10 Kaidah Dalam Beribadah (bag. 4)

Jan 11, 2026 11:00 AM - 4 bulan yang lalu 142458

Keinginan untuk beragama itu berbobot ibadah

Hal ini menunjukkan bakal luasnya karunia Allah Tabaraka wa Ta’ala, dimana seseorang yang beriktikad untuk melakukan suatu kebaikan ibadah telah dicatat baginya pahala kebaikan kebaikan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‎مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَت

“Barang siapa yang berkeinginan untuk mengerjakan suatu kebaikan dan dia tidak mengerjakannya, maka ditulis baginya satu pahala kebaikan. Dan andaikan dia mengerjakannya, maka dituliskan untuknya pahala sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus lipat pahala kebaikan. Dan peralatan siapa yang berkeinginan untuk melakukan suatu keburukan dan dia tidak mengerjakannya, maka tidak dicatat atasnya. Dan andaikan dia mengerjakannya, dicatat atasnya satu keburukan.” (HR. Muslim no. 130)

Para ustadz berkata,

Donasi Kincai Media

‎العازم كالفاعل

“Orang yang telah betekad seperti orang yang telah mengerjakan.”

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Kami kembali dari perang Tabuk berbareng Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau bersabda,

إن أقواما خلفنا بالمدينة ما سلكنا شِعْبَا، ولا واديا، إلا وهم معنا؛ حبسهم العذر

“Sesungguhnya ada beberapa kaum yang tertinggal di Madinah; tidaklah kami menempuh suatu jalan di celah gunung alias suatu lembah, melainkan mereka berbareng kami; hanya saja mereka tertahan oleh uzur (halangan).” (HR. Bukhari)

Taufik untuk beragama merupakan karunia Allah

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an,

وَلَوْلَا فَضْلُ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Sekiranya tidaklah lantaran karuria Allah dan rahmat-Nya kepada Anda sekalian, niscaya tidak seorangpun dari Anda bersih (dari perbuatan-perbuatan biadab dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 21)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maksudnya, jika saja Dia tidak memberikan karunia berupa pintu tobat bagi siapa saja yang Dia kehendaki, dan jika saja Dia tidak membersihkan hati manusia dari syirik, dari tindakan-tindakan dosa, dari perbuatan-perbuatan kotor dan akhlak-akhlak buruk, niscaya tidak bakal ada seorang pun yang mempunyai hati yang bersih dan nurani yang baik. (وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّى مَن يَشَآءُ) ‘Tetapi Allah membersihkan siapa saja yang Dia kehendaki’ dari para makhluk-Nya dan Dia menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki ke dalam pintu-pintu kesesatan dan dosa. (وَٱللَّهُ سَمِيعٌ) ‘Dan Allah Maha Mendengar,’ semua ucapan hamba-hamba-Nya, (عَلِيمٌ) ‘Dan Maha Mengetahui,’ tentang orang-orang yang layak mendapatkan petunjuk dan orang-orang yang mendapatkan kesesatan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6: 351)

Dalam surah yang lain, Allah Ta’ala berfirman,

وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ * فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً ۚ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Tetapi Allah menjadikan Anda cinta kepada keagamaan dan menjadikan keagamaan itu bagus di dalam hatimu serta menjadikan Anda tidak suka kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Hujurat: 7-8)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ) ‘Tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keagamaan dan menjadikan ketaatan itu bagus dalam hati kalian,’ yakni, menjadikan keagamaan itu dicintai oleh jiwa kalian serta menjadikannya bagus dalam hati kalian.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ) ‘Serta menjadikan kalian tidak suka kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan.’ Yakni, menjadikan kalian membenci kekufuran dan kefasikan. Kekafiran dan kefasikan adalah dosa-dosa besar. Sedangkan al-’ishyaan (kedurhakaan) adalah segala corak kemaksiatan.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, (أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ) ‘Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.’ Maksudnya, orang-orang yang mempunyai sifat tersebut adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, (فَضْلًا مِّنَ ٱللَّهِ وَنِعْمَةً) ‘Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.’ Yakni, pemberian yang Aku anugerahkan kepada kalian tersebut adalah karunia dan nikmat yang berasal dari sisi-Nya. (وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ) ‘Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.’ Yakni, Maha Mengetahui siapa saja yang berkuasa mendapatkan petunjuk dan siapa saja yang berkuasa mendapatkan kesesatan. Dia Maha Bijaksana dalam setiap ucapan, perbuatan, syariat, serta ketetapan-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 466-469)

Kemudian, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا۟ ۖ قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم ۖ بَلِ ٱللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَىٰكُمْ لِلْإِيمَٰنِ إِن كُنتُمْ صَٰدِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah Anda merasa telah memberi nikmat kepada-Ku dengan keislamanmu. Sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan Anda kepada keagamaan jika Anda adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 17)

Ibnu Katsir rahimahullah berbicara berangkaian dengan tafsir ayat di atas, “Maksudnya, orang-orang Arab Badui mengungkit-ngungkit keislaman, kesetiaan, serta pertolongan yang mereka berikan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun menyangkal perihal tersebut seraya berfirman, (قُل لَّا تَمُنُّوا۟ عَلَىَّ إِسْلَٰمَكُم) ‘Katakanlah: Janganlah Anda merasa telah memberi nikmat (memberi jasa) kepada-Ku dengan keislamanmu,’ lantaran faedah perihal tersebut bakal kembali kepada kalian sendiri. Dan hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla saja karunia yang telah diberikan kepada kalian dalam Islamnya kalian itu.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8: 492)

Memahami poin ini dengan betul dapat membantu seorang muslim untuk tidak berbesar hati diri dengan ibadah yang telah dikerjakan dan menjadikannya pribadi yang senantiasa menggantungkan angan kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. 

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 3

***

Penulis: Annisa Auraliansa

Artikel Kincai Media

Referensi:

  • Kajian 10 Kaidah Penting Dalam Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi dan Ustadz Dr. Firanda Andirja, MA.
  • ‘Asyr Qawa’id Fil ‘Ibadah, Syekh Prof. Dr. Shalih bin Abdul Aziz As-Sindi.
  • Shahih Al-Bukhari (Terjemahan), Pustaka As-Sunnah Jakarta, Cetakan Pertama, April 2010.
  • Tafsir Ibnu Katsir (Terjemahan), Pustaka Ibnu Katsir Jakarta, Cetakan Kedelapan, Rabi’ul Awal 1435/ Januari 2014.
  • Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.
  • Tafsir Juz ‘Amma (Terjemahan), Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Darul Falah Jakarta, Cetakan Pertama, 2007.
Selengkapnya