Dari Kayu Siwak hingga Syair Cinta, Beginilah Sayyidina Ali Memuliakan FatimahKincai Media– Sering kali, lembaran sejarah mencatat para tokoh besar peradaban hanya melalui deret pertempuran, pidato politik, alias ketegasan doktrinal. Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah, misalnya, senantiasa dikenang sebagai sang pahlawan perkasa, Asadullah (Singa Allah) yang tebasan pedang Zulfiqar-nya menggentarkan musuh-musuh di Perang Badr, Uhud, dan Khaybar.
Beliau adalah sosok pemberani yang tidak pernah melangkah mundur selangkah pun di medan laga. Namun, sejarah Islam tidak pernah dibangun di atas tembok pualam yang dingin tanpa jiwa. Di kembali zirah besi dan ketangkasan perang yang legendaris, tersimpan relung hati yang banget lembut, puitis, dan penuh kehangatan manusiawi.
Salah satu bagian paling bagus yang mengabadikan kelembutan jiwa Sayyidina Ali terekam dalam literatur klasik Islam. Ketika sang pahlawan perkasa yang tak pernah gentar menghadapi ribuan musuh di medan pertempuran, justru bersimpuh tunduk oleh rasa berprasangka yang menggemaskan kepada barang mati: sebatang kayu siwak mini yang menyentuh bibir sang istri tercinta, Sayyidah Fatimah az-Zahra ra.
Kisah ini bukan sekadar anekdot ringan, melainkan jendela lebar yang menyingkap keelokan estetika rumah tangga dalam Islam: sebuah ruang di mana spiritualitas, keperkasaan, dan romantisme berjalin secara sempurna.
Jejak Literatur Klasik dan Pesona Linguistik Syair
Kisah yang begitu intuitif dan menggetarkan ini diabadikan oleh ustadz besar Mazhab Syafi’i, Syekh Ibrahim al-Bajuri, dalam kitab monumental beliau, “Hasyiyah al-Bajuri ala Fath al-Qarib” (Jilid 1, Halaman 42).
Saat membahas bab siwak dan kebersihan murni, Syekh al-Bajuri tidak hanya menyajikan hukum-hukum fikih yang kaku, melainkan menyelinginya dengan riwayat kebudayaan dan sastra yang memperkaya jiwa pembaca.
Diriwayatkan bahwa suatu hari, Sayyidina Ali masuk ke dalam kediamannya dan mendapati putri tercinta Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah, sedang bersiwak, membersihkan gigi dan bibirnya dengan cabang mini dari pohon Arak.
Menyaksikan pemandangan yang begitu intim dan memesona tersebut, terbitlah gejolak kasih dan rasa berprasangka puitis (ghirah) dalam dada Sayyidina Ali. Beliau tidak menunjukkannya dengan kemarahan alias amukan, melainkan melantunkan bait-bait puisi spontan yang banget elegan:
وروى أن سيدنا عليا كرم الله وجهه رأى السيدة فاطمة تستاك فقال
حظیت یا عود الأراك بثغرها # ما خفت يا عود الأراك أراكا
“Tidakkah engkau takut kepadaku, wahai kayu siwak dari pohon Arak, saat saya melihatmu? Sungguh engkau telah beruntung mendapatkan keelokan bibir dan giginya.”
لو كنت من أهل القتال قتلتك # ما فاز مني يا سواك سواكا
“Tiada yang lebih beruntung darimu, wahai siwak, dalam memperoleh kedekatan dengannya melampaui diriku. Seandainya engkau termasuk makhluk yang dapat diajak berperang, niscaya saya telah membunuhmu.”
Secara estetika bahasa, bait-bait ini merupakan puncak keelokan sastra Arab klasik. Sayyidina Ali menggunakan teknik tawriyah (permainan kata berarti ganda) yang sangat halus. Kata “udal-arak” (kayu pohon Arak) disandingkan dengan kata “araka” (aku melihatmu), menciptakan rima internal yang banget merdu.
Di sisi lain, penggunaan majas personifikasi (mengajak bicara sebatang kayu seolah-olah dia adalah pesaing asmara yang bernyawa) menunjukkan sungguh tingginya kadar rasa cinta, romantisme, dan lawakintelektual yang dimiliki oleh pangeran para penyair tersebut.
Mengurai Dinamika Ghirah: Cemburu sebagai Senjata Cumbu Rayu
Dalam pandangan masyarakat modern, kata “cemburu” seringkali diasosiasikan dengan rasa berprasangka yang toksik, sikap pencemburu yang mengekang, alias apalagi kekerasan emosional. Namun, dalam tradisi kesadaran Islam, ghirah (rasa berprasangka yang proporsional) adalah manifestasi dari kehormatan, penjagaan, dan dalamnya rasa kasih sayang.
Cemburu Sayyidina Ali kepada kayu siwak adalah corak berprasangka muda’abah, yaitu senda gurauan dan cumbu rayu yang melahirkan kehangatan rumah tangga. Beliau tentu tahu bahwa kayu siwak tidak mempunyai akal, perasaan, maupun niat.
Namun, dengan menakut-nakuti bakal “membunuh” kayu siwak jika dia termasuk golongan yang bisa diajak berduel (law kunta min ahlil-qitali qataltuka), Sayyidina Ali sedang memuji Sayyidah Fatimah secara tidak langsung melalui hiperbola puitis.
Beliau menyampaikan pesan tersirat yang banget dalam: “Engkau begitu mulia, berharga, dan bagus wahai Fatimah, hingga barang meninggal sekalipun yang berani menyentuh bibirmu membikin hatiku cemburu.”
Ini adalah ekspresi cinta tingkat tinggi. Beliau tidak mengekang kewenangan istrinya, tidak pula memandangnya dengan kecurigaan. Sebaliknya, beliau memanjakan telinga dan jiwa Sayyidah Fatimah dengan ungkapan puitis yang melangit.
Di sini kita menyaksikan gimana rasa cemburu, jika dikelola oleh jiwa yang agung, tidak berubah menjadi racun yang merusak, melainkan menjadi bahan bakar romantisme yang mempererat ikatan pernikahan.
Sisi Humanis Figur Suci dan Metamorfosis Keperkasaan
Ada kecenderungan dalam sebagian kalangan masyarakat untuk memimpin pemahaman keagamaan menuju langkah pandang yang kaku, serba dingin, dan kehilangan sisi kemanusiaannya.
Tokoh-tokoh Ahlul Bait dan para sahabat kerap digambarkan seakan-akan mereka adalah manusia tanpa emosi: sosok yang hanya beribadah, berperang, dan bersikap serba umum setiap detik dalam hidupnya.
Tindakan Sayyidina Ali ini meruntuhkan stereotip kaku tersebut. Sebagai menantu Rasulullah SAW dan pintu gerbang pengetahuan pengetahuan (Bab ul-Ilm), Ali bin Abi Thalib mengajarkan bahwa kedalaman spiritualitas tidak pernah bertentangan dengan kelembutan emosional.
Rasulullah SAW sendiri adalah teladan utama dalam memanjakan keluarga. Beliau pernah berlari sigap lomba adu pacu berbareng Sayyidah Aisyah, minum tepat di jejak gigitan bibir istrinya, dan memberikan julukan manis “humaira”. Sayyidina Ali menyerap pendidikan (tarbiyah) emosional tersebut secara sempurna dan menerapkannya dalam mahligai rumah tangganya berbareng Sayyidah Fatimah.
Kehidupan rumah tangga Ali dan Fatimah bukanlah kehidupan yang bergelimang kemewahan materi. Mereka hidup dalam kesederhanaan yang banget bersahaja: menumbuk gandum sendiri hingga telapak tangan membekas, mengangkut air dari sumur hingga dada terasa letih.
Namun, kemiskinan kekayaan sama sekali tidak bisa mengikis kekayaan jiwa dan kehangatan cinta mereka. Bait puisi tentang kayu siwak ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kebahagiaan rumah tangga dibangun di atas fondasi perhatian kecil, tutur kata yang memikat, dan apresiasi terhadap momen-momen intim sehari-hari.
Kayu Siwak: Titik Temu Antara yang Sakral dan yang Profan
Pemilihan objek kayu siwak dalam kisah ini juga mempunyai kedalaman simbolis yang menarik untuk dikaji. Siwak dalam tradisi Islam bukan sekadar perangkat pembersih mulut biasa, melainkan instrumen ibadah yang sangat dianjurkan oleh Nabi SAW untuk menyucikan diri (yurdhi ar-Rabb wa yathahhiru al-fam).
Menariknya, perangkat yang digunakan untuk bersuci dan mendekatkan diri kepada Allah SWT ini justru menjadi “pesaing asmara” bagi Sayyidina Ali. Hal ini memberikan refleksi teologis bahwa dalam Islam, pemisah antara yang sakral (ibadah) dan yang profan (cinta kemanusiaan) sangatlah tipis, apalagi menyatu dengan indah.
Menyenangkan pasangan, bersenda gurau, dan memandang istri dengan puji-pujian tidak pernah terpisah dari konsep ibadah itu sendiri. Kayu siwak menyentuh bibir Sayyidah Fatimah untuk menyempurnakan kesucian fisiknya saat hendak menghadap Allah, sementara ungkapan puisi Sayyidina Ali menyentuh hati Sayyidah Fatimah untuk menyempurnakan kebahagiaan jiwanya. Kedua perihal ini berada dalam satu muara yang sama: pengabdian kepada Sang Maha Cinta.
Relevansi bagi Hubungan Keluarga di Era Modern
Di era modern yang serba cepat, mekanis, dan dipenuhi komunikasi digital yang sering kali sunyi rasa, riwayat singkat dari “Hasyiyah al-Bajuri” ini memberikan tamparan sekaligus penyejuk bagi kehidupan modern. Banyak hubungan suami-istri masa sekarang yang merenggang bukan lantaran ketiadaan materi alias fasilitas, melainkan lantaran keringnya komunikasi puitis dan rasa saling mengagumi.
Berapa banyak dari kita yang tetap bisa mengapresiasi keelokan pasangan melalui tutur kata yang tulus? Berapa banyak pasangan yang bisa mengubah momen sederhana (seperti memandang pasangan sedang merapikan diri, meminum teh, alias sekadar beristirahat) menjadi arena untuk menyampaikan rasa kasih yang mendalam?
Sayyidina Ali mengajarkan para suami untuk tidak pamor mengekspresikan kekaguman. Keperkasaan seorang laki-laki tidak diukur dari sejauh mana dia bisa mendominasi, bersikap dingin, alias menunjukkan kekuasaan di dalam rumahnya.
Sebaliknya, keperkasaan sejati tercermin dari sejauh mana dia bisa melembutkan hatinya, merendahkan egonya, dan menjadi sosok penyair yang hangat di hadapan istrinya.
Syahdan. Rangkaian bait puisi Sayyidina Ali yang diabadikan dalam “Hasyiyah al-Bajuri” bukanlah sekadar peninggalan literatur abad pertengahan yang berdebu. Ia adalah suluh yang menyinari lorong-lorong pemahaman kita tentang makna cinta sejati dalam Islam.
Dari sebatang kayu siwak mini dari pohon Arak, kita belajar sebuah kebenaran abadi: bahwa cinta yang suci tidak pernah malu untuk mengucap kata indah, bahwa ketaqwaan yang tinggi senantiasa berdomisili di dalam hati yang penuh kelembutan, dan bahwa keperkasaan terbesar seorang pahlawan adalah ketika pedangnya yang sanggup membelah musuh, justru tunduk dan luluh di hadapan keelokan senyuman sang kekasih. Wallahu a’lam bishawab.
–
*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.