Ciri-Ciri Ibu Hamil Terpapar Mikroplastik, Apakah Berbahaya?

Ciri-Ciri Ibu Hamil Terpapar Mikroplastik, Apakah Berbahaya?

Jakarta -

Zaman sekarang rasanya semakin banyak ditemukan mikroplastik di lingkungan, mulai dari air, makanan hingga udara yang dihirup. Lantas, apakah ada ciri-ciri unik yang menunjukkan ibu mengandung telah terpapar mikroplastik?

Penelitian menemukan partikel mikroplastik dan nanoplastik (MNP) di beragam bagian tubuh manusia. Namun, sampai saat ini belum ada indikasi alias tanda unik yang dapat digunakan untuk memastikan ibu mengandung sudah terpapar alias mengalami gangguan kesehatan akibat mikroplastik. 

Penelitian mengenai dampaknya terhadap kesehatan manusia, termasuk kehamilan dan perkembangan janin, tetap terus berlangsung.


Apa itu mikroplastik dan nanoplastik?

Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil. Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), mikroplastik berukuran antara 1 nanometer hingga 5 milimeter.

Mikroplastik dapat berasal dari beragam produk dan kegiatan sehari-hari, seperti pembungkus plastik, wadah makanan, busana berbahan poliester, ban kendaraan, cat, dan rumput sintetis.

Partikel yang terbentuk akibat pecahnya alias terurainya produk plastik berukuran lebih besar ini dikenal sebagai mikroplastik sekunder.

Partikel mikroplastik juga dapat mencemari lingkungan dan masuk ke dalam rantai makanan sehingga berpotensi ditemukan pada makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Sementara itu, nanoplastik berukuran jauh lebih kecil, ialah dalam skala nanometer. Mikroplastik dan nanoplastik kemudian sering disebut secara berbarengan sebagai MNP (microplastics and nanoplastics).

MNP dapat tersebar di lingkungan dan masuk ke dalam tubuh manusia. Paparan dapat terjadi melalui beragam jalur, termasuk makanan dan minuman yang terkontaminasi serta udara yang mengandung partikel plastik.

Namun, ditemukannya mikroplastik di dalam tubuh tidak otomatis berfaedah seseorang bakal mengalami penyakit. Para peneliti tetap berupaya memahami seberapa besar paparan yang dapat menimbulkan pengaruh kesehatan serta gimana partikel tersebut dapat memengaruhi tubuh.

Mikroplastik ditemukan di plasenta

Salah satu yang menjadi perhatian peneliti adalah ditemukannya mikroplastik di plasenta manusia. Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada 2024 menganalisis 62 sampel plasenta manusia dan menemukan mikroplastik pada seluruh sampel yang diperiksa.

Plasenta merupakan organ krusial selama kehamilan yang berkedudukan dalam pertukaran unsur antara ibu dan janin. Karena itu, ditemukannya MNP di dalam plasenta menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan dampaknya terhadap kehamilan dan perkembangan janin.

Namun, temuan mikroplastik di dalam plasenta belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa mikroplastik menyebabkan gangguan pada kehamilan. Peneliti tetap mempelajari apakah jumlah mikroplastik tertentu di plasenta berangkaian dengan hasil kehamilan tertentu, termasuk kelahiran prematur.

Dalam artikel Science Friday, Dr. Enrico Barrozo dari Baylor College of Medicine menekankan pentingnya berhati-hati dalam menafsirkan temuan tersebut. Keberadaan partikel plastik di jaringan manusia merupakan temuan yang perlu diteliti lebih lanjut, tetapi belum otomatis membuktikan bahwa partikel tersebut menyebabkan gangguan kesehatan.

“Pada dasarnya, ini adalah titik jumpa antara ibu dan janin,” ujar Barrozo.

Apakah mikroplastik bisa mencapai janin?

Dengan banyaknya pemberitaan mengenai mikroplastik, pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul pada ibu mengandung adalah apakah mikroplastik yang berada di dalam tubuh ibu dapat melewati plasenta dan mencapai janin.

Penelitian pada hewan memberikan sejumlah petunjuk. Tim Dr. Phoebe Stapleton dari Rutgers University menemukan bahwa nanoplastik polistirena yang dihirup tikus dapat menembus penghalang pada plasenta yang memisahkan sirkulasi darah ibu dan janin.

Penelitian lain pada hewan juga menemukan perubahan pada pertumbuhan anak setelah paparan mikroplastik dalam jumlah tinggi. Namun, hasil penelitian pada hewan tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi pada manusia.

Para peneliti tetap memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui gimana MNP bergerak di dalam tubuh manusia, apakah partikel tersebut dapat mencapai janin dalam jumlah yang dapat menimbulkan dampak, serta apakah paparan tersebut betul-betul menyebabkan gangguan kesehatan tertentu.

Apakah ada karakter kehamilan yang terpapar mikroplastik?

Ini bagian yang krusial untuk dipahami. Belum ada ciri-ciri unik yang dapat digunakan ibu mengandung untuk mengetahui bahwa dirinya telah terpapar mikroplastik alias mengalami gangguan kesehatan akibat paparan tersebut.

Keluhan seperti mual, lelah, sakit kepala, perubahan berat badan, alias beragam keluhan umum selama kehamilan tidak dapat dianggap sebagai tanda paparan mikroplastik.

Begitu pula hasil pemeriksaan kehamilan tertentu tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa suatu kelainan disebabkan mikroplastik.

Saat ini, penelitian mengenai mikroplastik pada manusia tetap menghadapi beragam keterbatasan. Salah satunya adalah belum adanya standardisasi metode yang memungkinkan mikroplastik dan nanoplastik dideteksi serta diukur dengan langkah yang sama di beragam penelitian.

Kontaminasi selama proses penelitian juga menjadi persoalan lantaran plastik digunakan pada banyak perlengkapan laboratorium. Karena itu, para peneliti perlu mengendalikan dan mengukur kontaminasi lingkungan penelitian untuk memastikan bahwa partikel yang ditemukan memang berasal dari sampel yang diteliti, bukan dari proses pemeriksaan.

Apakah mikroplastik bisa memengaruhi pertumbuhan janin?

Sejumlah penelitian sedang memandang kemungkinan hubungan antara paparan MNP dan perkembangan janin.

Pada hewan, paparan mikroplastik kadar tinggi dikaitkan dengan ukuran anak yang lebih kecil. Peneliti menduga perihal ini mungkin terjadi lantaran paparan MNP dapat membikin plasenta mengalami stres dan kemudian memengaruhi metabolisme glukosa yang dibutuhkan untuk pertumbuhan janin.

Namun, penelitian tersebut tetap berada pada tahap awal dan temuannya tetap perlu diteliti lebih lanjut.

Sementara itu, pada manusia, peneliti juga mulai memandang kemungkinan hubungan antara konsentrasi plastik di plasenta dan kelahiran prematur. Namun, temuan seperti ini menunjukkan hubungan alias asosiasi, bukan otomatis membuktikan bahwa mikroplastik merupakan penyebab kelahiran prematur.

Penelitian tersebut juga tetap berada pada tahap awal dan temuannya tetap perlu diteliti lebih lanjut dengan metode yang lebih kuat untuk mengetahui apakah paparan mikroplastik betul-betul dapat memengaruhi pertumbuhan janin alias meningkatkan akibat komplikasi kehamilan tertentu.

Haruskah Bunda khawatir?

Ibu mengandung cemas dengan mikroplastik itu wajar, terutama penelitian terus menemukan keberadaan partikel tersebut di lingkungan dan tubuh manusia. Para peneliti yang diwawancarai Science Friday juga mengingatkan agar calon orang tua tidak sampai mengalami kekhawatiran berlebihan.

Salah satu alasannya, paparan mikroplastik saat ini sangat susah dihindari sepenuhnya. Plastik digunakan dalam makanan, kemasan, peralatan rumah tangga, lingkungan kerja, hingga beragam produk sehari-hari.

Untuk itu, tujuan yang lebih realistis adalah mengurangi paparan yang bisa dikurangi, bukan berupaya menghilangkan seluruh plastik dari kehidupan sehari-hari.

Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain menghindari memanaskan makanan alias minuman menggunakan wadah plastik yang tidak dirancang untuk pemanasan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai jika memungkinkan, serta menggunakan wadah berbahan lain seperti kaca alias stainless steel untuk menyimpan makanan dan minuman.

Langkah-langkah tersebut sebaiknya dipahami sebagai upaya kehati-hatian, bukan sebagai langkah yang sudah terbukti dapat mencegah gangguan kehamilan akibat mikroplastik.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI.

(pri/pri)

Selengkapnya
Sumber Portal Kesehatan Ibu dan Anak
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting