Dalam tulisan sebelumnya, telah terjawab bahwa Allah ﷻ tidak bakal menghukum orang yang alim luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga. Bahkan sanggahan tersebut datang dari Allah ﷻ secara langsung. Selanjutnya, kita perlu memahami hikmah dari mengetahui iktikad yang betul tentang perihal ini. Serta kita perlu mengulas akibat dari kepercayaan yang salah pada konsep ini dan gimana meresponnya.
Orang bejat itu mustahil mendapatkan tempat orang taat
Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan dengan sanad dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, menukilkan sabda dari Nabi ﷺ,
كَمَا أَنَّهُ لَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ، كَذَلِكَ لَا يَنَالُ الْفُجَّارُ مَنَازِلَ الْأَبْرَارِ
“Sebagaimana buah anggur tidak dapat dipetik dari pohon yang berduri, demikian pula halnya orang-orang durhaka, mereka tidak bakal memperoleh kedudukan orang-orang yang bertakwa’.” (Hadis ini dinukilkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan dinilai gharib jika ditinjau dari segi jalurnya)
Hadis ini dibawakan setelah Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa seorang yang menerima hukum tetapi tidak menjalankannya, niscaya dihukum juga. Beliau mengatakan,
إِنَّ اللَّهَ بَنَى دِينَهُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَرْكَانٍ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَلَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ مِنَ الْفَاسِقِينَ
“Sungguh Allah membangun agama-Nya di atas empat pilar. Maka barangsiapa yang sabar menanggungnya tetapi tidak mengamalkannya, dia bakal menghadap kepada Allah dalam keadaan sebagai orang yang fasik (durhaka).”
Ketika ditanyakan, “Apa saja keempat pilar itu, wahai Abu Dzar?”
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hendaklah seseorang itu melakukan empat perkara ini:
1) Menerima apa yang dihalalkan oleh Allah lantaran Allah (يُسْلِمُ حَلَالَ اللَّهِ لِلَّهِ)
2) Menolak apa yang diharamkan oleh Allah lantaran Allah (حَرَامَ اللَّهِ لِلَّهِ)
3) Menerima perintah Allah lantaran Allah (أَمْرَ اللَّهِ لِلَّهِ)
4) Menjauhi larangan Allah lantaran Allah (نَهْيَ اللَّهِ لله)
Ia mempercayai dan melakukan keempat perkara itu hanya dari dan lantaran Allah ﷻ.
Seseorang kudu meyakini dan mengamalkan empat perkara tersebut secara komprehensif dengan tujuan tunduk kepada Allah ﷻ. Jika tidak demikian, maka dia pun bakal dimasukkan ke dalam neraka dengan keadilan Allah ﷻ sebagai corak hukuman. Karena dikatakan sebagaimana sabda gharib di atas “anggur tak didapat dari pohon berduri, demikian pula mahir maksiat tak dapat menempati kedudukan orang bertakwa.”
Perkataan ini disebutkan pula oleh Ibnu lshaq dalam kitab Sirah-nya, yang ditemukan pada sebuah prasasti di pondasi Kakbah. Kalimatnya kurang lebih,
تَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ وَتَرْجُونَ الْحَسَنَاتِ؟ أَجَلْ كَمَا يُجْتَنَى مِنَ الشَّوْكِ الْعِنَبُ
“Kamu melakukan keburukan dan Anda harapkan kebaikan, perihalnya sama dengan orang yang memetik buah anggur dari pohon yang berduri.”
Manfaat meyakini Allah ﷻ tidak mungkin salah membalas
Hikmah bagi orang yang betul dalam meyakini perbuatan Allah ﷻ ini menjadikan kita antusias dalam beramal. Kita meyakini dengan pasti bahwa Allah ﷻ tidak mungkin kejam secara unsur maupun perbuatan atas segala apa yang kita lakukan. Demikian pula ketika ada orang yang melakukan kejam tetapi mendapatkan nikmat, kita tidak jadi iri dengan orang tersebut.
Kita temukan keadaan di mana orang yang kejam mendapatkan kedudukan setara orang baik di mata manusia. Sebaliknya, orang mahir alim justru ditempatkan manusia sebagai orang yang terhina. Kondisi yang lebih riil kita lihat adalah tertindasnya kaum muslimin di seluruh bumi serta kejayaan orang kafir di era ini. Tentu di hati kita ini sangatlah banget perih. Namun, ketika seseorang mempunyai kepercayaan bahwa Allah ﷻ tidak mungkin salah dalam menempatkan kedudukan manusia, niscaya rasa pahit itu dapat luntur.
Keyakinan ini oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dijadikan poin-poin kepercayaan yang memisahkan antara orang yang betul akidahnya dan salah dalam meyakini penjelasan Allah ﷻ. Artinya, kepercayaan ini menjadi suatu perihal yang asasi dan banyak implikasinya. Bisa saja seseorang yang meyakini konsep ini dengan salah bakal kehilangan motivasi beramal. Padahal, roda kehidupan kepercayaan itu senantiasa diliputi oleh amal.
Para salaf menekankan kepercayaan ini dalam kehidupannya
Para salaf kita, seperti Tamim Ad-Dari, sebagaimana disebutkan oleh Imam Thabarani, beliau salat di suatu malam hingga pagi seraya mengulang-ngulang referensi ayat QS. Al-Jatsiyah: 21.
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami bakal memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beragama dan yang mengerjakan kebajikan, ialah sama dalam kehidupan dan kematian mereka?” (QS. Al-Jatsiyah: 21)
Salah satu hikmah dari ayat ini yang terefleksikan dari perbuatan Tamim Ad-Dari adalah kita hendaknya sadar bahwa perbuatan Allah ﷻ mengandung keadilan sempurna. Tak mungkin salat kita disia-siakan oleh-Nya, jika sudah memenuhi syarat-Nya. Sehingga ketika beramal, seseorang dapat tenang dengan kepastian janji itu.
Tidak mungkin secara logika teoretis bagi Allah ﷻ melakukan kezaliman
Sebagian orang meyakini secara logika teoretis bahwa Allah ﷻ berkuasa melakukan perihal yang kita telaah di atas. Namun, yang tepat tidaklah demikian. Bahkan menggunakan istilah “boleh”, “bisa”, “berhak” dalam kajian tentang perbuatan Allah ﷻ sangat tidak pas dan sebaiknya dihindari seorang muslim. Kita gunakan saja istilah dan pengabaran dari Allah ﷻ dalam firman-Nya yang jelas menetapkan sifat hikmah Allah ﷻ dan kemustahilan perbuatan tersebut. Allah ﷻ berfirman,
أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36)
“Apakah patut Kami memperlakukan orang-orang Islam itu seperti orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa Anda (berbuat demikian)? Bagaimana Anda mengambil keputusan?” (QS. Al-Qalam: 35-36)
Maksudnya, kenapa ada orang yang bisa berprasangka demikian? Bahkan Allah ﷻ menekankan lebih kuat lagi tentang dasar kepercayaan itu dalam lanjutan firman-Nya,
أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ (37) إِنَّ لَكُمْ فِيهِ لَمَا تَخَيَّرُونَ (38)
“Apakah bagi kalian terdapat kitab yang kalian pelajari? Bahwa di dalamnya Anda betul-betul boleh memilih apa yang Anda sukai untukmu?” (QS. Al-Qalam: 37-38)
Pertanyaan untuk membantah dugaan jelek tersebut terus Allah ﷻ berikan setelahnya. Artinya, secara argumentatif, tidak ada celah bagi seseorang untuk menetapkan bahwa Allah ﷻ bisa saja mengekalkan wali-Nya di neraka dan sebaliknya (memasukkan orang kafir ke surga). Bahkan meskipun dinarasikan ini hanya sekadar kajian teoretis akal.
Konsekuensi dari kepercayaan yang salah ini sangat berbahaya, semisal:
1) Memungkinkan Nabi ﷺ tidak dimasukkan ke dalam surga;
2) Meniadakan sifat hikmah bagi Allah ﷻ.
Meskipun demikian, seorang muslim tidak boleh memastikan siapapun secara individual masuk surga alias neraka. Para ustadz hanya membolehkan kita menetapkan bahwa muslim pasti masuk surga dan kafir pasti masuk neraka. Adapun masing-masing orangnya, tidaklah diketahui. Ketetapan ini adalah urusan gaib di alambaka nanti, adapun urusan ketetapan di dunia, kita tidak dibebankan melainkan yang zahir terlihat. Ketika seorang muslim wafat, maka diurus dengan langkah Islam, begitupula sebaliknya.
Semoga jawaban para ustadz yang diambil dari firman Allah ﷻ ini dapat mencegah masuknya keyakinan-keyakinan yang salah seputar hikmah dan keadilan Allah ﷻ.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Maha Suci Tuhanmu, Yang Mempunyai Keperkasaan dari apa yang mereka sifatkan.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·