10 Keutamaan Membaca Al-Qur’an dalam Hadis NabiKincai Media– Al-Qur’an adalah kitab suci yang menjadi petunjuk bagi umat Islam. Karena itu, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an semestinya tidak berakhir pada saat membacanya dalam momentum tertentu. Al-Qur’an perlu datang dalam keseharian: dibaca, didengarkan, dipelajari, dipahami, dan sedapat mungkin diamalkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam beragam hadits menjelaskan sungguh besar keistimewaan membaca Al-Qur’an. Bahkan, kegiatan yang tampak sederhana berupa membaca satu huruf saja mempunyai nilai pahala di sisi Allah SWT.
Berikut sejumlah keistimewaan membaca Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan dalam hadits Rasulullah dan keterangan para ulama.
1. Membaca Al-Qur’an Merupakan Sebaik-baik Ibadah
Membaca Al-Qur’an bukan sekadar kegiatan membaca teks berkata Arab. Ia merupakan ibadah yang mempunyai kedudukan istimewa.
Rasulullah bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَفْضَلُ عِبَادَةِ أُمَّتِي قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ
Artinya, “Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Al-Qur’an.” (HR. Al-Baihaqi).
Hadits ini menunjukkan sungguh membaca Al-Qur’an mempunyai tempat yang mulia dalam rangkaian ibadah seorang Muslim. Karena itu, menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an sejatinya bukan kegiatan tambahan yang dilakukan hanya ketika sedang senggang, melainkan bagian dari upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semakin terbuka pula kesempatan baginya untuk mengenal petunjuk dan nilai-nilai kebaikan yang terkandung di dalamnya.
2. Satu Huruf Al-Qur’an Dibalas Sepuluh Kebaikan
Salah satu keistimewaan yang paling menggembirakan bagi orang yang membaca Al-Qur’an adalah adanya pahala untuk setiap huruf yang dibaca.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ
Artinya, “Siapa saja membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka dia bakal mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh semisalnya. Aku tidak mengatakan alif lâm mîm satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lâm satu huruf, dan mîm satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi).
Hadits ini memperlihatkan luasnya rahmat Allah SWT kepada hamba-Nya. Bacaan yang bagi manusia tampak sederhana rupanya mempunyai nilai yang begitu besar di sisi Allah.
Karena itu, jangan meremehkan beberapa ayat yang dibaca setiap hari. Sedikit tetapi istiqamah dapat menjadi ibadah yang terus menemani perjalanan seorang Muslim.
3. Orang yang Masih Terbata-bata Tetap Mendapat Pahala
Tidak semua orang mempunyai keahlian membaca Al-Qur’an dengan lancar. Ada yang sejak mini telah terbiasa membacanya, tetapi ada pula yang baru belajar ketika dewasa.
Bagi mereka yang tetap terbata-bata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru memberikan berita gembira.
Beliau bersabda:
الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Artinya, “Orang yang pandai membaca Al-Qur’an bakal berbareng para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dan dia terbata-bata dalam membacanya serta merasa berat atasnya, maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim).
Hadits ini semestinya menjadi penyemangat bagi siapa saja yang sedang belajar. Kesalahan dalam mengeja, referensi yang belum lancar, alias waktu belajar yang terasa panjang bukan argumen untuk menjauh dari Al-Qur’an.
Justru, kesungguhan untuk terus belajar dan membaca meskipun terasa susah merupakan bagian dari perjuangan yang mendapatkan penghargaan dari Allah SWT.
4. Membaca Al-Qur’an dalam Shalat Memiliki Keutamaan Besar
Membaca Al-Qur’an juga mempunyai keistimewaan ketika dilakukan dalam shalat.
Menurut keterangan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali ibn Abi Thalib karramallahu wajhah, pahala membaca Al-Qur’an berbeda sesuai keadaan seseorang ketika membacanya.
Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan berdiri ketika shalat mendapatkan jawaban 100 kebaikan. Jika membacanya ketika duduk dalam shalat, mendapatkan 50 kebaikan. Sementara membaca Al-Qur’an di luar shalat dalam keadaan suci mendapatkan 25 kebaikan.
Keterangan tersebut menunjukkan luasnya kemurahan Allah SWT dalam memberikan pahala kepada hamba-Nya. Amal yang sederhana dapat menjadi sangat berbobot andaikan dilakukan dengan tulus dan istiqamah.
5. Membaca Al-Qur’an pada Malam Hari Menjauhkan dari Kelalaian
Malam hari merupakan waktu yang spesial bagi seorang Muslim untuk memperbanyak ibadah. Di tengah suasana yang lebih tenang, membaca Al-Qur’an menjadi salah satu ibadah yang dapat dilakukan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an seratus ayat dalam satu malam, maka bakal dicatat untuknya ketaatan pada malam itu.” (HR. Ahmad).
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Siapa yang membaca 100 ayat dalam satu malam, maka dia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.”
Pesan dari hadits tersebut bukan semata-mata soal jumlah seratus ayat. Lebih dari itu, terdapat dorongan agar seorang Muslim tidak membiarkan malam berlalu tanpa hubungan dengan Al-Qur’an.
Di tengah kesibukan dan beragam kegiatan duniawi, menyediakan waktu untuk membaca Al-Qur’an menjadi langkah sederhana untuk menjaga hati agar tetap terhubung dengan Allah SWT.
6. Al-Qur’an Akan Memberikan Syafaat pada Hari Kiamat
Keutamaan membaca Al-Qur’an tidak berakhir di dunia. Amal tersebut juga menjadi bekal bagi kehidupan akhirat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ؛ فَإِنَّهُ يَأْتِي شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِصَاحِبِهِ
Artinya, “Bacalah Al-Qur’an. Sebab, dia bakal datang memberikan syafaat pada hari Kiamat kepada pemilik (pembaca dan pengamal)-nya.” (HR. Ahmad).
Hadits ini memberikan gambaran bahwa hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an mempunyai akibat yang jauh melampaui kehidupan dunia.
Al-Qur’an bukan hanya referensi yang menemani seseorang ketika hidup, tetapi juga menjadi kebaikan yang diharapkan memberikan pertolongan pada hari ketika manusia sangat memerlukan pertolongan.
Karena itu, membaca Al-Qur’an hendaknya tidak hanya ditujukan untuk mengejar jumlah khatam. Lebih krusial dari itu adalah menjadikannya sebagai sahabat dalam kehidupan, kemudian berupaya memahami dan mengamalkan petunjuknya.
7. Orang yang Disibukkan Membaca Al-Qur’an Mendapat Balasan Istimewa
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan mengenai keistimewaan orang yang disibukkan dengan membaca Al-Qur’an hingga tidak sempat melakukan dzikir dan meminta kepada Allah.
Allah SWT berfirman:
مَنْ شَغَلَهُ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ عَنْ ذِكْرِي وَمَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ ثَوَابِ السَّائِلِينَ
Artinya, “Siapa saja yang disibukkan oleh membaca Al-Qur’an hingga tidak sempat berdzikir dan meminta kepada-Ku, maka Aku bakal memberinya jawaban terbaik dari orang-orang yang meminta.” (HR. Al-Baihaqi).
Hadits tersebut kembali menunjukkan kedudukan Al-Qur’an yang sangat mulia. Membacanya merupakan corak ibadah yang mempunyai keistimewaan besar.
Namun, keistimewaan tersebut semestinya tidak membikin seorang Muslim berakhir pada kegiatan membaca. Al-Qur’an perlu menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan mengarahkan kehidupan kepada kebaikan.
8. Mempelajari dan Mengajarkan Al-Qur’an Mendapat Kemuliaan
Keutamaan Al-Qur’an tidak hanya diperoleh oleh orang yang membacanya. Orang yang mau mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain juga mendapatkan kedudukan yang mulia.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Artinya, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari).
Hadits ini mengajarkan bahwa hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an semestinya berkembang. Bermula dari belajar membaca, kemudian berupaya memahami, mengamalkan, dan akhirnya mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Seorang ayah mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya. Seorang pembimbing membimbing murid-muridnya membaca Al-Qur’an. Seorang kakak membantu adiknya mengenal huruf-huruf Al-Qur’an.
Semua itu merupakan corak keterhubungan dengan Al-Qur’an yang manfaatnya tidak berakhir pada diri sendiri.
