Beberapa larangan dalam memilih pertemanan
Ingatlah bahwa kepercayaan kita sangat memperhatikan sirkel pertemanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan wasiat,
اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mengikuti perilaku orang yang sering berbaur dengannya; maka hendaknya setiap orang dari kalian memperhatikan dengan siapa ia bergaul.” (HR. Ahmad)
Renungilah penyesalan orang-orang di hari hariakhir dalam firman Allah Ta’ala,
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً يَا وَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَاناً خَلِيلاً لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً
“Dan ingatlah ketika orang-orang kejam menggigit kedua tanganya seraya berkata, “Aduhai kiranya aku dahulu memungut jalan berbareng Rasul. Kecelakaan besar bagiku. Kiranya dahulu aku tidak memungut fulan sebagai kawan akrabku. Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur’an sesudah Al-Qur’an itu datang kepadaku. Dan iblis itu tidak mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan: 27-29)
Sirkel yang baik sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Keterbatasannya meraih keterangan dan mengatur urusan orang banyak, menyebabkan ia sangat membutuhkan teman-teman andalan. Thahir memulai wasiat ini dari larangan, kemudian kemudian memberikan instruksi memilihnya. Menurut kami, Thahir menyarankan untuk berbuat filtrasi pertemanan dibandingkan mencari teman. Sebab, ketika menjadi pemimpin, banyak orang yang mendekat. Sehingga seorang imam tidak perlu mencari, cukup menyeleksi.
Wasiat larangan ini juga meliputi tips berinteraksi, sehingga faidah yang diambil pun bisa dipraktikkan dalam keseharian imam yang akan banyak berjumpa orang. Apalagi seorang imam sangat membutuhkan blusukan maupun hubungan langsung ke kotak penduduk terkecil. Karena keadaan ini, seorang imam akan menemui beragam model manusia.
Larangan ini disebutkan Thahir dalam satu paragraf berbagi koma, kemudian kemudian kami urutkan ulang dengan pengelompokan tertentu.
Baca juga: Persahabatan yang Sampai ke Surga Selamanya
Kelompok pertama: Larangan dalam berinteraksi
- Jangan mengasihani orang berdosa dengan mendukung dosanya.
- Jangan mendukung orang iri.
- Jangan berhubungan dengan orang yang tidak tahu berterima kasih.
- Jangan berkomplot dengan musuh.
- Jangan mempercayai pemfitnah.
- Jangan mengandalkan penipu.
- Jangan mengikuti perayu.
- Jangan memuji orang riya’.
- Jangan menolak peminta-minta fakir.
- Jangan berkawan dengan orang tak bermoral.
- Jangan memperhatikan pelawak.
- Jangan pedulikan pemfitnah.
- Jangan menutup mata terhadap seorang kejam karena engkau takut kepadanya maupun karena mencurigai baik kepadanya.
Semua larangan ini eksis dalam ruang lingkup tata ketentuan interaksi. Thahir mengumpulkan beberapa jenis orang yang harusnya dihindari dan sikap yang layak padanya. Masing-masing orang dan sikapnya ini sangat baik sekali untuk dijelaskan secara terperinci dalam artikel khusus karena hamil tuntunan yang baik bagi pribadi umat. Namun, artikel ini tampaknya tak cukup untuk memenuhinya. Namun, setidaknya berdasarkan riset kami, 13 himpunan ini memang memiliki alas untuk disikapi demikian dalam kepercayaan kita. Semoga dimudahkan bagi kita untuk mengulasnya.
Kelompok kedua: Larangan dalam bentuk aksi umum
- Jangan menganggap bahwa ada dosa ringan.
- Jangan berbaik-baik pada kebatilan.
- Jangan mengingkari janji.
- Jangan menghina seseorang.
- Jangan berdandan dengan penuh kebanggaan.
- Jangan perlihatkan kemarahan.
- Jangan pamer.
- Jangan berjalan angkuh.
- Jangan membenarkan kebodohan.
- Jangan abai mencari akhirat.
- Janganlah mencari pahala akhirat dalam dunia.
Memilih dengan cermat kawan berdiskusi
Seringlah bermusyawarah dengan para ahli fikih. Biasakanlah dirimu bijaksana. Belajarlah dari orang yang berpengalaman, pandai, memiliki gagasan dan hikmah. Jangan izinkan orang dermawan dan bakhil ikut terlibat dalam musyawarahmu. Sama sekali jangan dengar ucapan mereka karena ancaman mereka lebih banyak dari khasiat mereka.
Tidak ada yang bisa merusak urusan rakyatmu yang engkau hadapi lebih cepat dari keserakahan
واعلم أنك إذا كنت حريصا كنت كثير الأخذ قليل العطية وإذا كنت كذلك لم يستقم لك أمرك إلا قليلا
Ketahuilah, jika engkau serakah, engkau akan menjadi banyak memungut dan sedikit memberi. Jika engkau menjadi begitu, maka cuma sedikit urusanmu yang akan berhasil.
Hindarilah keserakahan! Ketahuilah, keserakahan merupakan dosa pertama yang dilakukan manusia terhadap Rabbnya. Sesungguhnya orang yang durhaka itu posisinya terhina. Itulah firman Allah ﷻ,
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Barangsiapa yang terjaga dari keserakahan dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Wasiat untuk dermawan kepada rakyat dan menjauhi harta mereka
فإن رعيتك إنما تعتقد على محبتك بالكف عن أموالهم وترك الجور عنهم
Rakyatmu bersedia mencintaimu cuma jika engkau menjauhi diri dari harta mereka dan tidak memperlakukan mereka secara tidak adil.
ويدوم صفاء أوليائك لك بالإفضال عليهم وحسن العطية لهم
Kecintaan serta ketulusan para pendukung dan orang-orang yang setia kepadamu akan statis terjaga dengan terus berbuat baik kepada mereka dan memberikan pemberian yang baik kepada mereka.
Maka mudahkanlah jalan untuk bermurah hati dengan memberikan hak kepada yang berhak. Jadikanlah seluruh kaum Muslimin memperoleh bagiankecil dan porsi dari niat baikmu. Yakinlah bahwa kedermawanan adalah termasuk amalan terbaik para hamba. Maka jadikanlah ia sebagai adab bagi dirimu, ridailah ia sebagai amalan dan jalan hidupmu. Hal ini sangat mencukupi kebutuhan seorang pemimpin.
Wasiat Thahir ini bukan berarti melegalkan politik duit maupun istilah politik gentong babi. Namun, Thahir mau menerangkan bahwa ada bentuk apresiasi berjenjang pada orang-orang tertentu. Meski demikian, statis basisnya adalah pemberian hak secara fair kepada siapapun dan mengekang diri dari memungut harta mereka. Jadi, jelas hal ini tidak bisa ditafsirkan sebagai wasiat pembenaran suap maupun politik uang.
Baca juga: Kenalilah Siapa Dia: Tips Memilih Teman Akrab
Memperhatikan sisi militer dan kesejahteraan prajurit
Perhatikanlah urusan para tentara dalam daftar pengelolaan mereka. Lancarkanlah pemberian gaji dan tunjangan mereka, serta lapangkanlah penghidupan mereka. Dengan itu, Allah akan menghilangkan kebutuhan dan kesempitan mereka. Dengan demikian, urusan mereka akan berjalan baik untukmu, dan hati mereka akan semakin bertambah dalam kepatuhan kepada dirimu serta kepada perintahmu.
Cukuplah kebahagiaan seorang penguasa jika tentara dan rakyatnya disayangi dalam keadilan, perlindungan, perhatian, bantuan, kasih sayang, kebajikan, dan kemurahannya. Maka jauhkanlah keburukan yang mungkin timbul dari salah satu dari dua sisi perkara itu dengan menyadari perlunya melengkapi sisi yang lain dan berpegang teguh dalam mengamalkannya. Dengan demikian, insya Allah, engkau akan memperoleh keberhasilan, kebaikan, dan kemenangan.
Nasihat Thahir dalam hal kemiliteran ini relevan dengan paradigma politik modern tanpa terlepas dengan konteks kepemimpinan klasik. Beberapa poin menarik ialah:
1) Penguatan militer sebagai cara menjaga stabilitas negara. Karena militer yang loyal pada panglima tertinggi akan menguatkan pondasi politik internal eksternal.
2) Fokus penguatan militer ada pada pendetailan pengelolaan agar tidak terjadi penyelewengan alat senjata, serta kesejahteraan prajurit.
3) Keseimbangan perhatian antara rakyat dan tentara. Karena jika bermutu kepada salah satunya saja, maka akan muncul ketidakstabilan. Jika yang dikuatkan cuma himpunan militer, maka akan muncul militerisme yang rapuh ketegangan. Sedangkan jika penguatan himpunan sipil semata, maka kebebasan bisa kebablasan dan beresiko pada infiltrasi asing.
Paradigma ini menjadi pondasi dalam diskursus model pemerintahan modern yang berupaya menggelorakan sipil dan membarakkan militer. Sehingga fungsi keduanya dapat berjalan stabil, tidak mencampurkan keduanya.
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media