-menerus melakukan dosa alias mengulanginya. Sekalipun mereka mengulangi dosa itu, mereka bertobat atasnya.”

Dari keterangan ini, ada tiga level orang yang bertobat:

Pertama: Segera berakhir ketika tersadar, tidak menunda hingga maksiatnya selesai terlebih dahulu. Dan ini adalah level tertinggi.

Kedua: Setelah maksiatnya selesai, dia betul-betul berakhir dan tidak mengulanginya.

Ketiga: Seandainya mengulangi maksiat, mereka pun bersegera untuk bertobat darinya. Adapun kelaziman manusia adalah demikian, setidaknya kita dapat menjangkau level ini.

Analogi menyusu maksiat dan pahitnya masa sapihan

Wahai para pejuang tobat! Terimalah pesan dari Ibnu Rajab rahimahullah kepada kita semua ini. Jadilah laki-laki sejati yang bersabar bakal masa sapihan dan jangan menjadi anak mini yang merengek untuk menyusu kepada kemaksiatan.

يا شُبَّانَ التوبةِ، لا تَرجِعُوا إلى ارتضاعِ ثَدْي الهَوَى من بعد الفطام، فالرَّضاع إنما يصلُح للأطفال لا للرجال. ولكن لا بُدّ مِن الصّبْرِ على مَرَارة الفِطام؛ فإنْ صَبَرْتُم تعوَّضْتُم عن لَذَّةِ الهَوَى بحلاوة الإيمان في القلوب

“Wahai para pemuda yang bertobat! Janganlah kalian kembali menyusu kepada hawa nafsu setelah kalian disapih darinya. Menyusu itu hanya layak bagi anak kecil, bukan kepada laki-laki sejati. Akan tetapi, hendaknya kita bersabar atas pahitnya masa sapihan dari maksiat. Apabila kalian sabar, sungguh kelezatan hawa nafsu itu bakal tergantikan dengan manisnya ketaatan di hati kalian.” (Lathaiful Maarif, hal. 399-400)

Baca juga: Tata Cara Salat Tobat

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Referensi:

Lathaiful Maarif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir

Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

Selengkapnya