Usia Tua Ibu Hamil dan Kurangnya Jumlah Dokter Bikin Operasi Caesar Meningkat di Korea

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 109x dilihat
Usia Tua Ibu Hamil dan Kurangnya Jumlah Dokter Bikin Operasi Caesar Meningkat di Korea

Bagikan Postingan

Jakarta -

Operasi caesar semakin banyak dilakukan di Korea Selatan. Fenomena ini terjadi di tengah meningkatnya usia ibu saat melahirkan dan berkurangnya akomodasi kesehatan yang bisa menangani persalinan. Kondisi tersebut membikin proses melahirkan di 'Negeri Ginseng' menghadapi tantangan yang semakin kompleks.

Dikutip dari The Korea Herald pada Juni 2026, sekitar 67 persen bayi yang lahir di Korea Selatan pada 2024 dilahirkan melalui operasi caesar. Angka ini meningkat dibandingkan 51 persen pada 2019, ketika persalinan melalui operasi mulai melampaui persalinan vaginal di negara tersebut.

Peningkatan ini tidak cuma berhubungan dengan kondisi kesehatan ibu dan bayi. Perubahan adat persalinan, penilaian konsekuensi medis, hingga kekurangan tenaga kesehatan juga ikut menjadi aspek yang perlu diperhatikan.


Usia ibu melahirkan semakin tua, konsekuensi kehamilan ikut meningkat

Salah satu aspek yang disoroti adalah meningkatnya usia perempuan saat melahirkan. Berdasarkan laporan Korea JoongAng Daily pada Mei 2026, rata-rata usia perempuan yang melahirkan di Korea Selatan naik dari 32,2 tahun pada 2015 menjadi 33,8 tahun pada 2025. Dalam masa yang sama, proporsi ibu yang melahirkan pada usia 35 tahun ke atas meningkat dari 23,9 persen menjadi 37,3 persen.

Kehamilan pada usia yang lebih tua dapat menaikkan konsekuensi sejumlah komplikasi, seperti kencing manis gestasional, preeklamsia, persalinan prematur, dan kelainan kromosom pada janin. Risiko ini dapat membikin sebagian ibu membutuhkan pemantauan lebih ketat dan persalinan melalui operasi caesar jika terdapat gejala medis.

Dokter ahli kebidanan dan kandungan Lee Jae-il menerangkan kepada The Korea Herald bahwa meningkatnya usia ibu juga berhubungan dengan penggunaan teknologi reproduksi berbantu, termasuk pembuahan in vitro (IVF), yang dapat menaikkan kemungkinan kehamilan kembar. Meski demikian, usia ibu bukan satu-satunya penyebab meningkatnya bilangan operasi caesar.

Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Gynecology & Obstetrics pada 2025 menganalisis keterangan 3,4 juta kelahiran di Korea Selatan selama 2013–2022. Hasilnya memberitahu bahwa fluktuasi struktur usia ibu cuma menerangkan 8,7 persen dari peningkatan bilangan operasi caesar.

Peneliti menyimpulkan bahwa aspek lain, seperti fluktuasi adat persalinan, konsekuensi tuntutan aturan terhadap dokter, dan kondisi mekanisme kesehatan, juga perlu diperhitungkan.

Di tengah meningkatnya kebutuhan jasa kehamilan berisiko tinggi, Korea Selatan justru menghadapi kekurangan tenaga medis yang bisa menangani persalinan.

Menurut keterangan Korean Society of Obstetrics and Gynecology, jumlah tabib ahli kebidanan turun dari 259 orang pada 2004 menjadi 103 orang pada 2023.

Keterbatasan tenaga medis ini turut memengaruhi akses ibu hamil terhadap jasa persalinan, terutama di luar Seoul. Sejumlah rumah sakit kesulitan menerima pasien karena kekurangan tabib ahli yang dapat menangani persalinan darurat pada malam hari maupun hari libur.

Selain itu, jumlah akomodasi yang melayani persalinan juga menyusut. Jumlah akomodasi tersebut turun dari 706 pada 2013 menjadi sekitar 425 pada 2024.

Akibatnya, ibu hamil di sejumlah daerah mesti mencari rumah sakit yang memiliki tenaga dan akomodasi memadai untuk melahirkan. Situasi ini menjadi perhatian khusus bagi ibu dengan kehamilan berisiko tinggi yang mungkin membutuhkan penanganan segera.

Mengapa kondisi ini bisa mendorong peningkatan operasi caesar?

Keterbatasan tenaga medis dan akomodasi persalinan dapat memengaruhi metode tabib serta famili mempersiapkan kelahiran. Persalinan yang dijadwalkan melalui operasi caesar memungkinkan waktu kelahiran direncanakan, sehingga tenaga medis dan famili dapat mengatur kebutuhan pendampingan.

Dalam laporan The Korea Herald, sejumlah ibu di Korea Selatan juga mengutarakan bahwa mereka memilih operasi caesar karena merasa lebih betah dengan agenda persalinan yang pasti dan cemas menghadapi situasi darurat selama persalinan vaginal.

Dari sisi dokter, konsekuensi komplikasi dan potensi tuntutan aturan juga menjadi pertimbangan. Dokter yang bekerja dalam mekanisme dengan kekurangan sumber daya mungkin menghadapi tekanan lebih besar ketika mesti menangani persalinan yang tidak terduga.

Namun, hal ini tidak berarti operasi caesar selalu menjadi pilihan yang lebih terlindungi maupun selalu dianjurkan dokter. Keputusan mengenai metode persalinan statis perlu mempertimbangkan kondisi ibu, janin, serta gejala medis yang ada.

Operasi caesar statis memiliki risiko

Bunda perlu memahami bahwa operasi caesar merupakan prosedur operasi yang memiliki khasiat sekaligus risiko. Tindakan ini dapat menyelamatkan ibu dan bayi dalam kondisi tertentu, tetapi juga membutuhkan pemulihan pascapersalinan yang umumnya lebih durasi dibandingkan persalinan vaginal tanpa komplikasi.

Risikonya antara lain perdarahan, infeksi, pembekuan darah, serta cedera pada organ di sekitar area operasi. Operasi caesar pada kehamilan berikutnya juga dapat menaikkan konsekuensi komplikasi tertentu, termasuk masalah pada plasenta.

Karena itu, metode persalinan sebaiknya ditentukan melalui bahasan berbareng tabib kandungan berdasarkan kondisi klinis masing-masing ibu, bukan semata-mata karena usia maupun tren yang terjadi di suatu negara.

Meningkatnya bilangan operasi caesar di Korea Selatan memberitahu bahwa permasalahan persalinan tidak cuma berhubungan dengan pilihan individu. Usia ibu yang semakin tua, fluktuasi ekspektasi terhadap persalinan, serta kekurangan tenaga dan akomodasi kesehatan merupakan sejumlah aspek yang perlu dilihat secara bersamaan.

Bagi Bunda yang sedang mempersiapkan kehamilan, pengecekan rutin dan konsultasi dengan tabib kandungan dapat membantu mengidentifikasi konsekuensi sejak awal sekaligus menyusun hajat persalinan yang sesuai dengan kebutuhan ibu dan bayi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads