Kincai Media, JAKARTA— Belakangan ini, sosok dan figur krusial dalam sejarah Islam, yaitu Sultan Utsmani Abdul Hamid II, kerap menjadi sasaran beragam tudingan.
Setiap kali seseorang mau mencari pembenaran atas kekalahan maupun kegagalannya, penyebabnya sering dialihkan kepada penguasa terakhir yang dianggap telah menjaga umat, mempertahankan daerah kekuasaannya, serta membela agamanya dari beragam intimidasi di Timur maupun Barat.
Demikian pula ketika para politisi di Turki dan bumi Arab terlibat dalam perdebatan politik maupun persaingan dalam pemilihan umum, tidak jarang Sultan Abdul Hamid dituding sebagai penyebab kelemahan dan perpecahan di negara mereka.
Tuduhan semacam itu merupakan bentuk pemutarbalikan sejarah dan penyederhanaan dalam memahami dinamika fluktuasi peradaban.
Lalu, siapakah Sultan Abdul Hamid II? Apa perannya dalam melindungi dan mempersatukan umat Islam dalam sebuah negara yang kuat, di tengah beragam tantangan yang dihadapinya selama masa pemerintahan?
Sekjen Persatuan Umat Islam se-Dunia, Syekh Muhammad Ash-Shalabi, dikutip halaman resminya, Senin (28/9/2026).
Sultan Abdul Hamid II merupakan sultan ke-34 Kesultanan Ottoman. Ia naik takhta pada usia 34 tahun. Ia lahir pada 16 Sya'ban 1258 H (1842 M).
Ibu Sultan Abdul Hamid wafat ketika ia berumur sepuluh tahun. Setelah itu, ia diasuh oleh istri kedua ayahnya yang tidak memiliki anak.
Perempuan tersebut merawatnya dengan penuh kasih sayang dan berupaya menjadi sosok ibu baginya. Ia juga mewariskan hartanya kepada Abdul Hamid.
Pola pendidikan dan pengasuhan tersebut sangat memengaruhi kepribadian Sultan Abdul Hamid.