Faedah ke-42:
Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling agung. Seluruh area Arafah digunakan untuk wukuf, selain bagian tertentu yang disebut lembah Uranah. Dalilnya adalah,
الحج عرفة
“Haji adalah Arafah.” (HR. Abu Daud no. 1949 dan At-Tirmidzi no. 889, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Faedah ke-43:
Jemaah haji melangkah setelah terbitnya mentari pada hari ke-9 Zulhijah dari Mina ke Arafah untuk wukuf di sana. Mereka bertalbiyah alias bertakbir sepanjang jalan, sebagaimana yang dilakukan oleh para sahabat yang menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Haji Wada. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,
كان يُلبي الملبي لا ينكر عليه، ويُكبر المكبر فلا ينكر عليه
“Dahulu orang yang bertalbiyah mengucapkan talbiyah dan tidak diingkari, dan orang yang bertakbir mengucapkan takbir pun tidak diingkari.” (HR. Bukhari no. 970 dan Muslim no. 1285)
Faedah ke-44:
Waktu wukuf di Arafah dimulai dari awal waktu Zuhur dan berjalan hingga terbitnya mentari pada hari nahr.
Faedah ke-45:
Barang siapa yang belum wukuf pada waktu terbitnya mentari di hari nahr, maka dia telah melewatkan haji. Dan peralatan siapa yang wukuf setelah waktu tersebut, maka dia telah meninggalkan ibadah haji.
Faedah ke-46:
Barang siapa yang wukuf di Arafah sejak siang hari, wajib baginya menetap hingga terbenamnya matahari, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan yang demikian.
لتأخذوا مناسككم
“Ambillah dariku tatacara ibadah haji kalian.” (HR. Muslim no. 1297)
Selain itu, lantaran meninggalkan Arafah sebelum terbenamnya mentari merupakan tata langkah haji orang-orang jahiliyah, di mana Islam datang untuk menyelisihinya.
Faedah ke-47:
Wajib bayar dam bagi jemaah haji yang wukuf pada siang hari dan bertolak dari Arafah sebelum mentari terbenam. Akan tetapi, jika dia diberi tahu tentang pelanggaran tersebut, lampau kembali ke Arafah, apalagi sebelum fajar terbit, maka tidak ada hukuman apapun baginya.
Faedah ke-48:
Barang siapa yang wukuf malam hari saja lantaran dia belum sampai di Arafah hingga terbenamnya matahari, diperbolehkan dan tidak terkena dam.
Faedah ke-49:
Disunahkan bagi para jemaah haji untuk salat zuhur dan asar dengan langkah plural takdim berbareng imam, sebagaimana yang dilakukan olah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jikapun tidak, diperbolehkan bagi salah seorang di antara mereka untuk azan dan salat di dalam tenda-tenda mereka.
Faedah ke-50:
Dianjurkan bagi jemaah haji untuk menyibukkan diri pada hari Arafah dengan berzikir, berdoa, dan tilawah Al-Qur’an. Dan ditekankan untuk bersungguh-sungguh dalam bermohon berasas sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
خيرُ الدعاءِ دعاءُ يومِ عرفةَ
“Sebaik-baik angan adalah angan pada hari Arafah.” (HR. At-Tirmidzi no. 3585, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Faedah ke-51:
Hari Arafah merupakan hari pemaafan dan pembebasan dari neraka, sebagaimana hadis,
ما مِن يومٍ أكثر مِن أنْ يُعْتِقَ اللهُ فيه عبدًا مِن النارِ، مِن يومِ عرفة، وإنَّه ليدنو، ثم يُباهي بهم الملائكةَ، فيقول: ما أراد هؤلاء؟
“Tiada hari di mana Allah paling banyak memerdekakan hamba dari neraka lebih dari hari Arafah. Sesungguhnya Dia mendekat lampau membanggakan jemaah haji kepada para malaikat kemudian berfirman, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka (jemaah haji)?’” (HR. Muslim no. 1348)
Perkatataan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para malaikat-Nya, padahal Ia Maha Mengetahui, ‘Apa yang diinginkan oleh mereka (jemaah haji)?” maksudnya adalah adakah sesuatu yang mereka dambakan setelah mereka meninggalkan family dan tanah air mereka, menghabiskan kekayaan mereka, dan merasakan kelelahan pada tubuh mereka? Yakni, apalah yang mereka inginkan selain pembebasan dan rida, serta kedekatan dengan Allah dan pembebasan dari neraka. Dan peralatan siapa yang mendatangi pintu ini, dia tidak perlu takut untuk ditolak.
Seolah-olah maknanya adalah apa saja yang diinginkan oleh para jemaah haji, maka perihal tersebut bakal terwujud bagi mereka, dan derajat mereka di sisi Allah adalah sesuai dengan kadar kebaikan dan niat mereka. (Mirqat Al-Mafatih, 5: 1800; dengan penyesuaian)
Faedah ke-52:
Dalam riwayat lain disebutkan,
إن الله يباهي ملائكته عشية عرفة بأهل عرفة ، فيقول : انظروا إلى عبادي أتوني شعثا غبرا
“Sesungguhnya Allah membangga-banggakan masyarakat Arafah kepada para malaikat-Nya ketika sore hari, lampau Allah berfirman, ‘Lihatlah kepada hamba-hamba-Ku, mereka datang dalam kondisi syu’tsan dan ghurban.’” (HR. Imam Ahmad no. 8033, Ibnu Hibban no. 3852, sabda ini terdapat dalam Shahih At-Targhib)
Makna syu’tsan (شُعْثا) adalah orang yang penampilannya berubah (lusuh alias acak-acakan) baik badan, rambut, maupun pakaiannya. Adapun ghurban (غربا) ialah debu-debu yang menempel pada personil tubuh mereka.
Faedah ke-53:
Ulama berkata,
مباهاة الله تعالى الملائكة بهؤلاء الججاج، يدل على أنهم مغفور لهم لإنه لا يباهي بأهل الخطايا والذنوب إلا من بعد التوبة والغفران
“Kemuliaan Allah dalam membanggakan para jemaah haji di hadapan malaikat menunjukkan bahwa mereka telah diampuni, lantaran Allah tidak membanggakan orang-orang yang berdosa selain setelah mereka bertobat dan mendapatkan ampunan.” (At-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar, 1: 120)
Faedah ke-54:
Hari Arafah merupakan hari raya bagi orang-orang yang sedang wukuf, hari yang penuh pembebasan dan pembebasan dari api neraka. Oleh karenanya, tidak dianjurkan bagi jemaah haji untuk berpuasa. Agar dia kuat dalam berzikir dan berdoa, berdasarka sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
يوم عرفة ويوم النحر وأيام التشريق عيدنا أهل الإسلام ، وهي أيام أكل وشرب
“Hari Arafah, hari nahr, hari-hari tasyrik adalah hari raya bagi kita, umat muslim. Hari-hari itu adalah hari makan dan minum.” (HR. Abu Daud no. 2419, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Faedah ke-55:
Dan yang terakhir …
من فاته في هذا العام القيام بعرفة، فليقم لله بحقه الذي عرفه
“Barang siapa yang tahun ini terlewatkan untuk wukuf di Arafah, maka hendaklah dia wukuf (berhenti) pada batasan-batasan Allah yang dia ketahui.”
من عجز عن المبيت بمزدلفة، فليبت عزمه على طاعة الله وقد قربه وأزلفه
“Barang siapa yang tidak bisa mabit (bermalam) di Muzdalifah, maka hendaknya dia mabit (menetapkan) niatnya untuk alim kepada Allah, lantaran ketaatan dapat mendekatkan diri kepada Allah.”
من لم يمكنه القيام بأرجاء الخيف، فليقم لله بحق الرجاء والخوف
“Barang siapa yang tidak dapat berdiri di sekitar Khaif (Mina), maka hendaklah dia berdiri bagi Allah dengan penuh pengharapan dan ketakutan.”
مَن لَم يَقْدِرْ على نَحْرِ هَدْيِه بِمِنَىٰ؛ فَلْيَذْبَحْ هواه هُنا، وقد بلَغَ المُنىٰ
“Barang siapa yang tidak bisa menyembelih hewan kurbannya di Mina, maka hendaklah dia menyembelih hawa nafsunya di sini; dengan begitu dia telah mencapai puncak harapannya.”
مَن لَم يَصِلْ إلى البيتِ لأنَّه منه بعيدٌ؛ فليقصد ربَّ البيتِ فإِنَّه أقربُ إلى مَن دعاه ورجاه مِن حَبْلِ الوريدِ
“Barang siapa yang tidak sampai ke Al-Bait (Kakbah) lantaran jaraknya yang jauh, maka hendaklah dia menuju kepada Rabb (Pemilik) Kakbah; lantaran sesungguhnya Dia lebih dekat kepada siapa pun yang bermohon dan berambisi kepada-Nya daripada urat nadi.”
نسأل الله تعالى أن يجعلنا من المقبولين
وأن يشملنا بمغفرته ورَحْمَتِهِ
ويجعلنا من عُتَقائه من النار
والحمد لله ربِّ العالمين
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang diterima (amalnya), menyelimuti kita dengan pembebasan dan rahmat-Nya, serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang dibebaskan-Nya dari api neraka. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam…
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 3
***
Penerjemah: Atma Beauty Muslimawati
Artikel Kincai Media
Sumber:
Diterjemahkan dari e-book Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid hafizhahullah yang berjudul 55 Faidah fi Yaumi ‘Arafah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·