Asal Usul Nama Bulan Safar, Mitos Kesialan, dan Penjelasan Islam yang Membantahnya

Intisari Islam oleh Waktu baca 3 menit 14406x dilihat
Asal Usul Nama Bulan Safar, Mitos Kesialan, dan Penjelasan Islam yang Membantahnya

Bagikan Postingan

Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah yang pada masa Arab Jahiliyah sering dikaitkan dengan berbagai takhayul, termasuk anggapan bahwa bulan ini membawa kesialan. Pandangan tersebut kemudian diluruskan dalam ajaran Islam melalui sabda Nabi Muhammad SAW yang menegaskan bahwa tidak ada bulan yang membawa sial. Lalu, bagaimana sejarah penamaan bulan Safar dan dari mana mitos itu berasal?

Sejarah Bulan Safar memang unik karena dipenuhi mitos dan kepercayaan turun-temurun. Untuk memahami asal-usul penamaan dan makna Safar, kajian tidak bisa lepas dari kebiasaan dan pandangan masyarakat Arab sebelum munculnya Islam.

Menurut penjelasan Ibnu Mandzur dalam kitab Lisanul Arab, kata Safar memiliki dua makna; satu menunjukkan keadaan kosong (shafar) dan yang lain merujuk pada warna kekuningan (shufrah). Penamaan itu juga dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Arab kala itu yang sering meninggalkan rumah atau kampung mereka—sehingga dianggap kosong—untuk berperang atau melakukan perjalanan jauh.

Pandangan ini tercatat dalam al-Mufasshal fi Tarikhil Arab Qablal Islam, yang menggambarkan keluhan orang-orang yang ditinggalkan: "Shafira an-Nasu minna shafaran" (Orang-orang mengosongkan kota meninggalkan kita karena kita miskin, kosong alias tidak mempunyai harta).

Di era Jahiliyah, sebagian masyarakat memandang Safar sebagai bulan pembawa keburukan atau bahkan penyakit. Mereka meyakini bahwa ada gangguan yang menyerang bagian perut, sehingga bulan itu dianggap menakutkan bagi sebagian orang.

Keyakinan serupa muncul dalam berbagai penjelasan tradisional yang menyebut Safar sebagai masa yang rentan terhadap gangguan atau angin panas yang memengaruhi kesehatan perut, sehingga muncul persepsi negatif terhadap bulan tersebut.

Kepercayaan semacam ini kemudian dibantah ketika Islam datang dan memberi penjelasan yang lebih rasional dan teologis.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak ada penyakit yang menular secara sendirian tanpa izin Allah, tidak ada hantu bergelandangan dan tidak ada shafar (penyakit perut) yang terjadi dengan sendirinya.” (HR Imam Muslim)

Dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada 'adwa (percaya bahwa penyakit menular tanpa takdir Allah), dan tidak ada shafar (menganggap bulan Safar keramat atau haram), dan tidak pula hammah (percaya pada transmigrasi ruh).”

Dalam satu riwayat yang dicatat Imam Bukhari, seorang Arab Badui mengajukan contoh tentang unta yang bercampur dengan hewan lain hingga tampak terjangkit penyakit, lalu Rasulullah SAW menanyakan, “Siapakah yang menulari yang pertama?” riwayat ini menegaskan bahwa penularan dan penyakit terjadi atas izin dan ketetapan Allah, bukan karena bulan tertentu membawa sial secara mutlak.

Setelah menelaah sejarah dan mitos seputar Safar, umat Islam diingatkan untuk tidak menganggap ada bulan yang mazhabnya membawa kesialan. Mitos yang berkembang pada masa lalu perlu dikritisi dan tidak diterima begitu saja tanpa pembuktian atau dalil yang kuat.

Semua waktu yang diciptakan Allah Ta'ala adalah peluang untuk beramal dan beribadah; oleh karena itu tidak ada waktu yang secara inheren sial. Pandangan yang menyatakan sebaliknya telah ditolak oleh ajaran Islam itu sendiri.

Artikel Lainnya Intisari Islam
↑
Close Right Ads
Close Left Ads