Kincai Media– Berikut ini bahanbacaan Sayyidul Istighfar, yang berisi tentang bahanbacaan pemaafan pada Allah. Pasalnya, ada dosa yang kita sadari, ada pula kekhilafan yang baru kita ingat setelah waktu berlalu.
Dalam keadaan seperti itu, Islam tidak mengajarkan seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, kita diajarkan untuk balik kepada-Nya, mengakui kesalahan, dan memohon ampun dengan penuh kerendahan hati.
Salah satu doa yang mengajarkan sikap tersebut adalah Sayyidul Istighfar, penghulu segala istighfar. Doa ini bukan sekadar permohonan agar dosa diampuni.
Di dalamnya terdapat pengakuan seorang hamba tentang siapa Tuhannya dan siapa dirinya: Allah adalah Tuhan yang menciptakan, sedangkan manusia hanyalah seorang hamba yang penuh kekurangan dan senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya.
Karena itu, setiap kalimat dalam Sayyidul Istighfar memiliki arti yang sangat dalam. Seorang hamba mengakui keesaan Allah, mengakui beragam nikmat yang telah diterimanya, sekaligus dengan jujur mengakui dosa yang telah diperbuat. Setelah itu, ia menyerahkan dirinya kepada pemaafan Allah dengan penuh harapan.
Lantas, sepertiapa bahanbacaan Sayyidul Istighfar, apa artinya, dan apa keutamaannya?
Berikut doa bahanbacaan sayyidul istighfar tersebut
اللَّهُمَّ أنْتَ رَبّي لا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي وأنا عَبْدُكَ وأنا على عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ما اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرّ مَا صَنَعْتُ أبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عليَّ وأبُوءُ بِذَنْبي فاغْفِرْ لي فإنَّهُ لا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أنْتَ
Allahumma anta rabbi laa ilaha illa anta khalaqtani wa anaa ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatha’tu a’udzu bika min syarri ma shana’tu abuu laka bi ni’matika ‘alayya wa abu-u bi dzanbi faghfir li fainnahu laa yaghfirudz dzunuba illa anta
Artinya: Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan kecuali Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu, aku akan setia pada janjiku pada-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang aku perbuat. Kuakui segala nikmat-Mu atasku dan aku akui segala dosaku (yang aku perbuat). Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang bisa memaafkan dosa kecuali Engkau. (HR. Imam al-Bukhari)
Ibnu al-Mulaqqin dalam buku At-Taudhih li Syarhil Jami‘ish-Shahih menerangkan kandungan istighfar dan kedudukannya dalam hayat seorang Muslim. Sementara itu, keistimewaan Sayyidul Istighfar disebutkan secara langsung oleh Rasulullah SAW dalam histori yang diriwayatkan Imam al-Bukhari.
قال: “من قالها من النهار موقنا بها، فمات من يومه قبل أن يمسي، فهو من أهل الجنة، ومن قالها من الليل وهو موقن بها، فمات قبل أن يصبح، فهو من أهل الجنة
Artinya; Nabi bersabda: “Barang siapa mengucapkannya pada siang hari dengan penuh kepercayaan terhadapnya, kemudian ia wafat pada hari itu sebelum waktu petang, maka ia termasuk penghuni surga.
Dan barang siapa mengucapkannya pada malam hari dengan penuh kepercayaan terhadapnya, kemudian ia wafat sebelum waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga.”
Hadis ini memberitahu benar-benar istimewanya Sayyidul Istighfar. Namun, keutamaannya tidak semata-mata terletak pada lafaz yang diucapkan. Ada kepercayaan dan penghayatan yang menyertai doa tersebut.
Sebab, istighfar bukan cuma tentang meminta Allah menghapus dosa, tetapi juga tentang kesediaan seorang hamba untuk mengakui kesalahan dan balik mendekat kepada-Nya.
Lebih jauh, Ibnu al-Mulaqqin menerangkan bahwa istighfar dapat menjadi karena diampuninya dosa-dosa yang tidak berhubungan dengan tanggung jawab aturan tertentu terhadap diri maupun harta pelakunya, terlebihlagi jika dosa tersebut termasuk dosa besar.
قال: والاستغفار يكفر الذنوب التي لا توجب على مرتكبها حكما في نفس ولا مال، وإن كان ذنبه من الكبائر، وأما من أوجب عليه في نفسه وماله حكما; لارتكابه ذلك الذنب، فالاستغفار لا يجزئه من
Artinya; “Ia berkata: Istighfar dapat menghapus dosa-dosa yang tidak mengharuskan pelakunya menerima suatu hukuman yang berhubungan dengan dirinya maupun hartanya, meskipun dosa tersebut termasuk dosa besar. Adapun orang yang karena berbuat dosa tersebut mengakibatkan adanya ketetapan aturan yang mesti diberlakukan terhadap dirinya maupun hartanya, maka istighfar tidaklah mencukupinya sebagai alternatif …”
Penjelasan Ibnu al-Mulaqqin ini memberitahu bahwa memohon ampun kepada Allah dan menyelesaikan tanggung jawab akibat kesalahan adalah dua hal yang tidak seharusnya dipertentangkan.
Jika sebuah kesalahan berhubungan dengan hak orang lain, misalnya memungut maupun merusak harta seseorang, maka mengucapkan istighfar saja tidak serta-merta menggugurkan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Hak yang menjadi tanggungan statis perlu ditunaikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dengan kata lain, istighfar seharusnya tidak selesai di lisan. Ia menjadi mula dari kesadaran untuk memperbaiki diri dan, jika ada hak orang lain yang terlanjur dilanggar, berupaya menyelesaikannya.
Di sinilah keelokan doktrin istighfar. Seorang hamba tidak cuma diajak untuk berkata, “Ya Allah, ampunilah aku,” tetapi juga dididik untuk berani mengakui kesalahan dan memungut cara nyata untuk memperbaikinya.