Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas sepertiapa hajat jahat musyrikin Quraisy dalam menghalangi dakwah Rasulullah ﷺ saat musim haji. Pada artikel kali ini, kita akan membahas beragam metode yang dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy dalam menentang dakwah Rasulullah ﷺ sebagaimana dipaparkan oleh Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah.
Setelah musim haji usai, kaum musyrikin Quraisy mulai memikirkan balik sepertiapa metode melenyapkan dakwah Rasulullah ﷺ dari akar-akarnya. Syekh Shafiyurrahman memaparkan beberapa metode yang dilakukan kaum musyrikin Quraisy. Di antaranya adalah tiga metode berikut.
Ejekan, penghinaan, dan pendustaan
Tujuan kaum musyrikin dengan semua itu adalah melemahkan kaum muslimin dan meruntuhkan kekuatan mental mereka. Mereka melontarkan dakwaan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan dakwaan yang menggelikan dan makian-makian yang bodoh. Mereka mengatakan beliau sebagai orang gila, sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ
“Dan mereka berkata, ‘Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Qur’an, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila.’” (QS. Al-Hijr: 6)
Mereka juga memberi cap kepada beliau sebagai penyihir dan pendusta. Allah Ta’ala menceritakan,
وَعَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ ۖ وَقَالَ الْكَافِرُونَ هَٰذَا سَاحِرٌ كَذَّابٌ
“Dan mereka merasa heran karena seorang pemberi peringatan datang kepada mereka dari kalangan mereka sendiri. Orang-orang kafir berkata, ‘Ini adalah seorang penyihir lagi pendusta.’” (QS. Shad: 4)
Mereka mengiringi dan menyambut beliau dengan tatapan mata yang menyala penuh kebencian dan emosi yang bergejolak penuh kemarahan. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ
“Dan sungguh, orang-orang kafir itu hampir-hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mata mereka ketika mereka mendengar Al-Qur’an, dan mereka berkata, ‘Sesungguhnya dia benar-benar orang gila.’” (QS. Al-Qalam: 51)
Ketika beliau duduk dikelilingi para sahabat beliau yang berasal dari kalangan lemah, mereka mengejek mereka seraya berkata, “Inikah orang-orang yang Allah beri karunia di antara kami?” Yang dimaksud Syekh Shafiyurrahman adalah firman Allah Ta’ala,
وَكَذَٰلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَٰؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا
“Demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata, ‘Orang-orang semacam inikah yang diberi karunia oleh Allah di antara kita?’” (QS. Al-An‘am: 53)
Padahal Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya,
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
“Bukankah Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?” (QS. Al-An‘am: 53)
Mereka semakin banyak berbuat ejekan dan penghinaan. Sedikit demi sedikit mereka semakin menambah cacian dan menjadikan beliau sebagai bahan tertawaan, sampai hal tersebut mempengaruhi emosi Rasulullah ﷺ, yaitu membikin dada beliau terasa sempit. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ
“Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit karena apa yang mereka ucapkan.” (QS. Al-Hijr: 97)
Kemudian Allah meneguhkan beliau dan memerintahkannya berbuat sesuatu yang dapat menghilangkan kesempitan tersebut. Di antaranya adalah bertasbih dan banyak beribadah. Allah Ta’ala berfirman,
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ، وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah termasuk orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan.” (QS. Al-Hijr: 98–99)
Allah juga mengabarkan bahwa Dia akan mencukupkan beliau dari gangguan orang-orang yang memperolok-olok tersebut.
إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ، الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۚ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Sesungguhnya Kami telah mencukupimu dari orang-orang yang memperolok-olok, yaitu orang-orang yang menjadikan sesembahan lain berbareng Allah. Kelak mereka akan mengetahui.” (QS. Al-Hijr: 95–96)
Allah juga memberitahukan Rasulullah ﷺ bahwa perbuatan mereka tersebut kelak akan berbalik menjadi bencana bagi diri mereka sendiri. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُوا مِنْهُمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
“Dan sungguh, para Rasul sebelum engkau pun telah diperolok-olok. Maka orang-orang yang mengejek mereka ditimpa oleh apa yang dahulu mereka perolok-olokkan.” (QS. Al-An‘am: 10)
Baca juga: Fir’aun Mendustakan Allah Berada di Atas Langit
Menuduh Al-Qur’an dengan beragam propaganda dusta
Kaum musyrikin Quraisy sangat banyak berbuat hal ini dan membikin beragam macam bentuknya, sehingga orang-orang awam tidak memiliki kesempatan untuk merenungkan dakwah beliau dan memikirkannya.
Tentang Al-Qur’an, mereka mengatakan bahwa ia hanyalah mimpi-mimpi yang kacau maupun dibuat-buat oleh Rasulullah ﷺ sendiri.
بَلْ قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ بَلِ افْتَرَاهُ
“Bahkan mereka berkata, ‘Itu adalah mimpi-mimpi yang kacau. Bahkan dia mengada-adakannya.” (QS. Al-Anbiya’: 5)
Mereka juga pernah menuduh bahwa ada orang-orang yang membantu Rasulullah ﷺ membuat Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman menceritakan perkataan mereka,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا إِفْكٌ افْتَرَاهُ وَأَعَانَهُ عَلَيْهِ قَوْمٌ آخَرُونَ ۖ فَقَدْ جَاءُوا ظُلْمًا وَزُورًا
“Ini tidak lain hanyalah ketidakjujuran yang dia ada-adakan, dan orang lain telah membantunya membuatnya.” (QS. Al-Furqan: 4)
Mereka juga pernah mengatakan Al-Qur’an sebagai dongeng orang-orang terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ اكْتَتَبَهَا فَهِيَ تُمْلَىٰ عَلَيْهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
“Mereka berkata, ‘Dongeng-dongeng orang-orang dahulu yang dimintanya untuk dituliskan, kemudian dibacakan kepadanya pagi dan petang.’” (QS. Al-Furqan: 5)
Terkadang mereka mengatakan bahwa beliau memiliki jin maupun iblis yang turun kepadanya, sebagaimana jin dan iblis turun kepada dukun. Namun Allah membantah dakwaan tersebut dengan berfirman,
هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَىٰ مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ، تَنَزَّلُ عَلَىٰ كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ
“Maukah Aku beritakan kepadamu kepada siapa setan-setan itu turun? Mereka turun kepada setiap pembohong yang banyak berdosa.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 221–222)
Padahal Rasulullah ﷺ tidak pernah berbuat kedustaan dan kefasikan. Bagaimana mungkin bisa iblis turun kepada beliau?
Menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an
Mereka mengusir orang-orang, membikin keributan dan kegaduhan, bernyanyi, dan bermain-main jika melihat Nabi Muhammad ﷺ bersiap untuk berceramah maupun ketika melihat beliau sedang salat dan membaca Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَسْمَعُوا لِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ
“Orang-orang kafir berkata, ‘Janganlah kalian mendengarkan Al-Qur’an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya agar kalian dapat mengalahkannya.’” (QS. Fushshilat: 26)
Sampai-sampai Nabi Muhammad ﷺ tidak dapat membacakan Al-Qur’an kepada mereka di tempat-tempat pertemuan dan dewan mereka kecuali pada akhir tahun kelima kenabian. Itu pun beliau melakukannya secara tiba-tiba, tanpa mereka mengetahui maksud beliau sebelum bahanbacaan dimulai.
An-Nadhr bin al-Harits (النضر بن الحارث), salah seorang figur jahat Quraisy, pernah pergi ke Hirah. Di sana ia mempelajari cerita-cerita tentang raja-raja Persia dan kisah Rustam (رستم) dan Isfandiyar (اسفنديار). Setiap kali Rasulullah ﷺ duduk dalam suatu dewan untuk mengingatkan manusia kepada Allah dan memperingatkan mereka dari azab-Nya, an-Nadhr kemudian memungut tempat setelah beliau dan berkata, “Demi Allah, wahai kaum Quraisy, aku lebih pandai bercerita daripada dia.”
Kemudian ia menceritakan kepada mereka kisah raja-raja Persia, Rustam, dan Isfandiyar. Setelah itu ia berkata, “Dalam hal apa Muhammad lebih baik ceritanya daripada aku?”
Demikianlah beberapa metode yang digunakan kaum musyrikin Quraisy dalam menentang dakwah Rasulullah ﷺ. Mereka tidak cuma mengejek dan mencela, tetapi juga menyebarkan syubhat, membikin propaganda dusta, menghalangi manusia dari mendengarkan Al-Qur’an, dan menandinginya dengan cerita-cerita yang melalaikan. Dari sini kita belajar bahwa dakwah fakta akan selalu menghadapi beragam bentuk penentangan. Namun, sebagaimana Rasulullah ﷺ statis teguh dalam menyampaikan risalah, kaum muslimin pun hendaknya statis bersabar, tidak gentar, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah.
Baca juga: Kafir Quraisy Juga Mengenal Allah dan Rajin Ibadah
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Kincai Media
Referensi:
ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri varian revisi penulis 1415 H/1994 M.