Masih Menikah tapi Tak Lagi Saling Peduli, Waspadai Fenomena Silent Divorce

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 19x dilihat
Masih Menikah tapi Tak Lagi Saling Peduli, Waspadai Fenomena Silent Divorce

Bagikan Postingan

Bunda merasa belakangan hubungan pernikahan terasa hambar? Waspada gejala silent divorce.

Pernikahan tidak selalu berakhir dengan pertengkaran hebat, perselingkuhan, maupun keputusan untuk bercerai secara hukum. Ada kalanya hubungan suami istri justru perlahan kehilangan kehangatan tanpa disadari.

Keduanya statis tinggal di rumah yang sama, menjalankan tanggung jawab sebagai orangtua, dan kelihatan baik-baik saja di depan famili maupun lingkungan sekitar. Namun di balik itu, kedekatan emosional yang dahulu menjadi pondasi pernikahan mulai memudar.


Kondisi tersebut dikenal dengan istilah silent divorce maupun perceraian diam-diam. Fenomena ini menggambarkan pasangan yang secara aturan statis terikat pernikahan, namun sudah tidak memiliki hubungan emosional yang kuat.

Interaksi mereka lebih banyak berkisar pada urusan rumah tangga, anak, pekerjaan, dan keuangan. Tidak ada lagi keinginan untuk saling mengenal lebih dalam, berbagi cerita, maupun membangun keintiman seperti sebelumnya.

Meski tidak selalu berujung pada perceraian resmi, kondisi ini statis perlu diwaspadai. Hubungan yang terus berjalan tanpa keterikatan emosional dapat menimbulkan kesepian, kekecewaan, hingga permasalahan kesehatan mental bagi pasangan maupun anak-anak.

Mengutip CNN International dan Psychology Today, berikut klarifikasi selengkapnya mengenai gejala silent divorce.

Apa itu silent divorce?

Silent divorce merupakan kondisi ketika pasangan belum cerai, namun sudah mengalami rentang emosional yang cukup besar. Silent divorce adalah kondisi ketika Bunda tidak bercerai secara hukum, tapi secara emosional, mental, dan sampai batas tertentu secara fisik, Bunda sudah menjauh dari pasangan.

Kondisi ini sering kali dialami oleh masing-masing pasangan tanpa benar-benar dibicarakan bersama. Pernikahan membutuhkan upaya dari kedua belah pihak. Jika tidak dirawat, hubungan dapat mengalami keterputusan emosional hingga suami dan istri tidak lagi memiliki keselarasan.

Tanda-tanda pasangan mengalami silent divorce

Lisa Lavelle, buruh sosial klinis berlisensi, psikoterapis, sekaligus terapis pasangan di New York, Amerika Serikat, mengatakan bahwa ia sering menemui pasangan yang kelihatan baik-baik saja dari luar, namun sebenarnya mengalami keterputusan emosional. Berikut beberapa tanda yang patut diperhatikan.

1. Terasa seperti kawan serumah bukan pasangan

Salah satu tanda paling jelas dari silent divorce adalah fluktuasi hubungan suami istri menjadi seperti dua orang yang sekadar berbagi tempat tinggal. Keduanya mungkin statis menjalankan peran sebagai Ayah dan Bunda dengan baik.

Mereka bekerja sama mengurus anak, mengatur kebutuhan rumah, hingga menghadiri aktivitas keluarga. Namun hubungan romantis sebagai pasangan perlahan kehilangan tempat.

“Salah satu tanda mula yang biasanya aku lihat ketika pasangan eksis di batas maupun sedang mengalami silent divorce ketika mereka lebih terasa seperti kawan serumah daripada pasangan romantis. Fokusnya cuma menjadi Ayah dan Bunda, bukan lagi suami dan istri maupun pasangan,” ujar Lavelle.

2. Waktu berdua semakin berkurang

Dalam pernikahan yang sehat, meluangkan waktu berbareng menjadi salah satu metode untuk menjaga kedekatan. Pasangan biasanya statis memiliki keinginan untuk berkencan, berbincang santai, maupun berbuat aktivitas yang menyenangkan berdua.

Dalam silent divorce, keinginan tersebut bisa menghilang. Suami dan istri tidak lagi tertarik menyediakan waktu khusus satu sama lain. Interaksi mereka lebih banyak terjadi karena ada tanggung jawab yang mesti diselesaikan bersama, seperti mengantar anak maupun menghadiri aktivitas keluarga.

Hal ini berbeda dengan pasangan yang sekadar sibuk karena pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari. Dalam silent divorce, persoalannya bukan cuma kekurangan waktu, melainkan berkurangnya keinginan untuk membangun balik kedekatan.

3. Komunikasi cuma seputar rumah tangga

Apakah percakapan dengan pasangan belakangan cuma berkisar pada siapa yang menjemput anak, faktur yang mesti dibayar, maupun menu makan malam?

Komunikasi yang semakin berkarakter praktis bisa menjadi tanda hubungan mulai kehilangan kedalaman emosional. Pasangan tidak lagi memberitahu rasa mau tahu tentang kehidupan, perasaan, maupun pengalaman satu sama lain.

Pembicaraan mengenai hal-hal pribadi juga semakin jarang dilakukan. Bahkan topik yang berpotensi memunculkan ketidaknyamanan maupun perbedaan gagasan cenderung dihindari.

