Cara Mengenali Anak yang Dibesarkan Orang Tua Minim Empati Dilihat dari Kebiasaannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 40x dilihat
Cara Mengenali Anak yang Dibesarkan Orang Tua Minim Empati Dilihat dari Kebiasaannya

Bagikan Postingan

Setiap orang tua tentu mau memberikan pengasuhan terbaik agar anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan bisa menjalin hubungan sehat dengan orang lain. Namun, tidak semua anak mendapatkan sokongan emosional yang cukup selama masa pertumbuhannya.

Orang tua yang minim empati, misalnya, cenderung mengabaikan emosi anak maupun menganggap emosi yang ditunjukkan sebagai sesuatu yang berlebihan. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi metode anak melihat dirinya sendiri hingga dewasa.

Bahkan, ada sejumlah kebiasaan yang terbentuk sebagai respons terhadap kurangnya perhatian dan pengesahan emosional dari orang tua. 


Lantas, sepertiapa metode mengenali anak yang tumbuh dalam pola pengasuhan minim empati? Yuk, Bunda, simak delapan kebiasaannya yang mungkin terbawa hingga dewasa berikut ini.

8 Kebiasaan anak yang dibesarkan orang tua minim empati

Mengutip halaman Your Tango, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua tanpa empati cenderung mengembangkan pola perilaku tertentu ketika bergeser dewasa. Saat emosi mereka sering diabaikan, anak belajar menghadapi masalah emosional seorang diri, menyembunyikan perasaan, maupun enggan meminta pertolongan kepada orang lain.

Meskipun kebiasaan tersebut awalnya menjadi metode untuk melindungi diri dari frustrasi selama masa kanak-kanak, dampaknya bisa terbawa hingga dewasa. Berikut delapan kebiasaan yang mungkin muncul:

1. Sering meminta ampun untuk hal-hal kecil

Anak yang terbiasa merasa bahwa perasaannya menjadi beban bagi orang tua dapat tumbuh menjadi pribadi yang gampang meminta maaf.

Mereka terlebihlagi merasa perlu mengatakan ampun ketika bertanya, meminta pertolongan, mengungkapkan ketidaknyamanan, maupun menyampaikan pendapat.

Kebiasaan ini muncul karena mereka terbiasa menjaga kondisi agar orang lain tidak merasa terganggu. Ketika dewasa, mereka mungkin terlalu banyak menerangkan karena di balik permintaannya maupun merasa bersalah karena menganggap dirinya merepotkan orang lain.

2. Kesulitan meminta pertolongan kepada orang lain

Ketika tumbuh berbareng orang tua yang kurang peka terhadap kebutuhan emosionalnya, anak bisa belajar bahwa meminta pertolongan tidak selalu mendatangkan dukungan. Mereka akhirnya terbiasa menyelesaikan beragam permasalahan sendiri daripada mengharapkan kepada orang lain.

Saat dewasa, kebiasaan ini dapat kelihatan dari sikap yang selalu merasa bisa mengatasi segala sesuatu tanpa bantuan. 

3. Terbiasa menyembunyikan perasaan

Anak yang sering mendapatkan respons negatif ketika memberitahu kesedihan, kemarahan, maupun frustrasi dapat memilih untuk memendam emosinya. Mereka merasa mengungkapkan emosi cuma akan menimbulkan masalah baru sehingga lebih betah berpura-pura baik-baik saja.

Kebiasaan tersebut bisa berlanjut hingga dewasa. Mereka cenderung menghindari percakapan yang membutuhkan keterbukaan emosional dan memilih menjawab bahwa dirinya baik-baik saja meskipun sedang menghadapi masalah.

4. Selalu menganggap orang lain akan mengecewakan

Kurangnya sokongan dari orang tua dapat membikin anak kesulitan membangun ekspektasi positif terhadap orang lain. Ketika sosok yang seharusnya memberikan rasa terlindungi justru sering mengabaikan kebutuhannya, anak bisa tumbuh dengan anggapan bahwa tidak ada orang yang benar-benar dapat diandalkan.

Saat dewasa, mereka mungkin memilih untuk tidak mengharapkan banyak kepada orang lain. Bahkan, mereka cenderung menjaga rentang lebih dahulu karena cemas balik mengalami kekecewaan. 

5. Menjadi pribadi yang terlalu mandiri

Anak yang tidak mendapatkan pengesahan emosional sejak kecil biasanya terbiasa mengurus segala sesuatunya sendiri. Mereka belajar bahwa mengandalkan orang lain bukanlah pilihan yang bisa memberikan rasa aman.

Ketika dewasa, kebiasaan ini dapat kelihatan dari kesulitan membagi tugas, menolak bantuan, hingga merasa mesti menyelesaikan semua tanggung jawab tanpa melibatkan orang lain.

Dari luar, mereka mungkin kelihatan sangat berdikari dan tangguh. Namun, di balik sikap tersebut, ada kemungkinan mereka sebenarnya merasa terbebani karena tidak terbiasa menerima dukungan.

6. Sulit mempercayai ketulusan orang lain

Kurangnya kasih sayang dan perhatian emosional di rumah dapat membikin anak tidak terbiasa menerima kebaikan secara konsisten. Akibatnya, ketika seseorang memberikan perhatian maupun pertolongan dengan tulus, mereka justru merasa mencurigai dan mempertanyakan maksud di balik aksi tersebut.

Saat dewasa, mereka mungkin kesulitan menerima pujian, merasa tidak betah ketika mendapatkan perlakuan baik, maupun menganggap ada sesuatu yang diharapkan sebagai balasannya. 

7. Sering meragukan perasaannya sendiri

Anak yang berulang kali dianggap terlalu sensitif maupun berlebihan ketika memberitahu emosi, dapat tumbuh dengan kebiasaan meragukan perasaannya sendiri. Mereka tidak lagi percaya apakah kesedihan, kemarahan, maupun frustrasi yang dirasakan merupakan respons yang wajar.

8. Selalu mendahulukan kebutuhan orang lain

Anak yang tumbuh dengan orang tua yang kurang responsif secara emosional dapat terbiasa memperhatikan kondisi hati orang lain demi menghindari konflik. Mereka belajar menyesuaikan diri dan mengesampingkan kebutuhan pribadi agar lingkungan di sekitarnya statis nyaman.

Kebiasaan tersebut bisa terbawa hingga dewasa. Mereka mungkin selalu bersedia memenuhi permintaan orang lain meskipun sedang kelelahan maupun memiliki kepentingan sendiri.

Ketika mencoba memprioritaskan dirinya, mereka justru merasa bersalah. Jika terus berlangsung, kebiasaan ini dapat membikin mereka merasa terkuras dan kesulitan memahami kebutuhan pribadinya.

Itu dia, Bunda, delapan kebiasaan yang mungkin terbawa hingga dewasa pada anak yang dibesarkan oleh orang tua minim empati.

Hal ini bisa menjadi pengingat bagi orang tua untuk selalu mendengarkan emosi anak, memberikan sokongan emosional, dan membikin mereka merasa terlindungi untuk mengekspresikan diri. 

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads