11 Kalimat Sering Dikatakan Anak yang Tidak Bahagia

Jul 07, 2026 09:20 AM - 1 bulan yang lalu 26651

Setiap anak mengalami pasang surut emosi. Wajar jika anak-anak merasa sedih, mudah marah, alias berpikir negatif. Itu adalah bagian dari perkembangan yang sehat dan belajar mengelola emosi, Bunda.

Namun, bagi sebagian anak, emosi "sedih" selama lebih dari beberapa minggu dapat menjadi tanda depresi. Depresi pada anak adalah gangguan suasana hati yang menyebabkan emosi sedih yang mengganggu hubungan dan kegiatan mereka.

Dikutip dari Cleveland Clinic, jika anak mengalami depresi, kesedihan mereka berjalan lebih dari dua minggu. Mereka mungkin juga mengalami iritabilitas alias keputusasaan yang berkepanjangan. Hal ini dapat memengaruhi tidur, nafsu makan, alias hubungan anak dengan orang lain.


Depresi juga dapat mencegah anak menikmati sekolah, olahraga, alias kegemaran yang pernah mereka sukai. Dalam kasus yang parah, depresi dapat menyebabkan pikiran untuk bunuh diri.

Sayangnya, tidak semua orang tua dapat dengan sigap menyadari kondisi anak-anaknya. Apa yang dikatakan anak-anak seringkali tidak dianggap serius, padahal krusial untuk mengenali ungkapan-ungkapan yang sering diucapkan anak-anak yang tidak bahagia.

Jangan anggap sepele, berikut kalimat-kalimat yang sering dikatakan anak yang tidak bahagia:

1. 'Tidak ada yang menyukaiku'

Ketika seorang anak mengungkapkan kalimat bahwa tidak ada yang menyukainya, orang dewasa condong tidak memperhatikannya lantaran mereka berpikir anak itu hanya berlebihan dan itu tidak mungkin benar. Namun, sama seperti orang dewasa, anak-anak juga bisa merasa terisolasi dan tidak dipahami oleh orang-orang di sekitar mereka. Mulai dari berada di kelas, berbaur dengan anak-anak lain di lingkungan mereka, alias apalagi mencoba untuk berbaur dengan family mereka.

Dikutip dari laman Your Tango, ungkapan ini mencerminkan rasa kesenyapan yang lebih dalam dan kemauan untuk terhubung dengan orang lain tetapi tidak betul-betul tahu gimana melakukannya. Mereka mungkin kesulitan berkawan alias menjalin hubungan dengan anak-anak lain, jadi ketika mereka terus-menerus menghadapi penolakan dari kawan sebaya, mudah bagi mereka untuk berpikir ada sesuatu yang salah dengan diri mereka.

2. 'Aku tidak peduli'

Sebagian besar, ketika seorang anak mengatakan kepada orang dewasa alias seseorang di sekitarnya bahwa mereka tidak peduli, perihal itu mungkin hanya terasa seperti mereka tidak berusaha, sehingga orang dewasa mungkin hanya mengabaikan mereka tanpa betul-betul mendengarkan.

Tetapi jika orang tua menggali lebih dalam, kita bakal memandang bahwa anak tersebut tidak hanya mengungkapkan ketidakpedulian tetapi sebenarnya mencoba menyampaikan bahwa mereka merasa kewalahan dan kelelahan secara mental.

Anak-anak mungkin tidak mempunyai kepercayaan diri alias kata-kata untuk betul-betul memberi tahu orang tua mereka alias orang dewasa dalam hidup mereka bahwa mereka hanya memerlukan seseorang untuk mendengarkan. Jadi mereka condong bersikap "aku tidak peduli" sebagai langkah untuk menjauhkan orang dan menjaga jarak.

3. 'Aku takut meminta bantuan'

"Aku takut meminta bantuan" adalah salah satu ungkapan yang sering diucapkan oleh anak-anak yang tidak bahagia. Dan itu lantaran mereka tidak bisa alias kesulitan meminta bantuan.

