Cara membedakan bisikan dari Allah, hawa nafsu, dan setan menurut Imam Al‑Ghazali
Setiap orang sering merasakan berbagai gagasan dan dorongan yang melintas di hati; namun tidak semua berasal dari sumber yang sama.
Dalam kitab Minhajul Abidin, Imam Al‑Ghazali menerangkan bahwa ada bisikan yang berasal dari Allah SWT dan malaikat, serta bisikan yang datang dari hawa nafsu atau bujukan setan. Masing‑masing memiliki ciri yang memungkinkan seorang Muslim membedakannya sebelum mengambil tindakan.
Ulama yang bernama lengkap Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al‑Ghazali ini menjabarkan langkah‑langkah untuk mengenali bisikan baik dan buruk dalam hati. Menurutnya, bisikan baik datang dari Allah SWT dan malaikat, sedangkan bisikan buruk berasal dari setan dan hawa nafsu.
Setelah mengklasifikasikan jenis‑jenis bisikan, Al‑Ghazali menekankan pentingnya merenungkan tiga aspek utama terkait dorongan hati.
Pertama, pahami secara umum perbedaan antara kemauan yang baik dan yang buruk: landasan moral dan tujuan tiap keinginan membantu menilai sifatnya.
Kedua, identifikasi apakah kemauan buruk itu lahir dari hasrat hawa nafsu atau dari bisikan setan; sebab metode menghadapi keduanya berbeda—hawa nafsu ditenangkan dan diarahkan, sedangkan pengaruh setan perlu ditolak dan dijauhi.
Ketiga, untuk keinginan yang tampak baik, pastikan asalnya: jika berasal dari bisikan Allah, maka layak diupayakan; bila itu tipuan setan, maka harus ditolak. Prinsip yang sama berlaku terhadap keinginan baik yang dipicu oleh hawa nafsu.