Misteri Rebo Wekasan: Benarkah Rabu Terakhir Safar Penuh Bala?Kincai Media- Rebo Wekasan alias Rabu terakhir pada bulan Safar merupakan tradisi yang dikenal di sejumlah masyarakat Muslim di Indonesia. Di sebagian daerah, hari tersebut dipandang sebagai waktu yang perlu diwaspadai lantaran diyakini berangkaian dengan turunnya beragam macam bala alias musibah. Karena itu, sebagian masyarakat melakukan beragam ibadah tertentu dengan angan terhindar dari malapetaka.
Namun, muncul pertanyaan penting: benarkah Rabu terakhir bulan Safar merupakan hari yang penuh bala? Apakah terdapat dasar dalam Al-Qur’an dan sabda yang menetapkan bahwa hari tersebut mempunyai kesialan alias ancaman khusus?
Pertanyaan ini krusial untuk dijawab secara hati-hati. Sebab, dalam persoalan keyakinan, seorang Muslim tidak cukup hanya mengikuti dugaan yang berkembang di masyarakat. Setiap kepercayaan yang berangkaian dengan perkara kepercayaan perlu dikembalikan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah .
Tidak Ada Kesialan pada Bulan Safar
Islam mengajarkan umatnya untuk tidak meyakini adanya kesialan yang melekat pada waktu, hari, bulan, benda, ataupun tanda-tanda tertentu. Keyakinan semacam itu termasuk bagian dari thiyarah, ialah menganggap suatu perihal sebagai pertanda jelek yang dapat mendatangkan kesialan.
Rasulullah telah memberikan penjelasan yang sangat tegas mengenai perihal tersebut. Dalam sabda riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
لَا عَدْوَى، وَلَا صَفَرَ، وَلَا هَامَةَ
Artinya: “Tidak ada ‘Adwa (penularan penyakit tanpa kehendak Allah), tidak ada kesialan lantaran Safar, dan tidak ada Hammah.” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda:
لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ
Artinya: “Tidak ada ‘Adwa, tidak ada thiyarah, tidak ada Hammah, tidak ada kesialan lantaran Safar, dan larilah dari orang yang terkena kusta sebagaimana engkau lari dari singa.” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa Islam menolak dugaan jahiliah yang mengaitkan kesialan dengan bulan Safar. Dengan demikian, tidak tepat andaikan seseorang meyakini bahwa bulan Safar, terlebih Rabu terakhir di dalamnya, secara otomatis membawa bala alias malapetaka.
Penolakan terhadap kepercayaan tersebut bukan berfaedah Islam mengingkari adanya musibah, penyakit, alias beragam macam bahaya. Islam justru mengajarkan agar manusia berhati-hati dan mengambil sebab-sebab yang dibenarkan. Yang ditolak adalah kepercayaan bahwa suatu waktu alias barang mempunyai kekuatan gaib untuk mendatangkan kesialan dengan sendirinya.
Semua Musibah Terjadi dengan Izin Allah
Keyakinan seorang Muslim tentang musibah kudu dikembalikan kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa tidak ada musibah yang terjadi di luar pengetahuan dan kehendak-Nya.
Allah SWT berfirman dalam QS. At-Taghabun ayat 11:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang, selain dengan izin Allah. Dan peralatan siapa beragama kepada Allah, niscaya Dia bakal memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun: 11).
Ayat ini memberikan dasar yang sangat krusial dalam memahami persoalan Rebo Wekasan. Musibah tidak ditentukan oleh hari tertentu secara independen dari Allah. Ketika seseorang tertimpa musibah, seorang Muslim meyakini bahwa semuanya terjadi dengan izin dan ketetapan Allah.
Karena itu, tidak semestinya seseorang merasa takut secara berlebihan hanya lantaran memasuki Rabu terakhir bulan Safar. Rasa takut kepada Allah tentu merupakan bagian dari keimanan, tetapi rasa takut tersebut kudu dibangun di atas tauhid dan pengetahuan yang benar, bukan berasas mitos alias dugaan bahwa hari tertentu mempunyai kekuatan untuk mendatangkan bala.
Hari dan Bulan Tidak Memiliki Kekuatan untuk Mendatangkan Kesialan
Pada dasarnya, hari-hari yang kita jalani adalah buatan dan ketetapan Allah. Tidak ada satu hari pun yang dapat memberikan faedah alias mudarat dengan kekuatannya sendiri.
Dalam konteks inilah penjelasan Abdurrauf al-Munawiy dalam Faidh al-Qadir, jilid I, laman 62, menjadi relevan. Ia menjelaskan tentang larangan menghindari hari Rabu lantaran menganggapnya sebagai hari apes dan menghubungkannya dengan kepercayaan para peramal.
Ia menegaskan bahwa semua hari adalah milik Allah dan tidak mempunyai kekuatan untuk mendatangkan ancaman alias faedah secara mandiri. Berikut ini quote Abdurrauf al-Munawiy;
وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ عَلَى جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَطَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِيْنَ حَرَامٌ شَدِيْدَ التَّحْرِيْمِ إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا لِلَّهِ تَعَالَى لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا وَبِدُوْنِ ذَلِكَ لَا ضَيْرَ وَلَا مَحْذُوْرَ وَمَنْ تَطَيَّرَ حَاقَتْ بِهِ نَحْوَسَتُهُ وَمَنْ أَيْقَنَ بِأَنَّهُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ إِلَّا اللهُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ
Artinya: “Kesimpulannya, menghindari hari Rabu lantaran menganggapnya sebagai kesialan dan berasas kepercayaan para mahir nujum adalah haram dengan keharaman yang sangat keras. Sebab, semua hari adalah milik Allah Ta’ala; hari-hari itu tidak dapat memberi mudarat ataupun faedah dengan sendirinya. Adapun jika tidak didasari kepercayaan tersebut, maka tidak ada ancaman dan tidak ada larangan.
Barang siapa menganggap suatu perihal sebagai pertanda sial, maka kesialan itu bakal memengaruhinya. Sebaliknya, peralatan siapa meyakini bahwa tidak ada yang dapat memberi mudarat maupun faedah selain Allah, maka perihal tersebut tidak bakal memengaruhinya.”
Penjelasan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utamanya bukan pada hari Rabu sebagai sebuah hari. Yang menjadi persoalan adalah kepercayaan bahwa hari tersebut mempunyai kekuatan unik untuk mendatangkan kesialan.
Dengan demikian, Rabu terakhir bulan Safar tidak semestinya dipandang sebagai hari yang secara unik membawa bala. Seorang Muslim tetap boleh melakukan kebaikan, memperbanyak doa, bersedekah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan beragam kebaikan saleh lainnya pada hari tersebut.
Akan tetapi, amal-amal tersebut hendaknya dilakukan sebagai corak ibadah kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa Rabu terakhir Safar adalah hari yang secara unik dipenuhi bala.
Lalu, Bagaimana dengan Tradisi Rebo Wekasan?
Pembahasan tentang Rebo Wekasan perlu dibedakan antara tradisi masyarakat dan kepercayaan keagamaan.
Jika suatu masyarakat menjadikan Rabu terakhir bulan Safar sebagai momentum untuk berkumpul, bersedekah, mempererat silaturahmi, alias melakukan amal-amal kebaikan yang memang disyariatkan secara umum, maka perihal tersebut tidak serta-merta berfaedah meyakini adanya kesialan pada hari tersebut.
Namun, persoalannya menjadi berbeda andaikan seseorang meyakini bahwa Rabu terakhir Safar secara unik merupakan hari turunnya bala, bahwa setiap orang kudu melakukan ritual tertentu agar selamat dari bala tersebut, alias bahwa meninggalkan ritual tersebut bakal menyebabkan seseorang tertimpa musibah.
Keyakinan semacam itu memerlukan dalil yang jelas. Dalam perkara agama, terlebih perkara yang berangkaian dengan kepercayaan dan penetapan waktu unik untuk suatu ibadah, seorang Muslim hendaknya tidak menetapkannya hanya berasas cerita yang beredar alias tradisi turun-temurun.
Dengan kata lain, melakukan kebaikan pada Rabu terakhir Safar bukan masalahnya; yang perlu dihindari adalah meyakini adanya kesialan unik pada hari tersebut tanpa dasar syariat.
Pada akhirnya, misteri Rebo Wekasan perlu dikembalikan kepada prinsip dasar tauhid. Tidak ada dalil yang menjadikan Rabu terakhir bulan Safar sebagai hari yang secara unik penuh bala sehingga kudu ditakuti sebagai hari sial.
Rasulullah telah menegaskan dalam sabda sahih bahwa “tidak ada kesialan lantaran Safar.” Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa tidak ada musibah yang menimpa seseorang selain dengan izin Allah.
Dengan demikian, seorang Muslim hendaknya tidak menggantungkan rasa kondusif kepada hari, bulan, benda, ataupun ritual tertentu yang tidak mempunyai dasar syariat. Rasa kondusif dan perlindungan sejati hanya berasal dari Allah SWT.
Jika Rebo Wekasan dijadikan momentum untuk memperbanyak doa, sedekah, silaturahmi, membaca Al-Qur’an, dan kebaikan saleh lainnya, maka lakukanlah semua itu sebagai corak ketaatan kepada Allah. Namun, jangan sampai ibadah tersebut dibangun di atas kepercayaan bahwa Rabu terakhir Safar merupakan hari yang secara unik membawa bala.
Sebab, yang kudu ditanamkan dalam hati seorang Muslim bukanlah ketakutan kepada hari tertentu, melainkan kepercayaan bahwa Allah-lah satu-satunya Zat yang mempunyai kuasa absolut untuk mendatangkan faedah dan menolak mudarat.
Dengan kepercayaan tersebut, seorang Muslim dapat menjalani bulan Safar dengan tenang, tanpa dihantui mitos kesialan, tetapi tetap penuh kewaspadaan, ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·