Kecerdasan emosional alias emotional quotient (EQ) merupakan keahlian seseorang untuk mengenali, memahami, dan mengelola emosi, baik emosi sendiri maupun orang lain.
Kemampuan ini berkedudukan krusial dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang di sekitar. Sebaliknya, mereka dengan EQ rendah sering kali kesulitan mengendalikan emosi, menghadapi tekanan, hingga menjaga hubungan sosial.
Tanpa disadari, perihal tersebut dapat terlihat dari kebiasaan mereka saat berinteraksi dengan orang lain. Menurut psikolog klinis berlisensi, Dr. Whitley Lassen, ada beberapa kebiasaan sosial yang dapat menjadi tanda seseorang mempunyai EQ rendah.
Meski begitu, kondisi tersebut bukan berfaedah seseorang tidak baik alias belum dewasa, melainkan bisa dipengaruhi oleh beragam aspek dalam hidupnya.
Penyebab EQ rendah
Dilansir Parade, salah satu aspek yang dapat menyebabkan orang dengan EQ rendah adalah gimana pola pengasuhan dan contoh jelek dalam menangani emosinya saat tetap kecil.
Selain itu, kepintaran emosional yang rendah juga dapat dikaitkan dengan perbedaan perkembangan saraf, seperti autisme alias ADHD. Lebih lanjut, beberapa kondisi kesehatan mental dapat membikin seseorang tampak tidak peka secara emosional.
“Stres, depresi, kecemasan, alias trauma dapat mengganggu kepintaran emosional seseorang dan memengaruhi apakah seseorang mempunyai kepintaran emosional rendah yang terjadi berbarengan dengan masalah kesehatan mental,” ujar Lassen.
4 Kebiasaan sosial orang dengan EQ rendah yang dapat Bunda kenali
Lassen mengatakan ada empat kebiasaan bersosialisasi yang dapat Bunda kenali dari orang dengan EQ rendah. Berikut di antaranya:
1. Kurang bisa berempati
Menurut Lassen, salah satu tanda orang dengan EQ rendah adalah mempunyai empati yang kurang terhadap orang lain.
“Ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional alias kecemasan, mereka terkadang kesulitan memahami maupun memberikan support kepada orang lain yang juga sedang merasakan emosi,” ujarnya.
Kondisi ini dapat terlihat dari sikap mereka yang kurang merespons saat diajak berbicara, condong menarik diri, menutup diri ketika membahas hal-hal emosional, alias tampak tidak tertarik dengan emosi orang lain.
2. Defensif
Ketika orang yang sangat sensitif merasa kewalahan, mereka condong bersikap defensif, dan peningkatan sikap melindungi dapat menjadi parameter EQ yang rendah.
“Saat bekerja dengan pasien yang mengalami indikasi depresi alias kecemasan, mereka sering datang kepada saya dengan emosi malu lantaran mereka sendiri,” tutur Lassen.
Hal ini dapat menyebabkan menerima umpan kembali menjadi sangat berat, yang mungkin terkesan sebagai seseorang yang terlalu sensitif.
3. Membentak orang lain
Orang dengan EQ rendah mungkin condong lebih mengalami kesulitan dalam mengatur emosinya.
“Jika seseorang merasakan kesedihan, marah, cemas, rasa bersalah, malu, alias kewalahan yang mendalam, perihal itu dapat menyebabkan mereka membentak kawan alias orang yang mereka sayangi,” ujarnya.
Bagi seseorang dengan EQ rendah, ini bisa jadi akibat dari sikap melindungi alias hanya tertarik pada perspektif mereka sendiri tentang suatu masalah.
4. Kurang tertarik berinteraksi dengan orang lain
Menurut Lassen, orang dengan EQ rendah sering kali terlihat kurang antusias untuk menjaga percakapan dengan kawan alias keluarga.
Mereka juga condong menolak rayuan berkumpul alias enggan terlibat dalam kegiatan sosial lantaran merasa tidak tertarik alias tidak mempunyai motivasi.
Namun, Lassen menegaskan bahwa kebiasaan tersebut tidak selalu menandakan EQ yang rendah. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga bisa menjadi tanda seseorang sedang mengalami kekhawatiran (anxiety) alias depresi.
Nah, itulah beberapa langkah mengenali orang dengan kepintaran emosional (EQ) rendah yang dapat Bunda ketahui. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·