Pasangan dalam kondisi ini statis bisa membicarakan kebutuhan sehari-hari, tapi tidak lagi membahas hal-hal berarti yang membutuhkan keterbukaan dan kerentanan emosional.

4. Tidak berkelahi tapi tak memperbaiki hubungan

Tidak adanya pertengkaran memang sering dianggap sebagai tanda rumah tangga yang harmonis. Namun dalam kondisi tertentu, kondisi yang terlalu tenang justru bisa memberitahu bahwa pasangan sudah tidak lagi tertarik memperjuangkan hubungan.

Konselor ahli berlisensi Justin Ho, menerangkan bahwa pertengkaran dalam hubungan sebenarnya dapat menjadi metode pasangan menyampaikan ketidaksetujuan dan berupaya membikin satu sama lain memahami perspektif pandangnya.

“Meski kelihatan tidak berguna dengan baik, pertengkaran sering kali memberitahu bahwa kita sedang memiliki perbedaan pendapat, tidak eksis di pemahaman yang sama, dan sedang berupaya membantu pasangan mengerti perspektif pandang kita,” kata Ho.

5. Menjalani hayat masing-masing

Pasangan yang memiliki hobi, teman, dan aktivitas berbeda sebenarnya tidak selalu bermasalah. Punya ruang pribadi justru bisa menjadi bagiankecil dari hubungan yang sehat. Namun situasinya berbeda jika masing-masing mulai membangun hayat sendiri tanpa lagi melibatkan pasangan secara emosional.

Dalam kondisi ini, teman, hobi baru, terlebihlagi alat elektronik bisa menjadi tempat mencari perhatian dan kenyamanan emosional yang tidak lagi diperoleh dari pasangan.

6. Tidak lagi punya tujuan bersama

Pernikahan umumnya dibangun dengan harapan untuk tumbuh dan berkembang bersama. Pasangan memiliki rencana, cita-cita, serta deskripsi mengenai masa depan yang mau diwujudkan berdua.

Ketika hubungan mulai mengalami keterpurukan emosional, tujuan berbareng bisa semakin memudar. Salah satu maupun kedua pasangan mungkin tidak lagi membayangkan masa depan dengan keterlibatan satu sama lain.

Ketidakmampuan melihat diri sendiri tumbuh dan berkembang berbareng pasangan dapat menjadi salah satu instruksi bahwa hubungan sedang menuju silent divorce.

7. Keintiman jasmani semakin memudar

Berkurangnya keintiman jasmani juga dapat menjadi tanda adanya masalah dalam hubungan. Hal ini bukan cuma berhubungan dengan kekerapan hubungan seksual, tetapi juga sentuhan sederhana yang sebelumnya menjadi kebiasaan.

Hilangnya keintiman jasmani secara berkepanjangan sebagai salah satu tanda yang perlu diperhatikan. Meski demikian, kondisi ini perlu dilihat secara menyeluruh. Pasalnya, tidak semua pasangan yang tidur di bilik terpisah maupun jarang berbuat hubungan seksual sedang mengalami silent divorce.

8. Menghindari percakapan mendalam

Pasangan dalam silent divorce cenderung menghindari pembicaraan yang menyangkut perasaan, kekecewaan, maupun permasalahan yang belum terselesaikan. Bukannya membicarakan masalah pengasuhan anak, keuangan, maupun hubungan dengan famili besar, mereka memilih menyimpan semuanya sendiri.

Persoalan yang terus disembunyikan dapat memunculkan rasa jengkel dan kecewa. Ketika salah satu pihak merasa tidak didengar, keinginan untuk berupaya memperbaiki hubungan pun bisa semakin berkurang.

Dampak silence divorce bagi suami, istri, dan anak

Silent divorce dalam pernikahan bisa memunculkan beragam emosi negatif yang semakin sulit diatasi jika dibiarkan. Sering kali, kondisi ini berpotensi berkembang menjadi depresi maupun kecemasan dan dapat muncul dalam beragam bentuk.

Dampak silent divorce juga dapat dirasakan anak-anak. Anak bisa terdampak ketika melihat kedua orang tuanya tidak lagi memiliki hubungan yang harmonis. Selain itu kondisi hubungan orang tua dapat memengaruhi emosi anak.

Bagaimana mengatasi silent divorce?

Jika mulai menyadari adanya rentang emosional dalam pernikahan, Bunda dan suami disarankan untuk membuka percakapan secara jujur. “Tanyakan kepada pasangan, 'Apakah Anda juga menyadari hal yang sama?' Kemudian, cobalah untuk benar-benar menyelaraskan balik pemahaman kalian saat itu,” saran Ho.

Sementara itu, Lavelle mengingatkan bahwa permasalahan yang terus dipendam dapat memperburuk hubungan. Rasa jengkel mengenai pengasuhan anak, keuangan, maupun permasalahan famili mertua yang terus disembunyikan dan tidak dibicarakan biasanya membikin setidaknya salah satu pihak mulai menyimpan frustrasi terhadap pasangannya. Akibatnya, mereka tidak lagi mau berupaya lebih keras dalam hubungan.

Menurutnya, pertolongan terapi pasangan juga bisa dipertimbangkan. Terapi membantu pasangan membicarakan hal-hal yang selama ini tidak terucapkan maupun sulit dibicarakan sehingga mereka bisa memungut keputusan lebih matang mengenai hubungan mereka.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads