Istana Pagaruyung di Batusangkar, Sumbar.
Kincai Media, Jakarta - Di seluruh alam Minangkabau, emosi jenuh dan tidak suka kepada Belanda pada masa Perang Paderi (1800-an masehi) tambah menjalar. Sejak dari dalam istana Pagaruyung hingga ke dusun pedalaman semua orang membenci Belanda.
Prof Buya Hamka dalam bukunya yang berjudul Dari Perbendaharaan Lama menuliskan, dalam suasana seperti itu, Belanda malah mendatangkan Sentot Ali Basya atau Sentot Prawirodirjo dari Tanah Jawa. Dia adalah salah satu panglima dalam perang Diponegoro yang telah menyerahkan diri kepada Belanda berbareng para prajuritnya. Namun, ketika Sentot menyerah, beliau membikin syarat yang salah satunya adalah tetap menggunakan 'pakaian Islam'nya. Penyerahan diri Sentot dilakukan di Yogyakarta dengan sambutan upacara militer oleh Belanda.
Sentot kemudian dikirim Belanda ke Tanah Minangkabau untuk membantu Belanda mengalahkan Pasukan Paderi. Dengan strategi adu dombanya, Belanda memfitnah pasukan Paderi adalah orang-orang yang bergolongan sesat. Sentot awalnya mempercayai itu dan dia dijanjikan oleh Belanda untuk menjadi raja dalam salah satu daerah di Minangkabau ialah di Solok jika sukses menumpas pasukan Paderi.
Namun, rupanya Belanda tidak memperhitungkan bahwa ada aspek yang mempertemukan Raja Pagaruyung alias Raja Minangkabau terakhir ialah Sultan Alam Bagagar Syah dan juga kaum Paderi.
Buya Hamka menuliskan, saat di Tanah Minangkabau, Sentot memandang dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa kaum Paderi yang memberontak pada Belanda itu, sama hakikatnya dengan dia. Sama pakaiannya berjubah dan bersorban. Dan sama pula ibadahnya ialah sholat ketika azan dikumandangkan.