Kincai Media , JAKARTA -- Pada era keemasan Islam, perkembangan pengetahuan navigasi telah memunculkan para pelaut tangguh. Mereka dapat berkeliling bumi dengan support teknologi yang cukup canggih pada masanya. Misalnya, astrolab yang dikembangkan para intelektual Muslim. Dengan perangkat ini, seorang pelaut dapat menentukan arah kapal dengan memerhatikan posisi benda-benda langit. Selain itu, sejak abad ke-14 mereka juga memanfaatkan kompas yang pertama kali ditemukan bangsa Cina.
Dinamika para saintis dan pelaut Muslim ini jauh mendahului bangsa Eropa yang tetap tertinggal dalam bagian maritim.
Berikut ini bakal tiga di antara begitu banyak tokoh pelaut Muslim yang patut dicatat dalam sejarah. Mereka tidak sekadar berlayar untuk kepentingan pribadi, melainkan demi penyebaran dakwah Islam serta kebanggaan bangsa asalnya masing-masing.
Berbeda dengan kolonialisme Eropa yang juga memanfaatkan pelayaran di samudra, para pelaut Muslim datang ke negeri-negeri tertentu tanpa bermaksud menjajah masyarakat tempatan. Mereka justru menggiatkan kegiatan perdagangan sekaligus menjembatani kebudayaan-kebudayaan yang berbeda.
Ahmad bin Majid
Pelaut Arab ini lahir pada 1421 di Ras al-Khaimah (kini bagian dari Uni Emirat Arab) dan wafat pada 1500. Keluarganya sudah berkawan dengan bumi perniagaan maritim. Saat berumur 17 tahun, Ahmad bin Majid sudah pandai mengemudi bahtera. Dunia Barat mengenalnya sebagai pelaut legendaris yang menolong Vasco da Gama dalam pelayarannya.
Pada akhir abad ke-15, da Gama menyelidiki jalur maritim dari Eropa ke India. Pada akhirnya, ekspedisi pelaut Portugis ini membuka jalan bagi permulaan ekspansi kolonialisme Barat atas Asia dan Afrika.
Sejumlah sejarawan menggelari Ahmad bin Majid sebagai ‘Singa Lautan.’ Ini lantaran luasnya pengetahuan Ibnu Majid mengenai pengetahuan kemaritiman dan juga pengalamannya mengarungi samudra. Dia telah menulis sejumlah kitab tentang bagian tersebut.
Di antaranya adalah Fawaidh fi Usl Ilmi al-Bahra wa al-Qawaidah dan Kitab al-Fawa’id. Isinya lebih mirip ensiklopedia tentang sejarah dan prinsip-prinsip dasar navigasi. Salah satu karyanya menjadi pedoman bagi para pelaut di Teluk Persia untuk mencapai pesisir India dan Afrika timur. Pada zamannya, bangsa Eropa belum mempunyai pengetahuan yang memadai tentang Samudra Hindia.
Cheng Ho
Dia merupakan pelaut asal Cina. Cheng Ho lahir pada 1371 dari family Muslim yang di Yunnan. Nama aslinya adalah Ma He. Dalam bahasa Cina, ‘Ma’ digunakan untuk menyebut Muhammad. Ayah dan kakeknya diketahui pernah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Dapat dikatakan, Cheng Ho berasal dari family Muslim yang taat. Saat tetap muda, kota tempat tinggal Cheng Ho diserang tentara Dinasti Ming. Cheng Ho lantas ditangkap lampau dibawa ke ibukota kekaisaran di Nanjing. Dia mulai bekerja di istana kaisar. Karena kedekatannya dengan pangeran, ketika dewasa Cheng Ho menduduki posisi penting. Gelar kehormatan ‘Cheng’ diberikan dalam masa ini.
Pada periode 1405-1433, Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi kaisar ke sejumlah negeri, antara lain, Melayu, Jawa, Thailand, India, Sri Lanka, Iran, Oman, Yaman, Arab, dan Afrika timur. Dalam pelayarannya, armada Cheng Ho terdiri atas kapal-kapal besar dengan ukuran panjang sekitar 400 kaki. Ukurannya apalagi lebih besar daripada lapangan sepak bola modern.
Selama menjelajah dunia, Cheng Ho menjadi duta sang kaisar di negeri-negeri yang disinggahi. Kaisar memerintahkannya agar menghormati masyarakat tempatan sehingga membawa gambaran baik bangsa Cina. Armada Cheng Ho kerap disambut hangat penguasa setempat, sembari menjalankan misi jual beli dan diplomatik.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·