Bagi banyak anak, mengakui bahwa mereka memerlukan support dalam sesuatu dapat terasa seperti kegagalan. Sama seperti orang dewasa yang mungkin kesulitan mengandalkan orang lain untuk mendapatkan dukungan, anak-anak pun bisa demikian. Ini mungkin terjadi lantaran mereka kudu menjadi "yang kuat" dan mungkin dikritik lantaran tidak bisa melakukannya.

4. 'Aku takut tidak bakal ada yang mengerti aku'

Ketika seorang anak terus-menerus diabaikan alias diremehkan oleh orang-orang di sekitarnya, bakal susah bagi mereka untuk berpikir bahwa mereka bakal pernah dipahami dan diperhatikan. Mereka bakal menggunakan salah satu ungkapan yang sering diucapkan anak-anak yang sangat tidak senang untuk mengungkapkan perihal ini.

Dalam perihal ini, mereka tidak hanya bersikap dramatis, tetapi lantaran ketidakbahagiaan mereka, mereka merasa takut tidak pernah diterima. Itulah kenapa ruang kondusif sangat krusial bagi anak-anak. Mereka perlu diizinkan untuk menjadi tidak sempurna tanpa cemas bakal ditinggalkan alias disingkirkan.

5. 'Kurasa saya tidak bisa mengatasi ini'

Seorang anak yang menggunakan ungkapan ini adalah tanda bahwa mereka merasa sangat kewalahan dan tidak mempunyai perangkat alias bahasa yang diperlukan untuk mengatasinya. Itu bisa berupa perihal mini seperti mencoba menyelesaikan tugas sekolah, alias apalagi perihal besar seperti krisis family alias bentrok yang terjadi di rumah di mana mereka kudu menyaksikannya.

“Ketika kita menghindari alias meremehkan emosi anak-anak kita, kita mengganggu proses ini. Kita mengirimkan pesan bahwa kita tidak nyaman dengan emosi susah mereka dan tidak mau mendengarnya. Hal ini membikin anak-anak condong tidak bakal berbagi emosi mereka dengan kita, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mengekspresikan dan mengatasinya,” jelas master perkembangan anak Claire Lerner.

6. 'Ini salahku'

Saat seorang anak terus-menerus menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang salah, itu bukan hanya upaya mereka untuk bertanggung jawab, tetapi lebih merupakan respons bawaan terhadap emosi mereka tentang diri mereka sendiri dalam hidup ini. Mungkin mereka terus-menerus menjadi sasaran kesalahan, baik itu lantaran jenis rumah tangga tempat mereka dibesarkan alias lingkungan di sekitar mereka di sekolah.

Mereka telah belajar untuk hanya memikul kesalahan sebagai langkah untuk menjaga perdamaian dan menghindari konflik, tetapi berpikir seperti ini sejak usia muda berfaedah mereka mempersiapkan diri untuk selalu berpikir bahwa segala sesuatu adalah kesalahan mereka sendiri.

7. 'Aku tidak mau bicara'

Ketika seorang anak sangat menolak untuk berbincang alias terbuka, mungkin terasa seperti mereka hanya keras kepala, tetapi seringkali itu hanyalah langkah mereka untuk melindungi diri sendiri. Anak-anak yang tidak senang biasanya menutup diri ketika mereka merasa tidak kondusif dan kewalahan.

Mereka berpikir bahwa berbincang bakal lebih berisiko, terutama jika mereka pernah mengalami pengalaman di masa lampau di mana ketika mencoba untuk terbuka, mereka hanya diabaikan alias apalagi dikritik. Diam telah menjadi langkah mereka untuk mencoba tetap mengendalikan apa yang mereka pilih untuk dibagikan.

8. 'Aku merasa sangat bingung'

Ketika seorang anak mengungkapkan bahwa mereka merasa tersesat dalam perihal apa pun, biasanya lantaran mereka merasakan kebingungan yang mendalam. Mereka mungkin merasa seolah-olah mereka tidak betul-betul mempunyai tujuan, yang merupakan emosi besar bagi seorang anak.

Namun, mengingat anak-anak baru saja mencoba memahami diri mereka sendiri dan seringkali membikin kesalahan, ini adalah pengingat bahwa terlepas dari usia mereka, mereka juga berjuang untuk menemukan sedikit stabilitas.

9. 'Semuanya sia-sia'

"Semuanya sia-sia" adalah salah satu ungkapan yang sering diucapkan anak-anak yang tidak bahagia, lantaran ketika seorang anak merasakan keputusasaan yang begitu dalam, susah bagi orang dewasa di sekitar mereka untuk berada di sana dan menghibur mereka, terutama lantaran mereka mungkin tidak mengerti dari mana emosi itu berasal.

Bagi anak-anak, ini bukan tentang satu momen alias situasi tertentu yang membikin mereka merasa seolah hidup ini sia-sia, tetapi lebih tentang pola pikir yang mereka miliki. Bisa jadi lantaran mereka telah berulang kali menghadapi kekecewaan dan sekarang tidak memandang jalan keluar dan sekarang mereka telah berakhir mencoba sama sekali.

Sebagai orang tua, kita perlu menghadapi anak-anak dengan pendapat ini dari perspektif pandang empati daripada membikin mereka bahwa ada yang salah dari mereka.

10. 'Rasanya mau mulai dari awal saja'

Mereka mungkin merasa terjebak dalam situasi di mana memperbaiki sesuatu tampaknya betul-betul sulit. Itu bisa berupa perselisihan dengan teman, mendapat nilai jelek di sekolah, alias apalagi menghadapi sesuatu yang terjadi di rumah.

Mereka berpikir bahwa memulai dari awal bakal membikin mereka merasa lebih baik, dan meskipun itu mungkin betul untuk sementara waktu, melarikan diri dari emosi rumit mereka itu bukan perihal yang tepat, karena emosi itu bakal tetap muncul.

Ketika seorang anak mengungkapkan emosi ini, respons terbaik yang dapat diberikan orang tua alias pengasuh mereka adalah membantu mereka memahami bahwa meskipun perubahan itu wajar, memulai dari awal tidak berfaedah segalanya bakal tiba-tiba menjadi lebih baik.

11. 'Aku takut dengan apa yang bakal terjadi selanjutnya'

Anak-anak yang takut bakal masa depan bukanlah perihal yang aneh. Bagi orang dewasa, perihal itu berasal dari rasa takut tidak bisa mengendalikan apa yang bakal terjadi, dan perihal yang sama juga bertindak untuk anak-anak, Bunda. Bagi anak yang tidak bahagia, perubahan sekecil apa pun dapat terasa mengancam.

Hal ini lantaran mereka sudah berada dalam kondisi ketidakpastian dan ketakutan. Ketidakpastian bukan hanya membikin mereka tidak nyaman, tetapi juga membikin mereka gelisah.

"Menjadi mahir dalam menghadapi perubahan adalah salah satu keahlian hidup terpenting yang dapat kita ajarkan kepada anak-anak kita. Bagi sebagian anak, perihal itu dapat terjadi secara alami, sementara yang lain memerlukan lebih banyak waktu untuk memproses ketakutan alias kekhawatiran mereka," tutur master pengembangan pribadi Ariane de Bonvoisin.

Sebagai orang tua, kita dapat menjadi tempat yang kondusif bagi mereka untuk berlindung ketika kehidupan luar mereka dipenuhi dengan perubahan baru dan kita dapat menunjukkan kepada mereka bahwa cinta dan kehadiran tidak pernah berubah. Demikian menurut de Bonvoisin.

Mulai sekarang, yuk kita kenali kata-kata yang bisa menjadi tanda anak tidak bahagia. Mulai peka saat Si Kecil mengatakan tidak ada yang menyukainya alias kalimat putus asa dalam kegiatan sehari-harinya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya