Kincai Media– Ada saat-saat ketika hati sedih dan terasa begitu berat. Kita mungkin sedang kehilangan seseorang yang dicintai, menghadapi masalah yang tidak kunjung selesai, kecewa terhadap keadaan, maupun sekadar merasa capek menjalani kehidupan.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang mungkin bertanya, “Apa yang mesti aku lakukan ketika hatiku sedang sedih?”
Islam tidak mengajarkan kita untuk menyangkal kesedihan. Kesedihan adalah bagiankecil dari hayat manusia. Bahkan para nabi pun pernah mengalami kesedihan yang mendalam. Yang diajarkan Islam adalah sepertiapa membawa kesedihan itu kepada Allah, menjalaninya dengan sabar, dan tidak membiarkan kesedihan menjauhkan kita dari-Nya.
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan ketika hati sedang diliputi kesedihan.
1. Mengadukan kesedihan kepada Allah
Salah satu teladan yang sangat elok dapat kita lihat dari Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam ketika beliau kehilangan putranya, Yusuf. Kesedihan beliau begitu mendalam, tetapi beliau tidak menjadikan kesedihan itu sebagai karena untuk beralih dari Allah.
Allah mengabadikan ucapan Nabi Ya’qub:
قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّي وَحُزْنِيٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ ٨٦
Artinya; “Dia (Ya‘qub) menjawab, ‘Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak Anda ketahui.’” (QS. Yusuf: 86).
Ayat ini memberitahu kepada kita bahwa mengadukan kesedihan kepada Allah bukanlah tanda kelemahan. Justru, itu merupakan bentuk penghambaan dan ketergantungan kepada-Nya. Lebih jauh, Imam al-Ṭabari dalam Jāmi‘ al-Bayān menerangkan arti al-bathth sebagai kesedihan dan kegelisahan yang begitu bermutu hingga seseorang sulit menyembunyikannya. Ia berkata;
قال أبو جعفر: يقول تعالى ذكره: قال يعقوب للقائلين له من ولده: تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّى تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ، لست إليكم أشكو بثي وحزني، وإنما أشكو ذلك إلى الله.
Abu Ja‘far menerangkan bahwa Ya‘qub berkata kepada anak-anaknya, pada intinya: beliau tidak mengadukan kesusahan dan kesedihannya kepada mereka, tetapi mengadukannya kepada Allah.
Karena itu, ketika hati sedang berat, kita tidak mesti memendam semuanya sendirian. Kita boleh menangis. Kita boleh mengakui bahwa kita sedang terluka. Kita boleh merasakan sedih.
Namun, tempat pertama untuk membawa seluruh keluh kesah itu adalah Allah. Sampaikan kepada-Nya apa yang mungkin tidak sanggup kita ceritakan kepada manusia. Sebab Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati, terlebihlagi sebelum lisan kita mengungkapkannya.
Dalam Islam, kesedihan bukan karena untuk menjauh dari Allah. Justru, kesedihan dapat menjadi jalan bagi seorang hamba untuk semakin dekat kepada-Nya.
2. Memperbanyak zikir ketika hati gelisah
Ketika hati sedang gelisah, manusia sering mencari sesuatu yang dapat membuatnya merasa tenang. Islam mengarahkan hati seorang mukmin untuk balik mengingat Allah.
Allah berfirman:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
Artinya; “(Yaitu) orang-orang yang percaya dan hati mereka menjadi damai dengan mengingat Allah. Ingatlah, cuma dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. al-Ra‘d: 28).
Ibnu Katsir menerangkan dengan berdzikir pada Allah, hati akan menjadi tenang dan menjadi pelindung dari Allah. Ibnu Katsir berkata;
أَيْ: تَطِيبُ وَتَرْكَنُ إِلَى جَانِبِ اللَّهِ، وَتَسْكُنُ عِنْدَ ذِكْرِهِ، وَتَرْضَى بِهِ مَوْلًى وَنَصِيرًا.
“Yakni hati menjadi baik, bersandar kepada Allah, tenang ketika mengingat-Nya, dan ridha menjadikan-Nya sebagai Pelindung dan Penolong.”
Lebih jauh, Ibnu ‘Āsyūr menerangkan bahwa dzikrullah dapat dipahami sebagai rasa takut kepada Allah dan kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi, yang kemudian diwujudkan dengan berpegang teguh pada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Beliau berkata:
و بذكر الله يجوز أن يراد به خشية الله ومراقبته بالوقوف عند أمره ونهيه . ويجوز أن يراد به القرآن قال وإنه لذكر لك ولقومك ، وهو المناسب قولهم لولا أنزل عليه آية من ربه لأنهم لم يكتفوا بالقرآن آية على صدق الرسول فقالوا لولا أنزل عليه آية من ربه ،
Artinya; Adapun firman-Nya, “dan dengan mengingat Allah” (وَبِذِكْرِ اللَّهِ), dapat dimaksudkan sebagai rasa takut kepada Allah dan merasa diawasi oleh-Nya, dengan metode berpegang teguh pada perintah-Nya dan selesai pada batas-batas larangan-Nya.
Dan dapat pula yang dimaksud dengan dzikrullah adalah Al-Qur’an, berdasarkan firman-Nya:
وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar merupakan peringatan bagimu dan bagi kaummu.”
Makna ini sesuai dengan perkataan mereka:
لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ
“Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mukjizat dari Tuhannya?”
Sebab, mereka tidak menganggap Al-Qur’an sebagai bukti yang cukup untuk memberitahu fakta Rasul. Oleh karena itu, mereka berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya suatu mukjizat dari Tuhannya?”
Dengan demikian, ketika hati sedang sedih, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta menghadirkan kesadaran bahwa kita tidak pernah luput dari ilmu dan pengawasan Allah.
3. Bersabar bukan berarti tidak boleh menangis
Ada satu histori Nabi yang sangat elok dalam menerangkan sepertiapa seorang mukmin menghadapi keadaan hidupnya.
Rasulullah bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
“Menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim)
Perhatikan bahwa Rasulullah tidak mengatakan bahwa orang percaya tidak akan mengalami kesedihan. Yang Nabi ajarkan adalah sepertiapa seorang mukmin bersikap ketika kesusahan datang:
إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ
Artinya; “Jika ia mendapatkan kesusahan, ia bersabar.”
Ini memberitahu bahwa kesedihan dan kesabaran dapat berjalan bersamaan. Seseorang bisa menangis sekaligus bersabar. Seseorang bisa merasa kehilangan sekaligus statis percaya kepada Allah. Seseorang bisa merasa terluka sekaligus statis menjaga lisannya dari keluhan yang memberitahu ketidakridhaan kepada takdir Allah.
Nabi Ya‘qub sendiri menangis karena kehilangan Yusuf. Allah berfirman:
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ ٱلْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dia beralih dari mereka seraya berkata, ‘Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan, sedangkan dia adalah orang yang mengekang amarahnya.” (QS. Yusuf: 84)
Karena itu, menangis bukan tanda lemahnya iman. Yang perlu diperhatikan adalah sepertiapa kita menyikapi kesedihan tersebut. Apakah kesedihan itu membikin kita semakin dekat kepada Allah, maupun justru membikin kita berputus asa dari rahmat-Nya?
4. Membaca doa ketika dilanda kesedihan
Ketika seseorang sedang mengalami kesedihan dan kegelisahan, Islam juga mengajarkan doa yang sangat jelas.
Nabi berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, dari beratnya lilitan utang dan tekanan manusia.”
Doa ini diriwayatkan dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Perhatikan dua kata yang terdapat dalam doa tersebut: al-hamm dan al-ḥazan. Keduanya berhubungan dengan keadaan hati yang tidak betah karena kegelisahan dan kesedihan.
Ini memberikan pelajaran krusial kepada kita: ketika hati sedang tidak baik-baik saja, kita tidak cuma dianjurkan untuk bertetap sendirian. Kita diajarkan untuk meminta pertolongan Allah secara langsung.
Maka, ketika kesedihan datang, ambillah waktu untuk berdoa. Tidak mesti dengan kata-kata yang panjang. Bahkan jika yang bisa keluar dari lisan kita cuma beberapa kalimat sederhana, sampaikanlah kepada Allah.
“Ya Allah, aku sedang lemah. Tolonglah aku.”
“Ya Allah, tenangkan hatiku.”
“Ya Allah, berikan aku kekuatan untuk melewati ini.”
Doa seperti itu adalah bentuk pengakuan bahwa kita memiliki Rabb yang menjadi tempat bergantung.
5. Jangan biarkan kesedihan melumpuhkan diri
Kesedihan memang manusiawi. Namun, seseorang juga perlu berjaga-jaga agar tidak terus-menerus tenggelam di dalamnya hingga kehilangan kapasitas untuk melanjutkan hayat dan kebaikan.
Dalam Madārij al-Sālikīn, Ibn al-Qayyim membahas secara khusus tentang مَنْزِلَةُ الْحُزْنِ, yaitu “kedudukan kesedihan”. Ia mengutip perkataan penulis Manāzil al-Sā’irīn:
قال صاحب المنازل: الحزن توجع لفائت، وتأسف على ممتنع. يريد أن ما يفوت الإنسان قد يكون مقدورًا له، وقد لا يكون، فإن كان مقدورًا توجع لفوته، وإن كان غير مقدور تأسف لامتناعه.
“Kesedihan adalah rasa pedih atas sesuatu yang telah luput dan rasa menyesal atas sesuatu yang tidak dapat diperoleh. Maksudnya, sesuatu yang luput dari seseorang terkadang merupakan sesuatu yang sebenarnya eksis dalam kemampuannya dan terkadang bukan sesuatu yang eksis dalam kemampuannya.
Jika sesuatu itu eksis dalam kemampuannya, ia merasa pedih karena kehilangannya. Sedangkan jika sesuatu itu eksis di luar kemampuannya, ia merasa menyesal karena tidak dapat memperolehnya.”
Walhasil, bahasan di atas adalah ikhtiar untuk melihat kesedihan dan kegelisahan dari sisi agama, khususnya sepertiapa Islam mengajarkan seorang Muslim untuk menghadapi keadaan tersebut dengan balik kepada Allah, berdoa, berzikir, bersabar, dan statis melanjutkan hayat dengan sebaik-baiknya.
Namun, bukan berarti setiap permasalahan hati cuma dapat diselesaikan dengan pendekatan keagamaan. Manusia memiliki sisi yang kompleks. Ada keadaan ketika kesedihan, kecemasan, maupun kegelisahan terasa begitu bermutu dan terjadi cukup durasi sehingga seseorang membutuhkan pertolongan dari sisi yang lain.
Dalam keadaan seperti itu, berkonsultasi kepada psikolog juga merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang penting. Mencari pertolongan ahli bukan berarti seseorang kurang kepercayaan maupun kurang berserah diri kepada Allah. Sebaliknya, ikhtiar untuk memahami kondisi diri, mengelola emosi, dan mendapatkan pendampingan yang tepat juga dapat menjadi bagiankecil dari upaya seseorang untuk menjaga dirinya.
Karena itu, ketika hati sedang tidak tenang, seseorang dapat menempuh beragam bentuk ikhtiar secara bersamaan: mendekat kepada Allah dengan doa, zikir, dan ibadah, sekaligus tidak ragu untuk berbicara dengan orang yang dipercaya maupun berkonsultasi kepada psikolog jika memang dibutuhkan.
Sebab, berserah diri kepada Allah tidak berarti meninggalkan ikhtiar. Dan mencari pertolongan ketika kita sedang kesulitan bukanlah tanda kelemahan. Terkadang, salah satu bentuk keberanian adalah mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan pertolongan untuk melewati masa tersebut.