Saat Hidup Terasa Berat, Surah Al-Insyirah Mengajarkan Cara Melapangkan Dada

Bincang Syariah oleh Waktu baca 4 menit 217x dilihat
Saat Hidup Terasa Berat, Surah Al-Insyirah Mengajarkan Cara Melapangkan Dada

Bagikan Postingan

Saat Hidup Terasa Berat, Surah Al-Insyirah Mengajarkan Cara Melapangkan Dada
Saat Hidup Terasa Berat, Surah Al-Insyirah Mengajarkan Cara Melapangkan Dada

Kincai Media– Ketika permasalahan datang bertubi-tubi, seseorang terkadang bukan cuma membutuhkan jalan keluar, tetapi juga membutuhkan hati yang lapang untuk menjalaninya. Surah Al-Insyirah mengajarkan bahwa pertolongan Allah tidak selalu berupa hilangnya masalah, tetapi juga berupa kapasitas untuk menghadapi masalah tersebut.

Setiap orang tentu pernah eksis pada titik ketika hidup terasa begitu berat. Ada permasalahan yang datang tanpa diduga, pekerjaan yang belum selesai, urusan famili yang belum menemukan jalan keluar, maupun kecemasan tentang masa depan yang terus memenuhi pikiran.

Pada saat seperti itu, nasihat “sabar” terkadang terasa belum cukup. Bukan karena sabar tidak penting, tetapi karena seseorang membutuhkan sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi kesulitan.

Al-Qur’an memberikan penguatan tersebut melalui Surah Al-Insyirah maupun Surah Asy-Syarḥ. Surah yang terdiri atas delapan ayat ini berbicara tentang kelapangan dada, pertolongan Allah, kemudahan setelah kesulitan, serta pentingnya terus mengharapkan kepada-Nya.

Menariknya, Surah Al-Insyirah turun setelah Surah Adh-Dhuḥā. Keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam menyampaikan pesan penguatan kepada Rasulullah.

Ibnu ‘Āsyūr dalam buku At-Taḥrīr wa at-Tanwīr menerangkan bahwa Surah Al-Insyirah merupakan surah Makkiyyah yang turun setelah Surah Adh-Dhuḥā dan sebelum Surah Al-‘Aṣr. Surah ini juga dikenal dengan beberapa nama, antara lain Surah Alam Nasyraḥ, Surah Asy-Syarḥ, dan Surah Al-Insyirah.

Nama terakhir berhubungan dengan kandungan ayat pertamanya:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Artinya; “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?”

Ayat tersebut seakan menjadi balasan sekaligus penghiburan Allah kepada Rasulullah dalam menghadapi beratnya tugas kenabian dan dakwah. Jika Surah Adh-Dhuḥā mengingatkan Nabi terhadap beragam nikmat dan pertolongan Allah yang telah beliau terima, Surah Al-Insyirah melanjutkan pesan tersebut dengan mengingatkan beliau tentang kelapangan yang Allah berikan dalam menghadapi beban.

Karena itu, tidak mengherankan jika para ulama melihat adanya hubungan yang sangat kuat antara kedua surah tersebut. Aisyah Bintu Asy-Syāṭi’ dalam At-Tafsīr Al-Bayānī lil-Qur’ān Al-Karīm menerangkan bahwa Surah Al-Insyirah turun setelah Surah Adh-Dhuḥā. Bahkan terdapat sebuah histori yang mengaitkan keduanya secara erat karena adanya kesinambungan dalam penyebutan nikmat Allah.

Dalam Surah Adh-Dhuḥā, Allah berfirman:

أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ

Artinya; “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, kemudian Dia melindungimu?”

Sementara dalam Surah Al-Insyirah Allah berfirman:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

Artinya; “Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”

Kedua ayat tersebut sama-sama mengingatkan Rasulullah bahwa ada perhatian Allah yang senantiasa menyertai perjalanan hidup beliau.

Lalu, apa yang dimaksud dengan Allah melapangkan dada? Al-Māwardī dalam Tafsīr Al-Māwardī memberikan beberapa penjelasan. Menurutnya, kata nasyraḥ dapat berarti menghilangkan kegelisahan sehingga seseorang dapat menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Ia juga dapat berarti melapangkan dada agar seseorang bisa menanggung beban yang dipikulnya.

Penjelasan ini menarik untuk direnungkan. Sebab, kelapangan dada tidak selalu berarti masalah telah selesai. Kadang-kadang masalahnya statis ada. Tanggung jawab statis mesti dijalankan. Beban statis mesti dipikul. Tetapi hati diberikan kapasitas untuk menghadapinya.

Al-Māwardī juga mengutip beberapa gagasan ulama mengenai bentuk kelapangan dada Rasulullah. Ibnu ‘Abbās memaknainya sebagai Islam. Al-Ḥasan memaknainya sebagai hikmah dan ilmu. Sementara ‘Aṭā’ memaknainya sebagai kesabaran dan kapasitas menanggung beragam beban.

Dari sini dapat dipahami bahwa kelapangan dada berhubungan erat dengan kesiapan batin seseorang dalam menghadapi kehidupan. Seseorang bisa saja memiliki permasalahan yang besar, tetapi memiliki hati yang kuat.

Sebaliknya, permasalahan yang tampak kecil bisa terasa sangat bermutu ketika hati sedang sempit. Karena itu, terkadang yang paling kita butuhkan bukan cuma fluktuasi keadaan, melainkan kelapangan hati untuk menjalani keadaan tersebut.

Lebih jauh, Sayyid Quṭb dalam Fī Ẓilālil Qur’ān mengatakan Surah Al-Insyirah sebagai kelanjutan dari Surah Adh-Dhuḥā. Menurutnya, surah ini menghadirkan kondisi kasih sayang, perhatian, pemeliharaan Allah, berita ceria tentang kemudahan dan kelapangan, serta instruksi untuk menjaga hubungan yang kokoh dengan-Nya.

Pesan tersebut terasa sangat dekat dengan hayat kita. Sebab, manusia tidak selalu bisa memilih permasalahan apa yang akan datang kepadanya. Tetapi manusia dapat belajar sepertiapa menghadapinya.

Ada saat ketika kita membutuhkan jalan keluar. Ada saat ketika kita membutuhkan pertolongan orang lain. Dan ada saat ketika yang paling kita butuhkan adalah hati yang dilapangkan Allah.

Surah Al-Insyirah mengajarkan bahwa hidup yang lapang bukan berarti hidup tanpa masalah. Hidup yang lapang adalah ketika hati statis memiliki ruang untuk sabar, berpikir jernih, berikhtiar, dan mengharapkan kepada Allah meskipun masalah belum sepenuhnya selesai.

Maka, ketika hidup terasa berat, mungkin kita perlu selesai sebentar dan membaca balik Surah Al-Insyirah. Bukan sekadar untuk mengingat bahwa berbareng kesulitan ada kemudahan, tetapi juga untuk mengingat bahwa sebelum kemudahan itu datang, Allah dapat terlebih dahulu memberikan sesuatu yang sangat kita perlukan: kelapangan dada.

Sebab, terkadang Allah tidak langsung mengubah keadaan yang sedang kita hadapi. Allah terlebih dahulu menguatkan hati kita agar bisa menghadapinya.

Dan ketika hati telah lapang, kita mungkin akan melihat bahwa pertolongan Allah sebenarnya telah datang dalam beragam bentuk, cuma saja sebelumnya kita belum bisa melihatnya.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads