Kritik Tajam Ulama Klasik kepada Penguasa yang Telantarkan Petani dan Fakir Miskin

Aug 12, 2026 03:56 PM - 7 jam yang lalu 10

Kincai Media, JAKARTA— Daya kritis ustadz terdahulu terhadap kezaliman penguasa sangatlah tajam, apalagi juga pembelaan mereka terhadap orang-orang yang lemah.

Salah satunya adalah Imam Tajuddin as-Subki. Dalam Mui'd al-Ni’am wa Mubid as-Saqam, tokoh yang hidup di abad ke-8 Hijriyah tersebut sangat kuat melakukan pembelaan terhadap orang-orang yang lemah.

Sosok berjulukan komplit Tajuddin Abdul Wahhab bin Ali as-Subki itu tidak melupakan hak-hak para petani.

Ia juga menyerukan agar para mamluk dan tentara tidak melakukan kejam kepada mereka serta tidak memaksa mereka melakukan sesuatu tanpa argumen yang dibenarkan.

Dalam menjelaskan tanggungjawab para tentara, dia berkata;

فمن حق الله عليهم وشكر نعمته، اللطف بالفلاحين، فلو شاء الله لقلب الفلاح جنديا والجندي فلاحا، فإذا كان لا يشكر نعمة الله تعالى على أن رفعه على درجة الفلاح فلا أقل من أن يكفي الفلاح شره وظلمه

“Di antara kewenangan Allah yang kudu mereka tunaikan sebagai corak syukur atas nikmat-Nya adalah memperlakukan para petani dengan baik. Seandainya Allah menghendaki, Dia bisa saja menjadikan seorang petani sebagai tentara dan seorang tentara sebagai petani. Jika seseorang tidak bisa mensyukuri nikmat Allah lantaran Dia telah mengangkat kedudukannya di atas seorang petani, setidaknya dia kudu mencegah dirinya menyakiti dan menzalimi petani tersebut.”

Secara tersirat, As-Subki sedang menyinggung kesewenang-wenangan para tentara Mamluk dalam memperlakukan petani. Karena itu, dia menasihati mereka agar bersikap lembut dan memperlakukan para petani dengan baik.

Selengkapnya