Di Balik Langkah Berbahaya Israel Ambil Alih Masjid Ibrahimi Hebron

Intisari Islam Jun 17, 2026 08:43 PM 50158

Kincai Media ,JAKARTA — Pemerintah Israel secara sepihak menyatakan bakal mengambil alih kewenangan perencanaan dan pembangunan kawasan Masjid Ibrahimi di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, dari otoritas Palestina. Langkah ini sekaligus membatalkan sebagian poin dari Perjanjian Hebron yang telah disepakati sejak dasawarsa 1990-an.

Menteri Keuangan Israel berpaham ekstremis, Bezalel Smotrich, mengumumkan pada Selasa waktu setempat bahwa dia telah "menghapus" bagian dari Perjanjian Hebron 1997 (Hebron Agreement). Poin yang dihapus tersebut sebelumnya memberikan kewenangan kepada Dewan Kotamadya Palestina di Hebron untuk mengendalikan perencanaan, zonasi, dan pembangunan di Zona H2—wilayah kota yang berada di bawah kendali keamanan Israel.

Para pengamat internasional menggambarkan langkah sepihak Israel ini sebagai keputusan yang "sangat berbahaya". "Selama bertahun-tahun, Hebron telah menjadi kota dengan tingkat ketegangan tertinggi di Tepi Barat," ujar Chris Doyle, Direktur Dewan Rekonsiliasi Arab-Inggris (Council for Arab-British Understanding), kepada Al Jazeera.

"Setiap langkah yang mengubah tatanan yang ada di Hebron demi memperkuat pendudukan Israel adalah tindakan yang sangat berbahaya."

Masjid Ibrahimi: Titik Sakral Tiga Agama

Masjid Ibrahimi, yang terletak di Kota Tua Hebron, merupakan situs suci yang dihormati dalam tiga kepercayaan samawi (Islam, Kristen, dan Yahudi). Tempat ini diyakini sebagai makam Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Ya'qub, beserta istri-istri mereka.

Bagi Umat Yahudi dan Kristen, situs ini dikenal dengan nama Makam alias Gua Para Leluhur (Tomb/Cave of the Patriarchs). Untuk umat Islam, tempat suci ini dibangun menjadi Masjid Ibrahimi (Situs Perlindungan Ibrahim) pada abad ke-14, memperluas tembok luar yang awalnya dibangun oleh Raja Romawi, Herodes, pada abad pertama SM.

Secara historis, kompleks ini kerap menjadi titik amuk kekerasan. Pada 1994, seorang pemukim Yahudi ekstremis berdarah Amerika-Israel melakukan pembantaian dengan menembak meninggal 29 jemaah Muslim yang sedang sholat di dalam masjid, serta melukai 125 orang lainnya.

Selengkapnya