9. Membaca Al-Qur’an Menjadi Jalan Melembutkan Hati
Membaca Al-Qur’an juga mempunyai dimensi spiritual yang sangat penting. Para ustadz menjelaskan sejumlah faedah membaca Al-Qur’an, di antaranya melembutkan dan menerangi hati, memfasihkan lisan, memudahkan beragam urusan, serta menjadi karena terkabulnya angan dan permintaan.
Karena itu, Al-Qur’an semestinya tidak hanya datang di rak kitab alias dibaca ketika ada kegiatan tertentu. Ia perlu datang dalam keseharian seorang Muslim.
Ketika hati sedang gelisah, Al-Qur’an menjadi teman. Ketika seseorang sedang mendapatkan kelapangan, Al-Qur’an menjadi pengingat agar tidak lalai. Ketika menghadapi kesulitan, ayat-ayat Al-Qur’an dapat menjadi penguat untuk tetap bersabar.
Membaca Al-Qur’an secara istiqamah juga menjadi latihan untuk menjaga hati agar tidak terlalu jauh dari Allah SWT.
10. Pahala Bacaan Al-Qur’an Dapat Dihadiahkan kepada Orang yang Meninggal
Di tengah tradisi masyarakat Muslim, membaca Al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang yang telah meninggal merupakan ibadah yang dikenal luas.
Dalam naskah yang menjadi dasar tulisan ini disebutkan bahwa menurut Imam Ahmad ibn Hanbal dan sebagian ustadz Syafi’iyah, pahala membaca Al-Qur’an yang dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dapat sampai kepadanya.
Dengan demikian, seseorang dapat membaca Al-Qur’an lampau menghadiahkan pahalanya kepada orang tua, guru, keluarga, alias sesama Muslim yang telah wafat.
Amalan tersebut sekaligus menjadi corak penghormatan kepada mereka yang telah mendahului kita. Bagi orang yang tetap hidup, membaca Al-Qur’an menjadi amal. Bagi orang yang telah meninggal, dia menjadi corak angan dan bingkisan kebaikan yang kita panjatkan kepada Allah SWT.
Jangan Menunggu Bisa Membaca dengan Sempurna
Berbagai keistimewaan tersebut pada akhirnya mengajarkan satu perihal penting: jangan menjauh dari Al-Qur’an hanya lantaran merasa belum bisa membacanya dengan baik.
Bagi yang sudah lancar, teruslah membaca dan mengamalkannya. Bagi yang tetap terbata-bata, teruslah belajar. Bagi yang belum terbiasa, mulailah dari beberapa ayat setiap hari.
Sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan berita ceria bahwa orang yang membaca Al-Qur’an dengan kesulitan pun mendapatkan dua pahala.
Dengan demikian, tidak ada argumen untuk merasa terlalu mini di hadapan Al-Qur’an. Yang dibutuhkan bukan selalu referensi yang banyak, melainkan kemauan untuk terus mendekat dan menjaga hubungan dengannya.
Al-Qur’an tidak kudu selalu selesai dalam satu waktu. Tidak kudu selalu satu juz setiap hari. Bahkan beberapa ayat yang dibaca secara istiqamah dapat menjadi awal dari kebiasaan yang lebih besar.
Pada akhirnya, keistimewaan membaca Al-Qur’an bukan hanya terletak pada banyaknya ayat yang sukses dibaca. Lebih jauh, Al-Qur’an diharapkan menjadi bagian dari kehidupan: dibaca dengan lisan, direnungkan dengan hati, dipahami maknanya, lampau diwujudkan dalam perilaku.
Satu huruf berbobot kebaikan. Kesulitan dalam membacanya mendapatkan pahala. Orang yang mempelajari dan mengajarkannya mendapatkan kemuliaan. Dan Al-Qur’an bakal memberikan syafaat bagi pemiliknya pada hari Kiamat.
Maka, mari menyediakan waktu untuk Al-Qur’an. Tidak kudu menunggu waktu luang, tidak kudu menunggu menjadi ahli, dan tidak kudu menunggu hati betul-betul tenang.
Mulailah dari sekarang, meski hanya beberapa ayat. Sebab, boleh jadi referensi sederhana yang kita lakukan dengan tulus dan istiqamah itulah yang kelak menjadi salah satu bekal paling berbobot di hadapan Allah SWT.